Pernyataan Sikap FKUB DKI Jakarta atas Aksi Bom Bunuh diri di Surabaya

Ketua FKUB DKI Jakarta – KH. Ahmad Syafii Mufid didampingi para pimpinan majelis-majelis agama

(FKUB JAKARTA) Menyikapi aksi bom bunuh diri yang terjadi pada hari minggu 13/5/2018 di Tiga gereja di Surabaya yaitu gereja Santa Maria Takbercela, gereja Pantakosta dan  GKI Jl. Diponegoro.

Forum Kerukunan Kerukunan Umat Beragama Provinsi DKI Jakarta bersama pimpinan majelis-majelis agama dan organisasi sosial keagamaan melakukan pernyataan sikap mengutuk tindakan bom bunuh diri yang menimpa tiga gereja di Surabaya. Kegiatan pernyataan sikap dilakukan di Hotel Sentral Jl. Pramuka Raya – Jakarta Pusat (14/5/2018).

Isi Pernyataan Sikap FKUB Provinsi DKI Jakarta dan tokoh agama serta organisasi kemasyarakatan antara lain:

  1. Sangat menyesalkan dan mengutuk keras segala macam bentuk tindakan kekerasan dengan cara menebarkan teror, kebencian dan kekerasan apapun motifnya karena hal itu bertentangan dengan ajaran agama manapun.
  2. Kami menyampaikan duka cita yang mendalam kepada semua korban kekerasan dan tindak terorisme yang menimpa beberapa gereja di Surabaya. Semoga semua keluarga korban diberikan kekuatan, kesabaran dan ketabahan;
  3. Mendukung penuh upaya dan langkah-langkah aparat keamanan untuk mengusut secara cepat, tepat sampai tuntas segala gerakan yang memicu terjadinya peristiwa tersebut untuk menyelesaikan msalah kekerasan dan terorisme dengan seksama, menyeluruh dan berkesinambungan tidak parsial serta sporadis;
  4. Menghimbau seluruh tokohg agama, tokoh masyarakat, elit politik dan masyarakat untuk menghindarkan komentar komentar yang akan memperkeruh keadaan. “Jangan issue peristiwa terorisme ini untuk kepentingan politik yang sesaat”. Saling mencurigai kelompok agama satu sama lain yang menghancurkan kerukunan dan persatuan bangsa.
  5. FKUB PROVINSI DKI JAKARTA menghimbau seluruh masyarakat umat beragama tetap tenang dan tidak terprovokasi oleh berita-berita yang tidak dapat dipertanggungjawabkan yang disebarkan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggungjwab. Masyarkat hendaknya tidak berspekulasi dan mengaitkan pemboman dengan peristiwa politik dan kelompok agama tertentu agar situasi tetap kondusif dan harmonis.

Pernyataan sikap di tanda tangani oleh ketua dan sekretaris FKUB DKI Jakarta, pimpinan majelis-majelis agama dan perwakilan dari dua puluh satu organisasi sosial keagamaan, yaitu: PW NU DKI Jakarta, PW Muhamadiyah DKI Jakarta, PW Al Washliyah DKI Jakarta, DPW LDII DKI Jakarta, Fatayat NU, Mathla’ul Anwar, DPW Syarikat Islam DKI Jakarta, DPW Syarikat Islam DKI Jakarta, PW Aisyiyah, PW NA, PITI DKI Jakarta, Himpunan Bina mualaf Indonesia DKI Jakarta, Forum Komunikasi Majelis Taklim (FKMT), PERTI, Muslimat NU, Majelis Luhur Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa, DPW BKPRMI DKI Jakarta, JPPRMI, PW PGLII DKI Jakarta, PGPI DKI Jakarta, GMAHK DKI Jakarta, LP Ma’arif NU DKI Jakarta.

Kegiatan Pernyataan Sikap tersebut juga disaksikan oleh anggota DPRD DKI Jakarta Fraksi PDIP Gembong Warsono, S.IP., MM, Badan Kesbangpol DKI Jakarta dan Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi DKI Jakarta. (fkub/budi?

 

KH. Ahmad Syafii Mufid: “Kata Siapa Jakarta Tidak Toleransi”

KH. Ahmad Syafii Mufid- Ketua FKUB Provinsi DKI Jakarta

(FKUB JAKARTA) Kehidupan umat beragama di Provinsi DKI Jakarta selama ini berlangsung  rukun, tanpa gangguan yang berarti. Warga kota Jakarta meskipun berbeda-beda agamanya, mampu hidup dengan rukun dan toleran.

Demikian disampaikan Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Ahmad Syafi’i Mufid pada saat  menerima kunjungan dari Forum Kerukunan Umat Beragama Kabupaten Minahasa Selatan, di kantor FKUB Provinsi DKI Jakarta, Graha Mental Spiritual, Lt.4 – Jl. Awaludin II, Kebun Melati-Tanah Abang- Jakarta Pusat (23/4/2018).

Syafi’i menjelaskan, bahwa fakta tersebut sekaligus membantah banyaknya informasi yang menyatakan bahwa toleransi umat beragama di DKI Jakarta jauh dari kata rukun. Bahkan ada yang menyatakan bahwa tingkat toleransi di DKI Jakarta  paling rendah daripada provinsi lainnya,”

Syafii menambahkan, bahwa di Jakarta memilik potensi konfliknya sangat tinggi, akan tetapi konflik di Jakarta itu bukan konflik agama tetapi persoalannya spasial, itu sesuai dengan hasil penelitian antropolg dari Prancis yang bernama Jeremy Teddy, beliau katakan bahwa selama tiga tahun di Jakarta, Jakarta itu selalu terjadi konflik terkait spacial.

 “ Terjadinya tawuran-tawuran, koflik itu terjadi karena rebutan ruang, dari mulai kampung sana dengan kampung sini sampi dengan yang sekampung, dan itu terus mengejala sampai ke sekolah”.

Jakarta itu semenjak bernama Batavia, masyarakat di Jakarta  itu sudah bermacam-macam  agama, macam suku tetapi bisa rukun menjadi satu.

