“Meneladani Kepemimpinan Nabi Muhammad SAW Dalam Memilih Pemimpin Transformatif”

KH. Ahmad Syafii Mufid - Ketua FKUB Provinsi DKI Jakarta

KH. Ahmad Syafii Mufid – Ketua FKUB Provinsi DKI Jakarta

FKUB Provinsi DKI Jakarta memilik tugas yang salah satunya adalah melakukan sosialisasi terhadap peraturan perundang-undangan tentang kerukunan dan pemberdayaan masyarakat. Tahun 2014 Indonesia akan menyelenggarakan Pemilu legislatif dan Pemilu Presiden secara langsung. Pilpres kali ini adalah untuk yang ketiga kalinya dilakukan oleh rakyat secara demokratis (bebas, langsung, jujur dan adil). Masalahnya, tahun 2014 merupakan akhir dari masa transisi reformasi. Rakyat menanti hasil reformasi dengan perasaan was-was, apakah Indonesia akan tetap sebagai negara berkembang atau menjadi negara maju. Berdasarkan hasil survey, dialog di media dan perbincangan di ruang publik, masyarakat bangsa mengharapkan munculnya pemimpin bangsa yang mempu memecahkan problem, atau pemimpin transformatif. Sayangnya, gejala politik yang ada menunjukkan tanda-tanda munculnya pemimpin transaksional sangat kuat. Pileg dan Pilpres hanya dapat diikuti oleh mereka yang memiliki partai, pemilik modal atau selebritis. Para pemimpin dari berbagai profesi, pemimpin keilmuan dan keulamaan serta pelaku perubahan dalam masyarakat yang sangat berbakat sebagai pemimpin transformatif tetapi tidak memiliki kemampuan finansial tentu tidak tertarik mengikuti Pileg dan Pilpres. Bisa kita bayangkan pemimpin seperti apa yang akan dihasilkan oleh pemilu yang akan datang.

Oleh karena itu FKUB memandang perlunya penyadaran dan dorongan agar peran pemuka dan tokoh agama mengambil peran dalam melakukan redukasi terhadap masyarakat dalam menggunakan hak pilih mereka pada pemilu 2014 mendatang. Peran yang dapat dilakukan oleh pemuka agama dan tokoh masyarat adalah memberikan pembelajaran tentang siapa yang mesti dipilih sebagai wakil di lembaga legeslatif dan siapa presiden serta wakil presiden mendatang. BJ Habibie dalam acara Mata Najwa yang disiarkan oleh Metro TV jam 20.00-21.30 tanggal 5 Februari 2014 menyatakan kreteria pemimpin Indonesia yang hendaknya kita pilih pada pemilu tahun ini adalah mereka yang mampu memecahkan masalah (problem solvers) dan dari kelompok umur antara 40-60 tahun. Presiden kita yang ketiga telah memberikan contoh pembelajaran politik kepada masyarakat siapa yang akan kita pilih sebagai memilih pemimpin (nasbul imamah) yang bercorak transformastif. Tugas kebangsaan yang menjadi tanggung jawab pemimpin agama dan tokoh masyarakat adalah penyadaran akan pentingnya pemimpin transformatif bagi bangsa Indonesia. Pemimpin yang dapat memecahkan masalah bangsanya, pemimpin yang dapat memberikan harapan masa depan Indonesia Raya, pemimpin yang benar-benar bekerja untuk kesejahteraan rakyat dan berani menegakkan keadilan.

