Al Futuhat al Madinah

Oleh: Ahmad Syafi’Mufid

Al Futuhat al Madinah adalah topik imajinasi penulis atas keterbukaan pemahan arti penting eksistensi Madinah. Selama ini pemahamanku tentang Madinah terputus, tidak nyambung dengan Mekkah. Padahal keduanya adalah poros awal dan akhir, poros hamba dan khalifah dalam Islam. Madinah yang saya pahami sebelumnya adalah sebuah kota dari proses dakwah, dan bukan bagian proses kontinuitas kehidupan alam dunia. Madinah tidak saya pahami secara utuh dalam kerangka kehidupan umat manusia yang terikat dengan ruang dan waktu. Didahului renungan atas makna Kaabah dan haji yang sebelumnya telah saya tulis di fb ini. Pemaknaan ini memperoleh inspirasi dari Futuuhat al Makiyah.

Siapa tidak mengenal buku utama Ibnu Arabi “Futuhaat al Makiyah” yang sangat dalam membahas hakikat hubungan manusia dengan Allah. Manusia adalah salah satu emanasi Tuhan yang paling utama, di samping alam semesta sebagai bukti eksistensi-Nya. Siapa manusia dan untuk apa diciptakan? Kitab “Sajaratul Kaun” karya Ibnu Arabi, mengawali pembahasan dengan menyebut hadist Qudsi bahwa Allah menciptakan manusia untuk mengenali-Nya melalui fungsi penghambaan dan kekhalifahan. Dari sinilah kita mengenal siapa manusia dan untuk apa dia diciptakan. Manusia sejarah dimulai dari Mekkah dan kesempurnaannya ada di Madinah ( Adam-Muhammad).

Penghambaan manusia sejak Adam hingga Nabi Ibrahim dirangkum dalam ibadah haji. Thowaf, sa’i, wukuf, mabit di Muzdalifah, melempar jumrah, ifadhah, penyembelihan kurban serta tahalul. Semua ibadat itu berada di Mekkah yang disebut haji. Umat Islam setelah ibadah haji, ziarah ke Madinah.  Ziarah ke makam Muhammad saw. Sebagai penutup para nabi, Muhammad saw adalah satu-satunya nabi yang menyaksikan keberhasilan dakwah.

Skenario ilahiyah, dakwah model Mekkah yang sangat mendasar dilanjutkan di Madinah penting untuk dilihat dan diapresiasi umat manusia. Ada keyakinan yang teruji setelah penghinaan, penindasan, embargo ekonomi terhadap Sang Nabi dan teman-temannya. Modal tauhid dan akhlak menjadi ruh umat Muhammad saw menentukan semua pandangan, sikap dan perbuatan. Hijrah ke Madinah merupakan kreasi ketuhanan yang sukses untuk membangun tatanan keagamaan, kemanusiaan dan peradaban.

Madinah yang sering dimaknai; kota atau peradaban juga berarti tempat hukum-hukum agama dilaksanakan (dien). Peradaban dan agama menjadi satu kesatuan. Agama adalah ruh kehidupan, jasad dan fisiknya adalah peradaban. Dunia adalah tempat menanam, sedang hasilnya, kenikmatan akhirat. Konsepsi dan aplikasi filosofi kehidupan yang berdasar wahyu Allah hanya ada di Madinah al Munawarah. Wahyu dan implementasinya dlm masyarat Madinah dinyatakan telah paripurna oleh Allah sendiri setelah khutbah Wada’ di Arofah (Mekkah). Ketika Rasul wafat, Madinah dipimpin oleh khalifah. Cahaya Madinah menerangi dunia, peradaban dalam bimbingan wahyu membuat umat manusia sejahtera, adil dan beradab. Sejak muncul huru hara politik, Madinah ditinggalkan dan agama digantikan peradaban sekuler. Khalifah berubah menjadi amir, sultan, malik dan presiden.

Apa artinya semua ini? Madinah adalah penanda akhir masa kenabian. Puncak kesempurnaan agama, dan setelah mencapai puncak maka geraknya menuju ke bawah. Kehancuran agama memang bagian dari rencana Allah untuk menutup alam semesta yang terbuka. Setelah Madinah al Munawarah, tiada lagi kota yang diterangi oleh wahyu yang dipimpin oleh seorang nabi. Mekkah adalah awal peradaban dan Madinah adalah akhir. Adam as adalah nabi pertama, sedangkan Muhammad adalah nabi akhir zaman. Huwa al awwalu wal akhir, la ilaaha illallah. Allahu akbar!

Belajar memaknai Mekkah dan Madinah adalah bagian dari mengenali (makrifat) Allah. Semoga catatan perjalanan haji yang ketiga ini menguatkan diri sebagai hamba Allah yang muttaqin dan khalifatullah yang muhlasin.

Madinah, 21 September 2016.