Menurut Syafii, selain masalah spasial, konflik di Jakarta itu timbul karena ada persoalan-persoalan politik. Contoh kasus tanjung Priok, kasus kuda tuli, kasus mei 1998.

“ Hal ini yang dikwatirkan, kasus seperti ini berkembang di Jakarta yang nyangkut – nyangkut agama”.

Kalau terkait dengan Pilkada memang itu ada suara miring, akan tetapi tidak terjadi apa-apa yang berarti disini, karena kita tidak melihat perbedaan agama, tidak melihat perbedaan suku, apalagi dominasi mayoritas terhadap minoritas, buat kami tidak berlaku.

Sedangkan yang terkait pendirian rumah ibadat, sesuai tupoksi FKUB DKI Jakarta yaitu mengeluarkan rekomendasi untuk pendirian rumah ibadat di Provinsi DKI Jakarta, selama ini rumah ibadat yang paling banyak mendapatkan rekomendasi dari FKUB DKI Jakarta adalah rumah ibadat Kristen.

“Kalau melihat kondisi ini, apa yang kurang dari jakarta?, bagaimana bisa dikatakan masyarakat Jakarta jauh dari kata rukun dan toleransi”.

FKUB DKI Jakarta mengambangkan apa yang dinamakan kader-kader kerukunan melalui sekolah Agama-agama dan Bina Damai (SABDA). Seluruh agama kita libatkan, bahkan aliran kepercayaan, agama Baha’i, Ahmadiyah, dan aliran keras juga ikut, jadi bukan hanya agama yang mainstream saja yang kita libatkan, mereka kami ajak semua untuk berpikir bagaimana membangun Jakarta Aman- Jakarta Damai.

Saya teringat oleh Filosof besar yaitu Hans Kung beliau mengatakan tentang Global etik, didunia itu perlu adanya etika yang disepakti bersama.

“Dunia ini tidak akan damai kalau tidak ada dialog antar umat beragama, jadi dialog antar umat beragama itu menjadi kata kunci”.

Saat ini, FKUB DKI Jakarta sudah diajak menjadi bagian Global Peace Foundation untuk kampanye damai untuk seluruh dunia, tandas Syafii Mufid.

Rombongan FKUB Kab. Minahasa Selatan berjumlah Dua Puluh Delapan orang, terdiri dari: Bupati Kab. Minahasa Selatan, Kakanwil Agama Provinsi Sulawesi Utara, Kapolres Kab. Minahasa Selatan dan anggota FKUB Kab. Minahasa Selatan.

Rombongan diterima dikanator FKUB DKI Jakarta beralamat Graha Mental Spiritual Lt. 4, Jl. Awaludin II, Kebun Melati, Tanah Abang- Jakarta Pusat, diterima oleh Ketua FKUB DKI Jakarta beserta jajarannya, hadirpula Kakanwil Kementerian Agama Provinsi DKI Jakarta, Dr. H. Syaiful Muzab dan perwakilan dari Badan Kesatuan Bangsa dan Politik Provinsi DKI Jakarta- H. Ridwan Rusli.(fkub/budi)

FKUB Kab. Minahasa Selatan Belajar Kerukunan Antar Umat Beragama Ke Jakarta

Ketua FKUB Kab. Minahasa Selatan -Pdt. Luky Tumbelaka,

(FKUB-JAKARTA) FKUB Kabupaten Minahasa Selatan, Provinsi Sulawesi Utara berkunjung ke Forum Kerukunan Umat Beragama Provinsi DKI Jakarta (23/4/2018).

Menurut Ketua FKUB Kab. Minahasa Minahasa Selatan-Pdt. Luky Tumbelaka, kunjungan kami ke FKUB Provinsi DKI Jakarta dalam rangka ingin belajar kepada FKUB Provinsi DKI Jakarta dalam mengelola kerukunan antar umat beragama di Provinsi DKI Jakarta.

“Jakarta adalah sebagai barometer nasional dalam segala hal, termasuk dalam menjaga kerukunan antar umat beragama”

Berbagai kondisi yang terjadi dari waktu ke waktu dan begitu cepat berubah sehingga itu yang membuat kami tertarik untuk berkunjung ke Jakarta, lanjutnya.

Selanjutnya Ketua FKUB Kab. Minahasa Selatan – Ketua FKUB Kab. Minahasa Selatan -Pdt. Luky Tumbelaka menambahkan, selain masalah isu kerukunan umat beragama kami ingin belajar banyak mengenai pelaksanaan Pemilihan Kepala Daerah yang sebentar lagi akan dilaksanakan secara serentak, dan FKUB DKI Jakarta memiliki pengalaman masalah itu.

“FKUB Jakarta sukses dalam menghadapi Pilgub tahun 2017 sehingga tidak terjadi konflik yang sehingga Pilgub Provinsi DKI Jakarta dapat berjalan lancar, aman dan damai” tandasnya.

Rombongan FKUB Kab. Minahasa Selatan berjumlah Dua Puluh Delapan orang, terdiri dari: Bupati Kab. Minahasa Selatan, Kakanwil Agama Provinsi Sulawesi Utara, Kapolres Kab. Minahasa Selatan dan anggota FKUB Kab. Minahasa Selatan.

Rombongan diterima dikanator FKUB DKI Jakarta beralamat Graha Mental Spiritual Lt. 4, Jl. Awaludin II, Kebun Melati, Tanah Abang- Jakarta Pusat, diterima oleh Ketua FKUB DKI Jakarta beserta jajarannya, hadirpula Kakanwil Kementerian Agama Provinsi DKI Jakarta, Dr. H. Syaiful Muzab dan perwakilan dari Badan Kesatuan Bangsa dan Politik Provinsi DKI Jakarta- H. Ridwan Rusli.(fkub/budi)

Penyerahan Rekomedasi Pembangunan Masjid Al Falah

(FKUB-Jakarta ) FKUB Provinsi DKI Jakarta menyerahkan surat rekomendasi pembanguan masjid Al Falah beralamat: Jl. Cipinang Jaya 1A Rt.10/07 Kel. Cipinang Besar Selatan-Jatinegara – Jakarta Timur.