Pemimpin transformatif dalam sejarah telah dicontohkan oleh para rasul, nabi, mursyid dan tokoh agama lainnya. Kita dapat kembali belajar kepemimpinan transformatif mereka dimulai dari dialog lintas agama seperti yang sekarang sedang kita lakukan. Dimulai awal tahun 2014, terkait dengan perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW, Imlek, Nyepi, Waisyak, Kenaikan Isa al masih dan seterusnya. Para orang suci tersebut dengan corak kepemimpinan mereka masih-masih telah memberikan sumbangan yang sangat besar bagi umat manusia dalam membangun peradaban yang berketuhanan dan bermoral (akhlak mulia). Pemimpin-pemimpin agama seperti itu dilahirkan untuk dijadikan teladan, contoh dan referensi dalam membangunan dan mewujudkan cita-cita bangsa Indonesia sebagai mana diamanatkan oleh UUD 1945 yaitu negara kesejahteraan, adil dan makmur.

Pemimpin yang berhati seperti nabi dan berfikir seperti filosuf, menurut Al Farabi adalah pemimpin ideal untuk umat manusia. Bagaimana menurut kita, para pemuka agama dan tokoh masyarakat, yang tergabung dalam Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB)? Siapa pemimpin transformatif tersebut? Bagaimana kondisi bangsa dan negara kita? Di bidang ekonomi kita  masih lebih menikmati impor dan melemahnya ekspor, nilai tukar rupiah yang melemah terhadap dolar dan jumlah rakyat miskin lebih dari 28 juta orang. Pendapatan nasional dan individu stagnan, tidak bisa beranjak naik dari kelas menengah ke kelas yang lebih tinggi. Praktik politik ditandai dengan transaksional, pencitraan dan bahkan kebohongan yang luar biasa. Penyelenggaraan negara yang jauh dari prinsip good government. Moralitas pemimpin yang rendah, korupsi meraja lela, budaya kekerasan dan konflik primordial senantiasa muncul di berbagai daerah serta ancaman penghancuran generasi muda melalui penyalahgunaan narkoba dan pornografi yang sangat luar biasa. Akhirnya banyak orang menjadi pesimis terhadap masa depan bangsa. Bahkan banyak pengamat yang menganggap Indonesia mendekati negara gagal. Jalan keluar dari negara gagal menjadi negara yang sejahtera sangat ditentukan oleh kepemimpinan transformatif, pemimimpin yang mampu melakukan perubahan dari ketertinggalan kepada kemajuan, dari pesimisme menjadi optimisme dan pemimpin yang dicintai oleh rakyatnya.

Keteladanan Nabi Muhammad SAW

Gerald Greenberg dan Robert A Baron dalam Jurnal Behavior in Organization, Ohio State University, 2003 menyatakan bahwa kepemimpinan transformatif adalah pemimpin yang menggunakan kharisma mereka untuk melakukan perubahan, dan merevitalisasi organisasi mereka untuk merealisasikan tujuan dan target yang telah ditentukan. Pemimpin transformatif adalah mereka yang bertindak sebagai mentor (mengajar dan menjadi teladan dalam tindakan). Sebagai bapak yang melindungi dan sekaligus sahabat yang dicintai. Sebagai orang beragama, kita meyakini bahwa kharisma itu muncul dari pribadi agung yang dibentuk oleh Allah SWT. Mereka itu dalam Islam disebut sebagai Nabi ulul azmi, yaitu nabi yang teguh atau komitmen dalam cita-cita (visi dan misi), keimbangan emosional (sabar) dan dedikatif kepada Tuhan untuk kepentingan umat manusia. Mereka yang disebut sebagai ulul azmi adalah Nuh as, Ibrahim as, Musa as, Isa as dan Muhammad SAW.

Muhammad SAW dilahirkan dari kalangan bangsawan dalam keadaan yatim, diasuh secara tradisional pedesaan, diberikan kepercayaan dalam pengembalaan ternak dan perdagangan. Beliau tumbuh sebagai pemuda yang dapat dipercaya (al amin), dewasa dengan kesadaran akan dekadensi moral sukubangsanya, berupaya melakukan perubahan (dakwah) agar masyarakat sekitarnya keluar dari kegelapan (kejahiliyahan), membangun masyarakat madani, dimulai dari membangun masjid, membangun kerukunan antara suku satu dengan suku yang lain, serta membangun kerukunan antarumat beragama. Hasilnya, secara fisik adalah merubah Yatsrib, sebuah kawasan pemukiman yang mengambil nama tokoh Yahudi menjadi Madinah yang berarti kota, berperadaban. Menyatukan suku-suku bangsa di seluruh jazirah Arabia menjadi satu kesatuan umat (Islam) yang berketuhanan Yang Maha Esa, berperikemanusiaan yang adil dan beradab, menjunjung tinnggi syura dan mewujudkan kesejahteraan ekonomi, sosial dan budaya.

