FKUB DKI Jakarta Menggelar Pentas Seni Budaya di Balai Kota

Gubernur Provinsi DKI Jakarta, Djarot Syaiful idayat memberikan sambutan.

(FKUB Jakarta) Provinsi DKI Jakarta merupakan barometer bagi bangsa Indonesia, karena Jakarta adalah Ibukota Negara sekaligus miniatur Indonesia. Provinsi DKI Jakarta memiliki tantangan besar memelihara keharmonisan dan kerukuanan antar umat beragama ditengah –tengah warganya yang multi etnis dan beragam latar belakang.

Forum Kerukunan Umat Beragama) DKI Jakarta bersama Alumni SABDA (Sekolah Agama dan Bina Damai) menyelenggarakan kegiatan pentas seni dan budaya anak lintas iman bertema ‘Indonesia Bangkit’ bertempat di Pendopo Balaikota DKI Jakarta, Jl. Medan Merdeka, Jakarta Pusat, Sabtu siang (23/09/17).

Kegiatan pentas seni ini mementaskan pagelaran berbagai aktifitas anak-anak seperti permainan, mewarnai, dongeng serta pentas kesenian dan musik tradisional Indonesia yang diikuti sebanyak 600 anak-anak lintas iman utusan sekolah PAUD, TK, SD, dan SMP yang berasal dari agama Islam, Katolik, Kristen, Buddha, Khonghucu, dan Hindu.

Dalam acara tersebut dimeriahkan oleh Tarian Pencak Silat, Pertunjukan musik Angklung, Barongsay dan tarian tradisonal lainnya yang merupakan partisipasi dari masing masing majelis agama.

Menurut  KH. Ahmad Syafii Mufid selaku ketua FKUB Provinsi DKI Jakarta,  kegiatan ini diselenggarakan bertujuan untuk menanamkan arti kerukunan sejak dini.

Untuk merekatkan kebhinekaan yang didambakan, meneguhkan kembali kebersamaan anak-anak maupun seluruh lapisan masyarakat dalam mewujudkan cita-cita Proklamasi Republik Indonesia.

“Acara kita helat dengan harapan dan tujuan agar Jakarta lebih baik lagi, damai hidup bersama dan menjaga kerukunan,”

Ahmad Astamar selaku ketua panitia penyelenggara menambahkan, bahwa keberagaman identitas bangsa Indonesia merupakan anugerah Tuhan Yang Maha Esa yang patut kita dirawat dan disyukuri.

Sementara itu, Gubernur DKI Jakarta Djarot Saiful Hidayat dalam sambutannya mengungkapkan kegembiraannya menyaksikan pentas seni yang ditampilkan sejumlah anak lintas agama yang berasal dari berbagai sekolah di Jakarta ini.

“Saya senang sekali, saya bangga kepada anak-anak kita, yang kemudian menggugah tentang komitmen bahwa anak-anak ini harus diperlakukan sama,” kata Djarot.(fkub/budi)

KH. Syafii Mufid: “Halal Bihalal itu Budaya Indonesia”

KH. Ahmad Syafii Mufid – Ketua FKUB Provinsi DKI Jakarta

(FKUB Jakarta) Halal bihalal, dan silaturrahmi merupakan ritual yang sangat baik untuk dijaga dan dilestarikan. Karena ritual beragama, itu mampu memperkokoh kerukunan kehidupan berbangsa dan kerukunan antar umat beragama.

Silaturrahim dan halal bihalal juga menjadi bukti bahwa Islam adalah agama yang cinta damai dan anti konflik. Ritual keagamaan itu menandakan antara Islam dan Indonesia sudah menyatu dan saling mendukung.

Dalam rangka memperingati Hari Raya Idul Fitri 1438 H, Alumni Sekolah Agama-Agama Bina Damai (SABDA) FKUB Provinsi DKI Jakarta menyelenggarakan acara Halal Bihalal di Kantor FKUB Provinsi DKI Jakarta (27/7/2017).

Kegiatan ini bertujuan untuk menjalin silaturahmi antara alumni-alumni SABDA angkatan pertama sampai dengan angkatan kelima dengan para pengurus FKUB DKI Jakarta.

Pada kesempatan itu, Ketua FKUB Provinsi DKI Jakarta -KH. Ahmad Syafii Mufid memberikan paparan tentang nilai Filosofi Halal Bihalal.