Penyerahan surat rekomendasi pembangunan masjid Al Falah dilakukan dikantor FKUB Provinsi DKI Jakarta – Graha Mental Spiritual lt. 4, Jl, Awaludin II, Kebun Melati – Tanah Abang Jakarta Pusat (12/4).

Surat rekomendasi pembangunan masjid Al Falah diberikan setelah FKUB provinsi DKI Jakarta menerima surat permohonan rekomendasi dari panitia pembangunan masjid Al Falah, dan FKUB Provinsi DKI Jakarta telah memeriksa kelengkapan persyaratan memperoleh rekomendasi pembangunan rumah ibadah, serta FKUB provinsi DKI Jakarta telah melakukan proses verifikasi lokasi pembangunan masjid Al Falah pada hari rabu 28 maret 2018.

Masjid Al Falah berdiri sejak 1985 berdiri ditengah –tengah permukiman masyarakat  Rt.10/07 Kel. Cipinang Besar Selatan-Jatinegara – Jakarta Timur. Masjid Al Falah selain digunakan untuk beribadah dan digunakan juga untuk menimba ilmu keagamaan serta kegiatan sosial masyarakat. Melihat kondisi bangunan masjid Al Falah yang sudah tua, maka sepantasnya untuk dilakukan renovasi pembanguan agar dapat memberi kenyamanan masyarakat dalam menjalankan ibadah.

Surat rekomendasi masjid Al Falah diserahkan oleh ketua FKUB Provinsi DKI Jakarta – KH. Ahmad Syafii Mufid kepada ketua panitia pembangunan masjid Al Falah Sugito.(fkub/budi)

 

FKUB DKI Jakarta Melakukan Kunjungan Verifikasi Lapangan Masjid Al Hamra

(FKUB-Jakarta ) Pengurus FKUB Provinsi DKI Jakarta melakukan kunjungan verifikasi lapangan ke lokasi pembangunan masjid Al Hamra yang beralamat: Jl. Mundu No.19 Rt.002/18  Kel. Legoa – Koja- Jakarta Utara (10/4).

Kegiatan Kunjungan kelokasi pembangunan  merupakan rangkaian yang terakhir dalam proses mendapatkan IMB untk mendirikan atau merenovasi rumah ibadah. Selain melihat lokasi pembangunan masjid Al Hamra kehadiran pengurus FKUB Provinsi DKI Jakarta ke lokasi pembangunan adalah untuk mendengarkan testimoni tidak keberatan atas rencana dibangunnya rumah ibadah masjid Al Hamra dari masyarakat sekitar pembangunan, tokoh pemerintahan setempat, RT, RW, Lurah camat, Babinsa, Koramil dan dari Majelis Ulama Indonesia Kota Jakarta Utara.

Kunjungan ini untuk memastikan bahwa masyarakat sekitar tidak merasa keberatan atas rencana dibangunnya masjid Al Hamra, Jangan sampai ada peramsalahan dibelakang hari, rumah ibadah sudah dibangun tapi ada warga yang keberantan dengan dibangunnya masjid Al Hamra”

“Kunjungi ini merupakan rangkaian pelaksanaan peraturan bersama menteri no. 8 dan 9 tahun 2006”.

Pada tahun 2018 ini FKUB Provinsi DKI Jakarta telah mengeluarkan surat rekomendasi pembangunan rumah ibadah antara lain: Gereja Bethel Indonesia Ecclesia di Jakarta Barat, Gereja Advent Masehi Hari Ketujuh di Jakarta Timur, VIhara Avalokitesvara Vipassana Graha di Jakarta Utara, Masjid Al Fallah di jakarta Timur dan Masjid Al Hamra adalah rumah ibadah yang kelima yang akan diberikan rekomendasi.

Kunjungan  FKUB Provinsi DKI Jakarta meninjau lokasi pembangunan Masjid Al Hamra dipimpin langsung oleh Ketua FKUB Provinsi DKI Jakarta-KH. Ahmad Sayfii Mufid.

Sedangkan pengurus FKUB Provinsi DKI Jakarta yang turut hadir mendampingi Ketua FKUB Provinsi DKI Jakarta antara lain, Drs. Rudy Pratikno, SH., H. Syarief Tanudjaja-Wakil Ketua, H. Taufiq Rahman Azhar – Sekretaris, Pdt. Manuel E. Raintung – Wakil Sekretaris, H. Aris Banaji, H. Ahmad Astamar, H, Tri Gunawan Hadi, H. Qomarudin, Romo Antonius Suyadi, Pr – Anggota FKUB DKI Jakarta.(budi/fkub)

Perayaan Paskah 2018 dalam konteks Kerukunan

Baru saja  umat Katolik  dan Kristen merayakan Hari Raya Paskah dan perayaan Paskah ini  merupakan perayaan keagamaan   terbesar  dan merupakan peristiwa  yang penting bagi umat Katolik dan Kristen diseluruh penjuru dunia. .Perayaan  Paskah  merupakan rangkaian perayaan di dalam   satu pekan yang dissebut sebagai Pekan Suci . Pada sepanjang minggu ini umat Katolik dan Kristen memasuki Pekan Suci atau Holy Week dan bersuka-cita menyambut perayaan Tri Hari Suci Paskah.

Paskah merupakan perayaan terpenting dalam tahun liturgi gerejawi Kristen, yakni merayakan hari kebangkitan Yesus.

Paskah biasanya dimulai dari Rabu Abu, Minggu Palma, Kamis Putih, Jumat Agung, Sabtu Suci, sampai perayaan puncak yakni, Minggu Paskah.

Dari beberapa event ini, ada tiga yang terjadi di pekan suci, yakni minggu terakhir sebelum Paskah.

Paskah merayakan hari kebangkitan tersebut dan merupakan perayaan yang terpenting karena memperingati peristiwa yang paling sakral dalam hidup Yesus, seperti yang tercatat di dalam keempat Injil di Perjanjian Baru.