Nabi Muhammad SAW adalah penggagas bangungan sosial budaya, ekonomi, politik dan keamaan kawasan Arabia yang disebut dengan umat yang unggul (khaira umat), memproduksi kebajikan dan menolak kerusakan sosial budaya masyarakat. Beliau menyaksikan hasil apa yang dicita-citakan, menikmati hasil bangunan sosial yang digagasnya dan memberikan statemen tentang kesempurnaan ad dien, kesempurnaan nikmat dan pesan-pesan moral kemanusiaan sebagaimana yang disampaikan beliau dalam pidato perpisahan (khutbah Wada) di Padang Arafah. Nabi wafat dalam usia 63 tahun setelah mengalami penderitaan luar biasa karena ditentang dan dimusuhi bahkan diusir dari negerinya sendiri, oleh bangsa sendiri. Nabi bangkit mempinpin perubahan dan berhasil. Apa kunci keberhasilan beliau? Kepemimpinan transformatif atas prinsip kebenaran (sidik), jujuran (amanah), akuntabel (tabligh) dan cerdas (fathanah). Modal dasar kepribadian beliau adalah orang yang dapat dipercaya (al amin). Sedangkan modal sosial beliau dibangun berdasarkan kharima dan musyawarah.

Menentukan Pemimpin Indonesia Mendatang

Bangsa dan rakyat Indonesia mesti memilih pemimpin untuk dirinya dan masa depan bangsanya. Demokrasi sudah kita pilih sebagai cara untuk melahirkan pemimpin. Kegagalan pemimpin dalam mewujudkan cita-cita bangsa tidak semata-mata kesalahan mereka. Kita semua juga memiliki andil dalam kegagalan ini, yakni pilihan kita yang salah. Mengapa kita salah pilih? Kita tidak mengetahui siapa sebenarnya calon yang kita pilih. Tipe kepribadiannya seperti apa, bagaimana sejarah hidup dan catatan perjalanan mereka, apakah mereka itu orang yang benar-benar jujur, benar, akuntabel dan cerdas? Atau kita memilihnya karena mereka memberikan sesuatu hadiah atau janji-janji yang melangit, menggunung dan luas seperti samudra? Indonesia negara yang kaya sumber daya. Sejarah kemerdekaan dan kedaulatan dari penjajahan dan kesadaran kebangsaan (nasionalisme) kita muncul  seiring dengan RRC, India. Kemerdkaan kita lebih dahulu ketimbang Malaysia, Singapura, Korea dan Vietnam. Kalau kita mau jujur, mengapa kita tertinggal dibandingkan dengan negara-negara tersebut, jawabannya adalah kegagalan kepemimpinan. Pemimpin pertama kita Soekarna, awalnya kita puja-puja dan kita agungkan, akhirnya kita jatuhkan. Pemimpin kedua, Soeharto juga kita jatuhkan setelah kita angkat beliau sebagai bapak pembangunan, pemimpin ketiga BJ. Habibi kita tolak pertangungjawabannya, pemimpin ke empat, Gur Dur kita lengserkan. Bagaimana dengan pimpinan kita kelima dan keenam? Keduanya kita anggap keduanya tidak memiliki kemampuan dan keberanian serta ketegasan. Siapa yang memilih mereka? Di mana peran pemuka agama dalam membimbing umat dalam memilih pemimpinnya? Silahkan kita melakukan instrospeksi dan muhasabah untuk menentukan masa depan bangsa. Kita harus berani mengambil pelajaran dari masa lalu untuk benar-benar mempertimbangkan kepada siapa suara kita berikan. Pikir dahulu pendapatan sesal kemudian tak berguna!