Menurut beliau, pada saat menuntut ilmu di Belanda, mengamati di negara manapun Turki, Arab, Inggris dan Negara lainya tidak pernah ada budaya Halal Bihalal. Yang ada Budaya Halal Bihalal itu hanya di Indonesia. Dan budaya toleransi dan halal bihalal sudah dipraktekkan oleh kakek moyang kita bangsa Indonesia sejak jaman dahulu kala.

“Halal Bihalal itu asli budaya bangsa Indonesia, dan merupakan budaya toleransi”

Syafii Mufid menambahkan, yang menjadi simbolik halal bihalal adalah Ketupat dan Lepet. Ketupat yang mengandung filosofi mengakui kesalahan, dan Lepet mengandung filosofi saling melekat manjadi rukun.

Halal Bihalal mempunyai makna integratif dalam masyarakat maupun bangsa dan negara. Jadi intinya Halal Bihalal merupakan wadah yang pas untuk Bina Damai.

Perdamaian Abadi mungkinkah diwujudkan di dunia ini? Perdamaian di mulai dari diri sendiri dan masyarakat sekitarnya. Kedepannya agama akan lebih penting lagi diperlukan untuk mewujudkan Perdamaian Dunia dibanding senjata. Tetapi pertanyaannya adalah Agama yang seperti apa? Agama yang menjunjung tinggi akhlak nur Karimah, pungkasnya.

Kegiatan Halal Bihalal ini dihadiri oleh Kesbangpol DKI Jakarta, Dit. Intelkam Polda Metro Jaya, Pengurus FKUB DKI Jakarta, FKUB Wilayah dan Alumni Sabda, jumlah peserta yang hadir kurang lebih seratus orang.(budi/fkub)

KH. Syafii Mufid: Rekonsiliasi dan Mediasi Pasca Pilkada

(FKUB Jakarta) Dinamika politik pasca penyelenggaraan Pilkada Gubernur dan Wakil Gubernur Provinsi DKI Jakarta 2017 memunculkan polirisasi di masyarakat. Polarisasi disebabkan oleh pemanfaatan isu primodial terkait suku, agama, ras dan antargolongan disertai ujaran kebencian.

Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Provinsi DKI Jakarta dalam hal ini tidak boleh memihak kepada salah satu calon. FKUB Provinsi DKI Jakarta selalu berupaya untuk menyatukan pihak-pihak berselisih.

Alhamdulillah Pilkada Gubernur dan Wakil Gubernur Provinsi DKI Jakarta tahun 2017 dapat berjalan dengan lancar dan aman tanpa ada kerusuhan yang berarti.

“Setelah terpilihnya Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta yang baru pasca Pilkada, mari semua pihak yang terpecah untuk  menjadi satu membangun Kota Jakarta” ujar KH. Syafii Mufid pada saat memberikan materi pada lokakarya “Mediasi dan Resolusi Konflik Keagamaan” di Villa Renata Cipanas, (26/7/2017)

Lokakarya Mediasi dan Resulusi Konflik Keagamaan diselenggarakan oleh PUSAD Paramadina bekerjasama dengan Magister Perdamaian dan Resolusi Konflik Universitas Gadjah Mada (MPRK) Jogjakarta dan FKUB Provinsi DKI Jakarta, berlangsung selama empat hari, 24-27 Juli 2017 di Villa Renata – Cipanas, Cianjur Jawa Barat.

FKUB DKI Jakarta telah melakukan Rekonsiliasi dan Mediasi Pasca Pilkada DKI Jakarta 2017 untuk menyatukan pihak-pihak yang bertikai untuk menjadi satu kembali.

Upaya-upaya yang dilakukan FKUB DKI Jakarta adalah, Program 100 hari rekonlisiasi antar pendukung, Perlu memberikan penjelasan kepada elit, bahwa pilkada adalah kontestasi, Stop reproduksi Isu SARA, Melakukan Silaturrahmi dan Saling Memaafkan dan Mengumpulkan para tokoh muslim dan non muslim untuk saling memaafkan setelah kejadian Pilkada.

“Alhamdulillah FKUB DKI Jakarta dapat berperan dalam pelaksanaan rekonsiliasi dan mediasi pasca pilkada DKI Jakarta 2017”, imbuhnya.

Syafii menambahkan, FKUB DKI Jakarta kini telah berkembang menjadi lembaga Bina Damai, tidak hanya melakukan tugas pokok saja, tapi bias berperan dalam mencipktakan kedamaian di Jakarta.