Pekan Suci dimulai dari Minggu Palem atau “Passion Sunday”, yang pada tahun 2018 ini dirayakan pada hari Minggu tanggal 25 Maret. Pekan Suci tersebut dimulai dengan perayaan Minggu Palem yang bermakna sukacita dan harapan, yang merefleksikan kisah perjalanan Yesus ke kota Yerusalem dengan menunggang seekor keledai dan disambut oleh warga kota dengan lambaian daun palem bagai seorang raja yang datang memasuki ibukota kerajaannya dan disambut oleh rakyatnya dengan penuh sukacita.

Perayaan Hari Kamis Putih  bermakna Kasih dan Pelayanan  didasarkan atas refleksi cinta kasih yang sejati dari Yesus, tahun ini  jatuh pada hari Kamis tanggal 29 Maret 2018, yang direfleksikan dalam  kisah Yesus membasuh atau mencuci kaki dari 12 (dua belas) muridNya bagai  seorang hamba dan pelayan yang mencuci kaki tuannya, dan dilanjutkan dengan acara “Perjamuan Terakhir” atau makan malam terakhir dari Yesus bersama murid-muridNya. Dimana Yesus mengambil roti tidak beragi kemudian memecah-mecah roti tersebut dan membagikannya kepada ke-12 murid, sebagai lambang dari tubuh Yesus yang tidak berdosa, namun harus dikorbankan untuk menebus dosa umat manusia. Kemudian Yesus menuangkan anggur kedalam cawan untuk dibagikan kepada ke-12 murid, sebagai lambang dari darah Yesus yang harus dicurahkan untuk menebus dosa umat manusia.

Setelah itu pada hari Jumat tanggal 30 Maret 2018  masuk kedalam perayaan Jumat Agung atau “Good Friday” yang bermakna penderitaan dan pengorbanan, yang merefleksikan kisah Yesus yang dihadapkan dalam pengadilan yang penuh dengan konflik dan intrik atas tuduhan yang penuh rekayasa. Bagai seorang penjahat kriminal yang menjadi sampah masyarakat dan pemberontak yang menjadi musuh negara, Yesus harus menderita dengan siksaan badani sebelum akhirnya harus menjalani hukuman mati dengan cara disalibkan bersama para penjahat di sisi kiri dan kanan salib Yesus.

Kemudian pada sepanjang hari Sabat, hari yang disucikan Tuhan bagi umat manusia untuk beristirahat dan mengingat Sang Khalik Langit dan Bumi, sejak pembukaan Sabat pada hari Jumat petang sampai dengan penutupan Sabat pada hari Sabtu petang, Yesus pun beristirahat didalam perut bumi.

Setelah mengalami penderitaan dan menyerahkan nyawaNya di kayu salib, tubuh Yesus pun diturunkan dan dilepaskan dari kayu salib untuk dibersihkan dan dikuburkan kedalam gua yang dijaga oleh para prajurit Romawi.

Akhirnya pada hari Minggu pagi, Yesus pun bangkit dari antara orang mati dan meninggalkan kubur yang kosong. Umat Katolik dan Kristen merayakan peristiwa tersebut melalui perayaan Minggu Paskah atau Easter Sunday yang bermakna kemenangan dan harapan, yang jatuh pada hari Minggu tanggal 31 Maret 2018..

Makna kemenangan itu direfleksikan dengan kemenangan dari Yesus dalam mengalahkan alam maut yaitu bangkit dari kematian, sedangkan makna harapan direfleksikan dengan adanya harapan terhadap kedatangan Yesus yang kedua kali untuk menyelamatkan umatNya. Bagai seorang mempelai pengantin pria yang akan menjemput mempelai pengantin wanitanya untuk masuk dalam jamuan pesta pernikahan. Yesus akan datang kembali ke dunia ini bagai seorang raja yang akan menjemput umatNya untuk tinggal di kerajaan Sorga yang kekal.

Hidup dan kehidupan dari Yesus selama di dunia telah menjadi inspirasi, teladan dan panutan dari umat Katolik dan Kristen di sepanjang masa serta menjadi dasar keimanan dari Gereja Katolik dan Gereja Kristen Protestan. Semoga makna dari peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam kehidupan Yesus, yang diperingati dalam Pekan Suci sepanjang minggu ini termasuk Tri Hari Suci Paskah dapat memberikan sebuah refleksi dan introspeksi pribadi bagi seluruh umat Katolik dan Kristen di dunia untuk dapat menjadi pribadi seperti Yesus yang penuh cinta kasih, yang melayani bagai seorang hamba, yang penuh pengorbanan, yang memberikan harapan dan kemenangan. “Selamat Hari Raya Paskah tahun 2018 kepada umat Katolik dan Kristen “

Umat Katolik Keuskupan Agung Jakarta

Umat Katolik di Keuskupan Agung Jakarta  dalam menghayati  dan mengaktualisasikan iman nya selalu mengacu pada Arah Dasar Pastoral yang telah ditetapkan oleh Bapak Uskup  Agung Jakarta sebagai gembala umat dan untuk periode 2016 sanpai dengan 2020 adalah sebagai berikut :

Gereja Keuskupan Agung Jakarta sebagai persekutuan dan gerakan umat Allah bercita-cita menjadi pembawa sukacita Injili dalam mewujudkan Kerajaan Allah yang Maha Rahim dengan mengamalkan Pancasila demi keselamatan manusia dan keutuhan ciptaan.

Atas dorongan Roh Kudus, berlandaskan spiritualitas inkarnasi Yesus Kristus, serta semangat Gembala Baik dan Murah Hati, umat Keuskupan Agung Jakarta berupaya menyelenggarakan tata-pelayanan pastoral-evangelisasi agar semakin tangguh dalam iman, terlibat dalam persaudaraan inklusif, dan berbelarasa terhadap sesama dan lingkungan hidup.