Penutup

FKUB adalah salah satu institusi yang dipandang sebagai sumber inspirasi perdamaian. Melaui dialog, mendengarkan aspirasi dan kemudian melakukan sosialisasi dan pemberdayaan masyarakat, FKUB dapat memberikan sumbangan untuk pembangunan karakter bangsa, termasuk karakter pemimpin dan kepemimpinan yang ideal bagi Indonesia. Pemahaman terhadap masalah bangsa dan solusinya juga perlu disampaikan oleh pimpinan umat beragama kepada jamaah masing-masing. Kita semua memiliki tanggung jawab terhadap kelangsungan perjalanan bangsa dan negara menuju cita-citanya, yakni negara Indonesia yang adil dan makmur berdasarkan Pancasila. Salah satu cara yang dapat dilakukan oleh para pemimpin agama dan tokoh masyarakat yang terhimpun dalam FKUB adalah melakukan reedukasi dan pemberdayaan umat agar menggunakan hak pilihnya dalam pemilu dan memilih pemimpin transformatif.

Imlek dan Dialog Lintas Agama dalam rangka Sukses Pemilu 2014

KH. Ahmad Syafii Mufid - Ketua FKUB Provinsi DKI Jakarta

KH. Ahmad Syafii Mufid – Ketua FKUB Provinsi DKI Jakarta

“Mengambil Pelajaran Dari Ajaran Kong Hu Cu Dalam Memilih Pemimpin Transformatif”

Pada tanggal 6 Februari 2014 bertempat di kantor Syarikat Islam Indonesia Jl. Taman Amir Hamzah No. FKUB Provinsi DKI Jakarta bekerjasama dengan Dewan Pimpinan Wilayah Syarikat Islam Provinsi DKI Jakarta menyelenggarakan peringatan maulid Nabi Muhammad SAW yang dikemas dalam bentuk dialog lintas agama. Hari ini, 25 Februari 2014 kita kembali bertemu untuk menyelenggarakan peringatan tahun baru Imlek 2565. Sama seperti peringatan hari besar keagamaan sebelumnya, maksud dan tujuan kita merayakan Imlek adalah dalam rangka pengembangan dialog lintas agama yang bertujuan untuk memperbaruhi ingatan kita tentang tokoh-tokoh besar yang berhasil mengubah dunia. Tokoh dunia, seperti Kong Hu Cu, telah terbukti mampu memberikan pelajaran masyarakat Tionghoa khususnya dan masyarakat dunia pada umumnya tentang tata hidup bermasyarakat.

K’ung Fu-Tze (551-479 sebelum Masehi), di kabupaten Lu, yang sekarang berada di provinsi Shantung. Huston Smith menulis, Kong Hu Cu lahir dari keluarga sederhana dan hidup dengan kesederhanaan pula. Untuk memenuhi kebutuhan hidup di masa kecil beliau mencari nafkah sendiri, mula-mula dengan kerja kasar. Penderitaan dan kemiskinan sejak masa muda tersebut menyebabkan beliau merasa mempunyai ikatan dengan orang kebanyakan. Setelah usia 15 tahun, beliau memusatkan perhatian pada ilmu pengetahuan dan pada usia 20-an telah menjadi guru privat dan pegawai pemerintahan. Selanjutnya beliau bekerja pada dunia pemerintahan. Karena itu beliau juga dikenal sebagai ahli pemerintahan yang oleh bangsa Cina, beliau dipandang sebagai guru, filosuf dan nabi. Orang Cina menyebutnya dengan penuh hormat sebagai guru pertama, bukan karena tidak ada guru sebelum beliau melainkan karena martabat beliau lebih tinggi dari semua guru yang lain. Beliau sendiri sangat rendah hati karena pembaharuan-pembaharuan yang beliau lakukan terhadap kebudayaan Cina, lebih suka menyebutkan dirinya sebagai “pecinta barang antik”. Beliau menyebarkan semangat pembaharuan dalam tata hidup masyarakat Cina dengan menekankan bahwa baik kalangan bangsawan maupun kalangan bawahan, masing-masing memiliki posisi atau kedudukan tersendiri. Pandangan inilah yang kemudian berkembang menjadi falsafah dasar agama Kong Hucu atau Konfusianisme. Pada masa dinasti Sung (960 Masehi-1279) ajaran Kong Hu-Cu mengalami pembaharuan berupa Neo Konfusianisme, yang lebih menitikberatkan pada keharusan menuntut ilmu selain masalah-masalah rohaniyah dan meditasi ( Insiklopedi Indonesia Edisi Khusus, Jilid 4 hlm 1917).