Melalui tata-pelayanan pastoral-evangelisasi yang sinergis, dialogis, partisipatif dan transformatif, seluruh umat Keuskupan Agung Jakarta berkomitmen untuk:

  1. Mengembangkan pastoral keluarga yang utuh dan terpadu.
  2. Meningkatkan kualitas pelayan pastoral dan kader awam.
  3. Meningkatkan katekese dan liturgi yang hidup dan memerdekakan.
  4. Meningkatkan belarasa melalui dialog dan kerjasama dengan semua orang yang berkehendak baik untuk mewujudkan masyarakat yang adil, toleran dan manusiawi khususnya untuk mereka yang miskin, menderita dan tersisih.
  5. Meningkatkan keterlibatan umat dalam menjaga lingkungan hidup di wilayah Keuskupan Agung Jakarta.

Semoga Allah Yang Maha Rahim, yang telah memulai pekerjaan baik dalam diri kita, berkenan menyempurnakannya dan Bunda Maria menyertai, menuntun serta meneguhkan upaya-upaya kita.

Penyebutan kata  Pancasila dalam Arah Dasar Pastoral Keuskupan Agung Jakarta.

Dalam Arah Dasar Keuskupan Agung Jakarta tersebut  secara eksplisit Pancasila disebut didalamnya,  hal ini diyakini bahwa Nilai-nilai Pancasila dan perwujudan Kerajaan Allah tidak bertentangan. Melainkan dengan mengamalkan nilai-nilai Pancasila keindonesiaan kita makin ditingkatkan dan tidak hilang. Dengan demikian kita akan menjadi mampu mewujudkan gereja katolik Indonesia. Adapun Tahapan pengamalan Pancasila dari Keuskupan Agung Jakarta adalah sebagai berikut :

Tahun 2016 Temanya adalah Kerahiman Allah Yang memerdekakan ,  umat Katolik  diajak untuk lebih memahami arti kerahiman Allah. Tema ini selaras dengan Sila Pertama Pancasila yaitu Ketuhanan yang Maha Esa.

Tahun 2017 adalah “Amalkan Pancasila: Makin Adil, Makin Beradab”    untuk menyelami sila kedua guna  merenungkan apakah keadilan sudah dinikmati oleh segenap masyarakat Indonesia. Tema ini menunjukkan dan menumbuhkan sikap makin adil dan makin beradab pada sesama sebagai bagian dari upaya mengamalkan Pancasila dengan iman yang teguh

tahun 2018 temanya adalah Amalkan Pancasila, Kita Bhinneka, Kita Indonesia yang selaras dengan sila ke 3 . Persatuan Indonesia.

Perayaan Paskah tahun 2018 dalam konteks Persatuan Indonesia

Jadi jelas bahwa Perayaan Paskah merupakan perayaan  sebagai ungkapan sukacita umat manusia karena telah ditebus dosanya  oleh Yesus Kristus Tuhan dengan melalui  penderitaan sampai kematianNya di kayu salib, namun tiga hari kemudian Yesus telah bangkit  mengalahkan maut.   Untuk  itu agar kita pantas untuk ditebus dosa nya diperlukan masa persiapan masa Pra Paskah  yang di awali  pada hari Rabu Abu 14 Februari 2018 sampai hari perayaan Paskah 31 Maret 2018;

Diharapkan bahwa dalam masa Prapaskah Paskah tahun 2018   umat Katolik  didorong untuk bertobat lebih membuka hati kepada Tuhan yang selalu menyertai, membimbing serta menguatkan kita sebagai manusia, dalam masa ini umat diajak untuk semakin peduli kepada sesama khususnya yang menderita , seperti yang dicontohkan oleh Yesus ,  dengan begitu  iman kita tidak mati , itulah makna pertobatan kita..

Pada tahun 2018 ini Gereja Keuskupan Agung Jakarta menjalani Tahun Persatuan dengan seboyan “ Amalkan Pancasila ; Kita Bhineka , Kita Indonesia , bapak Uskup mengharapkan agar Umat Gereja memaknai pengalaman hidup dalam konteks persatuan dan kebhinekaan  bangsa kita sebagai Karya Allah . maka sebaiknya kita mensyukuri karena Tuhan memberikan anugerah pengalaman  keragaman berbangsa yang nampak dalam jumlah pulau  yang kita miliki yakni  sebanyak  17.504 pulau  1340 suku bangsa dan 546 bahasa, meskipun demikian beragam itu adalah merupakan bagian dalam satu nusa , satu bangsa dan satu bahasa  dengan  Pancasila bagai dasar negara. Dengan demikian sebagai bangsa yang beragam kita mempunyia cita – cita yang sama , yaitu mewujudkan negara yang berketuhanan, adil dan beradab , bersatu , berhikmat dan bijakasana serta damai sejahtera.

Disisi lain Gereja juga mengungkapkan keprihatinan karena melihat berbagai peristiwa yang menjauhkan masyarakat kita dari cita-cita sebagai bangsa  khususnya dengan cita-cita Persatuan Indonesia karena masih banyak didepan kita bahwa perbedaan yang seharusnya menjadi Rahmat ,sering kali justru kelihatan sebagai penghambat , salah satu penelitian dari Wahid Foundation yang bekerjasama dengan Lembaga survei Indonesia  di April 2016 menunjukan bahwa 59,9% dari responden yang diminta tanggapanya memiliki kelompok yang dibenci, apabila memang demikian bukan persatuan  dalam kebhinekaan yang tumbuh, tetapi kebencian menjadi wajah masayarakat , dan masih banyak berbagai penelitian lain  yang mana  angka-angka menunjukan ada sesuatu yang tidak baik dan tidak ideal dalam hidup kita sebagai bangsa.

Karena itulah umat  Gereja Katolik dituntut untuk peduli  dengan terus menerus  berusaha mengamalkan Pancasila dengan cara mengubah tantangan-tantangan menjadi kesempatan untuk mewujudkan iman dengan melakukan gerakan nyata , mulai dari yang paling sederhana yakni mensyukuri kebhinekaan , merawat  dan menumbuh kembangkan sehingga kehadiran  Kerajaan Allah , kerajaan kebenaran , keadilan, cinta kasih dan damai sejahtera hadir di tengah masyarakat kita, Indonesia.

Oleh karenanya banyak kegiatan umat Katolik di Keuskupan Agung Jakarta  seperti mengumandangkan  lagu “ Kita Bhineka – Kita Indonesia dimana mana , mendaraskan doa Tahun Persatuan dalam ibadat harian maupun mingguan digereja , ikut menginisiasi adanaya kenduri di paroki , ikut membantu  puasa bersama, melakukan piknik kebangsaan dengan mengunjungi  tempat bersejarah nasional dll

Banyak pula kegiatan sesuai kebutuhan setempat   berusaha mempererat persaudaraaan dalam masyarakat tanpa membedakan perbedasan agama , suku , etnis dan perbedaan pperbedaan yang lain yang dilakukan mulai dari lingkup RT/RW secara berkesinambungan dan saling terkait  . Buah2 dari perjumpaan dalam nafas kehidupan bermasyarakat ini diharapkan menumbuhkan wujud kebiasaan baik dan budaya yang baru, yang pada gilirannya  membuahkan damai sejahtera yang merupakan wajah dari Kerajaan Allah yang damai sejahtera.

Dengan demikian diri kita menjadi pantas dalam merayakan Paskah, perayaan suka cita Kebangkitan Kristus  ditahun 2018 ini .

Selamat Paskah 2018

Yohanes Haryono Darudono

Perjalanan Capacity Building FKUB Provinsi DKI Jakarta

Drs. Dedy Sosialisto-Plt. Kepala Bidang KEsatuan bangsa Kota surabaya dan KH. Ahmad Syafii Mufid Ketua FKUB Provinsi DKI Jakarta

(FKUB-JAKARTA) Pengurus Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Provinsi DKI Jakarta melakukan kunjungan ke Provinsi Jawa Timur dalam rangka Capacity Building guna meningkatkan kapasitas anggota FKUB Provinsi DKI Jakarta, kunjungan dilaksanakan selama empat hari mulai dari tanggal, 19-22 Maret 2018.

Pilihan sasaran perjalanan ke daerah Jawa Timur sangat penting untuk capacity building dalam rangka bina damai. Bagi FKUB DKI Jakarta, kunjungan ke luar negeri maupun dalam negeri bahkan di dalam kota Jakarta adalah untuk tujuan besar, kerukunan atau bina damai. Mandat yang diemban oleh FKUB Provinsi DKI Jakarta mengharuskan semua untuk terus menerus meningkatkan pengetahuan, menambah pengalaman dan memahami dinamika kemanusiaan, sosial, keagamaan dan kebangsaan.

Ada beberapa tujuan yang hendak dicapai dalam perjalanan ini. Hari Pertama, FKUB Provinsi DKI Jakarta berkunjung ke kota Surabaya untuk bertemu dan berdialog dengan mitra, FKUB kota Surabaya dan FKUB Provinsi Jawa Timur. Semula, pada pertemuan dengan FKUB Kota Surabaya, rombongan dapat bertemu dengan Walikota Surabaya, tetapi karena ada tamu dari Liverpool, FKUB DKI hanya bertemu dengah PLT. Kepala Badankesbangpol serta pimpinan FKUB setempat. Isu yang dibicarakan adalah seputar bina damai yang terkait dengan pembangunan dan penataan kota tanpa penggusuran, kesejahteraan sosial terutama untuk penyandang masalah kesejahteraan sosial (PSK) yang melibatkan peran ormas, yakni Muhammadiyah di wilayah Dupak.

Selanjutnya FKUB Provinsi DKI Jakarta melakukan kunjungan ke kantor Badan Kesatuan Bangsa dan Politik Provinsi Jawa Timur, berdialog dengan FKUB Provinsi Jawa. Rombongan FKUB DKI Jakarta diterima oleh Sekretaris kesbang, dewan penasihat dan pimpinan serta anggota FKUB Jawa Timur.

Foto bersama pengurus FKUB DKI Jakarta dan Pengurus FKUB Provinsi Jawa Timur

Provinsi Jawa Timur memiliki residu konflik sosial keagamaan terkait kasus Sampang, yang melibatkan komunitas Syiah dan masyarakat setempat. Problem berkepanjangan. Sudah satu windu kejadian, korban pengungsi belum mau kembali, dan korban masyarakat belum mau menerima kembali mereka. Penerintah daerah harus mengeluarkan dana besar untuk menjamin kehidupan para pengungsi. Tentu sangat nembebani pikiran dan sumber daya pemerintah daerah. Namun, pemerintah menurut Kesbangpol Provinsi Jawa Timur tetap dalam semboyannya “Pemerintah itu tugasnya Ngayomi dan Ngayemi”. Artinya pemerintah harus melindungi rakyat dan membuat tenang masyarakatnya. Mengakhiri kunjungan di Surabaya, peserta city tour ke jembatan Suromadu, tol yang menghububgkan kota Surabaya dengan Bangkalan Madura. Semestinya, setelah itu akan ziarah ke makam Sunan Ampel dan mengamati kehidupan masy multikultural di wilayah tersebut, tetapi karena ada anggota yang sakit, rombongan langsung pulang ke penginapan dan mengurus teman yang perlu dirawat.

Lesson learn dari Surabaya adalah, kehidupan multikultural masyarakat telah berlangsung lama, sejak abad 14 hingga sekarang. Mereka saling mengenal, saling menghormati dan bekerjasama, atau toleransi. Cukup sudah pembelajaran tentang bina damai digali dari khasanah budaya kita sendiri.