Penghormatan bahkan pemujaan kepada beliau bermula sejak wafatnya. Perhatian terhadap pikiran-pikirannya terlihat sampai dengan 2000 tahun sesudahnya. Tiap pagi anak sekolah Cina akan memberi salam dengan kedua belah telapak tangannya yang tergenggam kepada sebuah papan kecil yang bertuliskan nama Konfusius, sehingga ucapan-ucapan tersebut telah menjadi bagian dari cara berfikir Cina. Pemerintahan Cina, menurut Huston Smith juga sangat dipengaruhi oleh Konfusius dibandingkan dengan tokoh-tokoh lainnya. Banyak pengamatan yang memandang ajaran Konfusius sebagai suatu kekuatan intektual terbesar dari seperlima penduduk dunia. Kebesaran beliau dapat ditelusuri dari lima ajarannya yang terkenal. Pertama Jen yang berarti kebaikan dari manusia kepada manusia lainnya. Kedua, Chun-tzu yang berarti kemanusian yang benar, manusia yang sempurna, kemanusian yang terbaik. Ketiga, Li yang berarti kesopanan, juga berarti jalan tengah untuk hidup yang baik (chung yung). Pandangan ini di Barat dikemukakan oleh Arestoteles “jalan tengah agung” dan oleh Nabi Muhammad SAW “ umatan wasatan”. Keempat Te yang berarti kekuatan untuk memerintah manusia. Kong Hu Cu tidak sepakat dengan kaun Realis yang menyatakan untuk menciptakan pemerintahan yang efektif satu-satunya cara adalah dengan kekerasan. Sejarah membuktikan kebenaran Kong Hu Cu, dan paham penegakan pemerintahan dengan cara kekerasan adalah salah. Konsep terakhir, kelima, adalah Wen yang berarti “seni perdamaian” yang berlawanan dengan “seni berperang” Huston Smith, Agama-Agama Manusia, 2008). Sejarah kelam hubungan antarperadaban (konflik, perang dan pemusnahan) selalu datang silih berganti. Semua orang mengcam dan menyesali perbuatan itu. Di tengah-tengah perang peradaban selalu muncul kisah kepahlawanan dalam bentuk perdamaian sebagaimana dilakukan oleh Santo Fransiskus dari Assisi versus Sultan Malik al Kamil dari Mesir pada 1219 yang dapat mengakhiri perang salib yang telah berlangsung dua abad (Paul Moses, The Crusades,Islam, and Francis of Assis’is Mission of Peace, 2009).

Indonesia mesti belajar kepada Kong Hu Cu dan juga tokoh-tokoh dunia yang lain. Mengapa demikian? Pertama, kita memiliki Pancasila sebagai falsafah bangsa dan dasar negara yang juga merupakan “jalan tengah”, tetapi seringkali disalahpahami dengan ekstrimitas pemahaman. Jalan tengah yang pernah dicoba oleh Bung Karno dengan Nasakom gagal total karena ada unsur yang ingin memaksakan paham dengan hegemoni ideologi komunisme. Ideologi agama yang ditawarkan oleh SM Kartosoewiryo juga tidak bisa diterima oleh bangsa Indonesia, sekularisme asertif yang pernah diterapkan pada awal orde baru juga gagal. Sebagai bangsa, kita sudah kehilangan banyak waktu untuk mengejar ketertinggalan. Lahirnya Cina modern, Korea, India, Brasilia hampir bersamaan dengan kemerdekaan Indonesia. Sekedar untuk membangkitkan semangat, kemajuan apa saja yang telah dicapai oleh negara-negara tersebut jika dibandingkan dengan Indonesia? Kita tertinggal, bahkan oleh negara kecil tetangga kita seperti Singapura, Malaysia, Brunei dan disusul pula oleh Vietnam. Inilah tantangan yang kita hadapi bersama, yakni membangun “jiwa dan raga” untuk Indonesia Raya.

Membangun serbuah bangsa dan peradaban diperlukan pemimpin dengan sistem kepemimpinan yang terukur. Sistem demokrasi adalah jawaban yang kita pilih. Namun sayang, kita gagal memilih pemimpin secara demokratis. Bung Karnodan Bung Hata kita pilih melalui Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) tanggal 18 Agustus 1945, tetapi mengapa 20 tahun kemudian kita turunkan? Jendral Soeharto kita pilih sebagai presiden 1966 dan kembali kita turunkan pada tahun 1998? Presiden Habibi secara konstitusional menggantikan presiden Soeharto, nasibnya juga kurang lebih sama, karena pertanggungjawabannya ditolak. Presiden Abdurrahman Wahid dipilih oleh MPR tetapi tragis, beliau juga diturunkan oleh MPR. Presiden Megawati menggantikan Gus Dur melalui sidang MPR, tetapi banyak pihak mengecamnya sehingga tidak terpilih pada Pemilu berikutnya. Kini Presiden SBY yang semula dielu-elukan, kita menuai kecaman dan ditinggalkan. Beginikah cara kita membangun kepemimpinan? Lebih setengah abad kita merdeka, tetapi kita sesungguhnya belum cerdas dalam memilih pemimpin. Kita tidak pernah mencari tahu siapa sebenarnya yang kita pilih sebagai pemimpin. Kita terpesona dengan iklan dan janji-janji, kita terjebak dalam pemilihan pemimpin yang bercorak transaksional. Kita percaya penuh dengan survey terkait ektabilitas dan aksebtabiltas seorang tokoh, tetapi kita paham apa itu survey dan siapa yang disurvey. Pikir dahulu pendapatan sesal kemudian tak berguna, itulah pepatah yang kita telah abaikan.

Pemikiran dan fakta di atas mendorong FKUB Provinsi DKI Jakarta melakukan serangkaian dialog lintas agama untuk mencari mutiara ajaran agama untuk mengenali sosok pemimpin yang ideal dan transformatif. Dengan cara demikian diharapkan FKUB dapat melaksanakan sosialisasi dan pemberdayaan kerukunan dalam pengertian yang substansial. Kalau kita berhasil melaksanakan Pemilu yang jujur, adil, cerdas dan damai berarti kita juga telah meningkatkan kualitas Pemilu legislatif dan eksekutif dengan berhasil dipilihnya pemimpin (anggota DPRD, DPD dan DPR serta Presiden dan wakil presiden) yang bersifat transformatif. Saatnya kita memilih orang-orang yang menurut keyakinan keagamaan kita terbaik dan juga telah terbukti baik dalam sejarah.