Pelajaran berharga lainnya, yang juga dapat dijadikan bukti bahwa kerukunan umat beragama di wilayah Jawa Timur. Pada abad 19 di Ngoro dan Mojowarno telah tumbuh komunitas Kristen pertama bagi masyarakat Jawa. Komunitas ini membangun jemaat Gereja
Kegiatan hari Hari Kedua, dilanjutkan kunjungan ke Trowulan, disini rombongan mendapatkan pelajaran di mana situs kerajaan Majapahit pernah menjadi negara besar abad 14 – 15. Negara ini hilang ditelan oleh sejarah karena pertikaian atau konflik politik yang berkepanjangan. Majapahit meninggalan pesan dan pelajaran yang sangat luar biasa bagi bangsa ini dengan semboyannya “Bhineka Tunggal Ika”  meskipun berbeda-beda tetapi tetap satu. Semboyan Majapahit yang terkenal itu telah diterima oleh bangsa Infonesia sebagai salah satu kesepakatan nasional.
Rombongan FKUB DKI Jakarta menyempatkan mengunjungi Patung Buddha Tidur (Sleeping Buddha) ini terletak di Desa Bejijong, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto. Lokasinya berada di tengah perkampungan yang dekat dengan desa persawahan, sehingga menjadikan suasana disana menjadi tenang dan sejuk khas pedesaan. Tempat ini sering mendapat kunjungan wisatawan, baik untuk beribadah maupun rombongan non-Buddhis, terutama hari libur sekolah yang banyak dikunjungi oleh para pelajar. Pihak pengelola vihara cukup terbuka menerima kedatangan rombongan dan akan memberikan informasi tentang hal-hal yang terkait dengan keberadaan tempat ini.
Selanjutnya rombongan FKUB DKI Jakarta melanjutkan kunjungan ke Gereja Kristen Jawi Wetan yang beralamat di Jl.Merdeka No.2, Mojowangi, Mojowarno, Kabupaten Jombang, Jawa Timur 61475. Gereja Kristen Jawi Wetan pertama kali dideklarasikan pada tanggal 11 Desember 1936 di salah satu Jemaat Kristen Jawa terkemuka saat itu. Setelah itu, rombongan FKUB DKI Jakarta melanjutkan perjalannya dan menyempatkan berjiarah ke makam Gus Dur Presiden Republik Indonesia Ke-4. Kegiatan FKUB DKI Jakarta pada hari kedua berakhir di Pondok Pesantren Wali Barokah, sebuah pesantren untuk mendidik mubaligh Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII). Tokoh litas agama yang ikut rombongan ini menjadi tahu apa itu pesantrenm apa itu LDII dan bagaimana relasi sosial serta perananny dalam bina damai di wilayah Kediri. Di Kediri, LDII berhasil menjadi salah satu penggerak kerukunan dan kedamaian. Buktinyam FKUB DKI Jakarta diterima oleh pimpinan pesantren KH.Sunarto didampingi oleh tokoh-tokoh lintas agama dan bahkan tokoh penghayat kepercayaan.
Kegiatan hari Hari Ketiga, Rombongan FKUB DKI Jakarta melanjutkan perjalanan menuju ke Kota malang dan menyempatkan mampir ke makam Bung Karno Presiden Pertama Republik Indonesia.
Kegiatan hari Hari Keempat, rombongan FKUB DKI Jakarta berkunjung ke Keuskupan Malang, kegiatan kunjungan diisi dengan berdialog dengan Uskup Mgr. Prof. Dr. Henricus Pidyarto Gunawan O.Carm dan tokoh lintas Iman Kota Malang.(fkub/budi)

FKUB DKI Jakarta Menggelar Pentas Seni Budaya di Balai Kota

Gubernur Provinsi DKI Jakarta, Djarot Syaiful idayat memberikan sambutan.

(FKUB Jakarta) Provinsi DKI Jakarta merupakan barometer bagi bangsa Indonesia, karena Jakarta adalah Ibukota Negara sekaligus miniatur Indonesia. Provinsi DKI Jakarta memiliki tantangan besar memelihara keharmonisan dan kerukuanan antar umat beragama ditengah –tengah warganya yang multi etnis dan beragam latar belakang.

Forum Kerukunan Umat Beragama) DKI Jakarta bersama Alumni SABDA (Sekolah Agama dan Bina Damai) menyelenggarakan kegiatan pentas seni dan budaya anak lintas iman bertema ‘Indonesia Bangkit’ bertempat di Pendopo Balaikota DKI Jakarta, Jl. Medan Merdeka, Jakarta Pusat, Sabtu siang (23/09/17).

Kegiatan pentas seni ini mementaskan pagelaran berbagai aktifitas anak-anak seperti permainan, mewarnai, dongeng serta pentas kesenian dan musik tradisional Indonesia yang diikuti sebanyak 600 anak-anak lintas iman utusan sekolah PAUD, TK, SD, dan SMP yang berasal dari agama Islam, Katolik, Kristen, Buddha, Khonghucu, dan Hindu.

Dalam acara tersebut dimeriahkan oleh Tarian Pencak Silat, Pertunjukan musik Angklung, Barongsay dan tarian tradisonal lainnya yang merupakan partisipasi dari masing masing majelis agama.

Menurut  KH. Ahmad Syafii Mufid selaku ketua FKUB Provinsi DKI Jakarta,  kegiatan ini diselenggarakan bertujuan untuk menanamkan arti kerukunan sejak dini.

Untuk merekatkan kebhinekaan yang didambakan, meneguhkan kembali kebersamaan anak-anak maupun seluruh lapisan masyarakat dalam mewujudkan cita-cita Proklamasi Republik Indonesia.

“Acara kita helat dengan harapan dan tujuan agar Jakarta lebih baik lagi, damai hidup bersama dan menjaga kerukunan,”

Ahmad Astamar selaku ketua panitia penyelenggara menambahkan, bahwa keberagaman identitas bangsa Indonesia merupakan anugerah Tuhan Yang Maha Esa yang patut kita dirawat dan disyukuri.

Sementara itu, Gubernur DKI Jakarta Djarot Saiful Hidayat dalam sambutannya mengungkapkan kegembiraannya menyaksikan pentas seni yang ditampilkan sejumlah anak lintas agama yang berasal dari berbagai sekolah di Jakarta ini.