[1] Pokok-pokok pikiran disampaikan pada Imlek Lintas Agama di Mio TMII Jakarta, 25 Februari 2014

Refleksi dan Catatan Kerukunan Umat Beragama Tahun 2013

KH. Ahmad Syafi'I Mufid

KH. Ahmad Syafi’I Mufid

oleh: KH. Ahmad Syafi’i Mufid

Kerukunan umat beragama di Indonesia pada tahun 2013 masih menjadi perhatian beberapa pihak. Kementerian Agama, Puslitbang Kehidupan Keagamaan telah menyiapkan laporan tahunan Kehidupan Keagamaan di Indonesia tahun 2013. Dalam laporan tersebut juga menggambarkan bagaimana perkembangan dan dinamika kerukunan. Sementara Human Rights Watch pada tahun 2013 telah mengeluarkan monograf dengan judul “ Pelanggaran terhadap minoritas agama dengan mengatas namakan agama”. Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) lainnya seperti Wahid Institute, Setara maupun lembaga perguruan tinggi kemungkinan besar akan merilis laporan mereka tentang kerukunan umat beragama. Seperti apakah wajah kerukunan umat beragama di Indonesia pada tahun ini?

Ada sementara pihak yang pesimis bahwa kehidupan beragama di Indonesia semakin tidak toleran. Sederet bukti dilampirkan untuk mendukung pernyataan tersebut. Memang benar masih ada sisa masalah Syi’ah di Sampang, Syi’ah di Jember dan beberapa tempat lainnya karena intoleransi yang diakibatkan propaganda dan profokasi yang saling menghujat satu terhadap yang lain. Begitu juga masalah Ahmadiyah, meskipun tidak sekeras tahun-tahun sebelumnya, pada tahun ini juga masih terdapat kasus penutupan rumah ibadat mereka di Jatibening Bekasi. Kasus-kasus penolakan ijin pendirian rumah ibadat juga masih muncul di beberapa tempat. Masalah kerukunan umat beragama seperti itu, menurut HRW antara lain disebabkan atauran dan lembaga negara memfasilitasi diskriminasi dan pelanggaran. Menurut catatan HRW, hingga 2010, Indonesia memiliki sekitar 156 ketentuan peraturan, keputusan menteri, dan aturan turunannya yang membatasi kebebasan beragama, sebagain besar merujuk pembenarannya pada pasal 28J UUD 1945. Catatan di atas mewakili pandangan pesimistis, bahwa kebebasan beragama di Indonesia masih menjadi fenomena tak kunjung selesai.

Pandangan optimisme pengelolaan kerukunan umat beragama juga muncul dari berbagai kajian ilmiah dan opini yang berkembang dalam pertemuan lintas agama akhir-akhir ini. Puslitbang Kehidupan Keagamaan pada tahun 2012 telah melakukan survey nasional kerukunan umat beragama di Indonesia. Survey ini menjangkau 33 provinsi dengan responden berjumlah 3.300 dengan margin of error 1,7 %. Hasil survey menunjukkan bahwa tingkat kerukunan umat beragama di Indonesia mencapai di atas angka 3,67 dari skala 5. Data tersebut menunjukkan bahwa kondisi kerukunan di Indonesia pada saat itu sudah cukup harmonis. Pada tahun 2013, Appeal of Conscien Foundation (ACF) di New York, memberikan penghargaan “World Statesman Award” kepada Presiden Susilo Bambang Yudoyono. Meskipun awalnya banyak aktifis yang menentang, akhirnya penghargaan tersebut diterima karena sebagai penghargaan kepada seluruh umat beragama yang bekerja keras dalam menjaga keharmonisan hidup berbangsa dan bernegara.

Optimisme wajah kerukunan umat beragama juga tergambar dari munculnya Inspres N0.2 Tahun 2013 tentang Penanganan Gangguan Keamanan Dalam Negeri, beberapa inisiatif dan kreatifitas masyarakat dan semakin sentralnya peranan Forum Kerukunan Umat Beragama. Dengan Inpres no.2 tahun 2013, kementerian dan lembaga pemerintah dari tingkat pusat hingga daerah banyak melakukan kegiatan dialog, dan kegiatan lainnya dalam rangka peningkatan kualitas kerukunan umat beragama. Masyarakat pun menyambut antusias setiap upaya membangun, memelihara dan mengembangkan kerukunan. Di Temanggung terdapat upacara “nyadran” bersama antara umat Islam dengan umat Katolik di desa Ngemplak untuk menghormati tokoh leluhur mereka. Kegiatan pemuda lintas agama sebagaimana yang dikembangkan dalam bentuk Kemah Pemuda Lintas Agama atas inisiatif FKUB Generasi Muda Jawa Tengah. Dialog juga diselenggarakan secara intensif oleh FKUB di banyak daerah. Pelaksanaan dialog ini ternyata melibatkan majelis-majelis agama, tidak saja dalam penyelenggaraan tetapi juga pembiayaan. Majelis-majlis agama telah merasa memilki FKUB.

Peran FKUB dan posisinya dalam pemeliharaan kerukunan juga semakin dirasakan sentral. Pemerintah Daerah meskipun tidak merata, telah memberikan fasilitas dan pendanaan untuk kegiatan operasional dan pelayanan sebagaimana yang menjadi tugas forum. Kemenko Polhukam, Kemenko Kesra dan kementerian serta lembaga negara lainnya telah berusaha dengan sungguh-sungguh dalam pemberdayaan FKUB. Diseminasi informasi keberhasilan FKUB tertentu telah dilakukan oleh Kemenko Polhukan dan Watipres bidang Kerukunan Umat Beragama. Tentu saja perkembangan yang sangat menggembirakan, manakala tugas pengelolaan kerukunan umat beragama dilakukan oleh banyak kementerian dan lembaga, dan tidak semata-mata dilakukan oleh Kementerian Agama dan Kementerian Dalam Negeri. Kongres FKUB (silatnas 2013) dan rapat kordinasi nasional FKUB juga terus diposisikan sebagai rapat kerja nasional dalam rangka optimalisasi peranan FKUB dalam pemeliharaan kerukunan.

Tentu saja, kita masih harus berkerja lebih cerdas dan keras dalam rangka membangun dan memelihara kerukunan. Pasalnya, seiring dengan keterbukaan informasi, kebebasan berpendapat dan berserikat, konflik antarkelompok yang terjadi di luar negeri juga berdampak negatif bagi kerukunan umat beragama di Indonesia. Kasus peledakan di Vihara Ekayana, Jakarta Barat menunjukkan adanya hubungan antara kisruh politik di Myanmar juga merembet ke Indonesia. Arab spring di Timur Tengah, ketegangan di Israel yang tidak pernah surut, juga menjadi pemicu lahirnya pemahaman radikal di sebagaian kalangan warga. Kondisi politik dalam negeri yang semakin dekat dengan suksesi kepemimpinan nasional, tentu memberi pengaruh terhadap kerukunan umat beragama. Oleh karena itu apa yang telah dapat dicapai pada tahun 2013 ini mudah-mudahan dapat dipertahankan. Tugas pemerintah adalah menunjukkan kinerja yang baik dalam program dan kegiatan bina damai, ketimbang larut dalam wacana dan silang pendapat mengenai ketidakhadiran negara dalam kerusuhan sosial atas nama agama. Begitu juga Forum Kerukunan Umat Beragama perlu secara terus menerus melakukan fungsi yang diamanatkan dalam BPM N.9 dan No.8 Tahun 2006 di samping menjembatani dialog antar anggota majelis agama demi terwujudnya masyarakat yang toleran dan harmonis. Kita tinggalkan tahun 2013 dengan optimisme kerukunan yang semakin baik, demi terwujudnya Pemilu 2014 yang berkualitas dan mengahasilkan pemimpin transformatif untuk masa berikutnya.

Selamat untuk semua, selamat tahun baru 2014

1 2 3 4