“Saya senang sekali, saya bangga kepada anak-anak kita, yang kemudian menggugah tentang komitmen bahwa anak-anak ini harus diperlakukan sama,” kata Djarot.(fkub/budi)

KH. Syafii Mufid: “Halal Bihalal itu Budaya Indonesia”

KH. Ahmad Syafii Mufid – Ketua FKUB Provinsi DKI Jakarta

(FKUB Jakarta) Halal bihalal, dan silaturrahmi merupakan ritual yang sangat baik untuk dijaga dan dilestarikan. Karena ritual beragama, itu mampu memperkokoh kerukunan kehidupan berbangsa dan kerukunan antar umat beragama.

Silaturrahim dan halal bihalal juga menjadi bukti bahwa Islam adalah agama yang cinta damai dan anti konflik. Ritual keagamaan itu menandakan antara Islam dan Indonesia sudah menyatu dan saling mendukung.

Dalam rangka memperingati Hari Raya Idul Fitri 1438 H, Alumni Sekolah Agama-Agama Bina Damai (SABDA) FKUB Provinsi DKI Jakarta menyelenggarakan acara Halal Bihalal di Kantor FKUB Provinsi DKI Jakarta (27/7/2017).

Kegiatan ini bertujuan untuk menjalin silaturahmi antara alumni-alumni SABDA angkatan pertama sampai dengan angkatan kelima dengan para pengurus FKUB DKI Jakarta.

Pada kesempatan itu, Ketua FKUB Provinsi DKI Jakarta -KH. Ahmad Syafii Mufid memberikan paparan tentang nilai Filosofi Halal Bihalal.

Menurut beliau, pada saat menuntut ilmu di Belanda, mengamati di negara manapun Turki, Arab, Inggris dan Negara lainya tidak pernah ada budaya Halal Bihalal. Yang ada Budaya Halal Bihalal itu hanya di Indonesia. Dan budaya toleransi dan halal bihalal sudah dipraktekkan oleh kakek moyang kita bangsa Indonesia sejak jaman dahulu kala.

“Halal Bihalal itu asli budaya bangsa Indonesia, dan merupakan budaya toleransi”

Syafii Mufid menambahkan, yang menjadi simbolik halal bihalal adalah Ketupat dan Lepet. Ketupat yang mengandung filosofi mengakui kesalahan, dan Lepet mengandung filosofi saling melekat manjadi rukun.

Halal Bihalal mempunyai makna integratif dalam masyarakat maupun bangsa dan negara. Jadi intinya Halal Bihalal merupakan wadah yang pas untuk Bina Damai.

Perdamaian Abadi mungkinkah diwujudkan di dunia ini? Perdamaian di mulai dari diri sendiri dan masyarakat sekitarnya. Kedepannya agama akan lebih penting lagi diperlukan untuk mewujudkan Perdamaian Dunia dibanding senjata. Tetapi pertanyaannya adalah Agama yang seperti apa? Agama yang menjunjung tinggi akhlak nur Karimah, pungkasnya.

Kegiatan Halal Bihalal ini dihadiri oleh Kesbangpol DKI Jakarta, Dit. Intelkam Polda Metro Jaya, Pengurus FKUB DKI Jakarta, FKUB Wilayah dan Alumni Sabda, jumlah peserta yang hadir kurang lebih seratus orang.(budi/fkub)

KH. Syafii Mufid: Rekonsiliasi dan Mediasi Pasca Pilkada

(FKUB Jakarta) Dinamika politik pasca penyelenggaraan Pilkada Gubernur dan Wakil Gubernur Provinsi DKI Jakarta 2017 memunculkan polirisasi di masyarakat. Polarisasi disebabkan oleh pemanfaatan isu primodial terkait suku, agama, ras dan antargolongan disertai ujaran kebencian.

Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Provinsi DKI Jakarta dalam hal ini tidak boleh memihak kepada salah satu calon. FKUB Provinsi DKI Jakarta selalu berupaya untuk menyatukan pihak-pihak berselisih.

Alhamdulillah Pilkada Gubernur dan Wakil Gubernur Provinsi DKI Jakarta tahun 2017 dapat berjalan dengan lancar dan aman tanpa ada kerusuhan yang berarti.

“Setelah terpilihnya Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta yang baru pasca Pilkada, mari semua pihak yang terpecah untuk  menjadi satu membangun Kota Jakarta” ujar KH. Syafii Mufid pada saat memberikan materi pada lokakarya “Mediasi dan Resolusi Konflik Keagamaan” di Villa Renata Cipanas, (26/7/2017)

Lokakarya Mediasi dan Resulusi Konflik Keagamaan diselenggarakan oleh PUSAD Paramadina bekerjasama dengan Magister Perdamaian dan Resolusi Konflik Universitas Gadjah Mada (MPRK) Jogjakarta dan FKUB Provinsi DKI Jakarta, berlangsung selama empat hari, 24-27 Juli 2017 di Villa Renata – Cipanas, Cianjur Jawa Barat.

FKUB DKI Jakarta telah melakukan Rekonsiliasi dan Mediasi Pasca Pilkada DKI Jakarta 2017 untuk menyatukan pihak-pihak yang bertikai untuk menjadi satu kembali.

Upaya-upaya yang dilakukan FKUB DKI Jakarta adalah, Program 100 hari rekonlisiasi antar pendukung, Perlu memberikan penjelasan kepada elit, bahwa pilkada adalah kontestasi, Stop reproduksi Isu SARA, Melakukan Silaturrahmi dan Saling Memaafkan dan Mengumpulkan para tokoh muslim dan non muslim untuk saling memaafkan setelah kejadian Pilkada.

“Alhamdulillah FKUB DKI Jakarta dapat berperan dalam pelaksanaan rekonsiliasi dan mediasi pasca pilkada DKI Jakarta 2017”, imbuhnya.

Syafii menambahkan, FKUB DKI Jakarta kini telah berkembang menjadi lembaga Bina Damai, tidak hanya melakukan tugas pokok saja, tapi bias berperan dalam mencipktakan kedamaian di Jakarta.

Prinsip FKUB DKI Jakarta dalam menjaga kerukunan Kota Jakarta adalah “Mengagungkan Tuhan, Memuliyakan Manusia”,(budi/fkub)

1 2 3 17