Prinsip FKUB DKI Jakarta dalam menjaga kerukunan Kota Jakarta adalah “Mengagungkan Tuhan, Memuliyakan Manusia”,(budi/fkub)

Lokakarya Mediasi dan Resolusi Konflik

(FKUB Jakarta) PUSAD Paramadina menyelenggarakan lokakarya “Mediasi dan Resolusi Konflik Keagamaan” dengan melibatkan pengurus Forum Kerukunan Umat Beragama yang ada di wilayah Jakarta, Tangerang Selatan dan Kab. Gunung Kidul bertempat di Villa Renata – Cipanas, selama empat hari dari tanggal 24 sampai dengan 27 Juli 2017.

Kegiatan ini bertujuan untuk berbagi pengalaman memediasi konflik, meningkatkan kemampuan dalam mediasi serta resolusi konflik, dan melembagakan mediasi dan resolusi konflik di FKUB

PUSAD Paramadina menemukan salah satu masalah krusial dihadapi FKUB dalam menjalankan fungsinya yaitu kemampuan memediasi konflik. Oleh sebab itu, PUSAD Paramadina mengadakan pelatihan mediasi konflik keagamaan bagi anggota FKUB.

Kegiatan lokakarya ini diselengara oleh PUSAD Paramadina bekerjasama dengan FKUB Provinsi DKI Jakarta, dan Magister Perdamaian dan Resolusi Konflik Universitas Gadjah Mada (MPRK) Jogjakarta, diikuti oleh utusan dari FKUB Provinsi DKI Jakarta empat orang, utusan FKUB Wilayah Jakarta Utara enam orang, FKUB Kota Tangerang Selatan enam orang dan FKUB Kab. Gunung Kidul- Yogyakarta sebanyak enam orang.

Lokakarya yang berlangsung selama Empat hari itu diisi dengan materi-materi : Pertama, Agama dan Bina Damai, Kedua, Peluang dan Tantangan Resolusi Konflik, Ketiga, Pelembagaan Mediasi Konflik Keagamaan, Keempat, Komunikasi efektif, Kelima, Praktik Mediasi dan Resolusi Konflik, Keenam, Mediasi dan Resolusi Konflik: Pengalaman FKUB Provinsi DKI Jakarta dan Ketujuh, Rencana Tindak Lanjut.

Sebagai narasumber antara lain: Ihsan Ali Fauzi – Direktur PUSAD Paramadina, KH. Ahmad Syafii Mufid – Ketua FKUB Provinsi DKI Jakarta, Rizal Pangabean dan Titik Firawati dari Universitas Gadjah Mada.(budi/fkub)

FKUB DKI Jakarta Teken Nota Kesepahaman Dengan Yayasan Global Peace Foundation

Ketua FKUB DKI Jakarta - KH. Ahmad Syafii Mufid (kiri) dan Dr. Chandra Setiawan- Ketua Yayasan Global Peace Foundation Indonesia

Ketua FKUB DKI Jakarta – KH. Ahmad Syafii Mufid (kiri) dan Dr. Chandra Setiawan- Ketua Yayasan Global Peace Foundation Indonesia

(FKUB Jakarta) Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Provinsi DKI Jakarta teken nota kesepahaman dengan Yayasan Perdamaian Global Indonesia (Global Peace Indonesia Foundation) terkait dengan upaya menciptakan perdamaian dan kerukunan umat beragama melalui kegiatan dibidang kepemudaan dan pembangunan ekonomi dengan semangat Bhinneka Tunggal Ika, dikantor FKUB DKI Jakarta, Ghara Mental Spiritual Lt.4 – Jl. Awaludin II, Kebun Melati – Tanah Abang – Jakarta Pusat (6/6/2017).

Kegiatan penandatangan Memorandum of Understanding (MoU) ini dimaksudkan adalah sebagai dasar kemitraan Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) DKI Jakarta dengan Yayasan Perdamaian Global Indonesia untuk meningkatkan koordinasi dalam pendayagunaan kelembagaan lainnya secara terencana, terkoordinasi, terorganisir, terpadu dan menyeluruh serta mensinergikan kegiatan-kegiatan dalam mendukung upaya menciptakan perdamaian dan kerukunan umat beragama di Provinsi DKI Jakarta khususnya dan bagi Indonesia pada umumnya.

Dalam sambutannya ketua FKUB Provinsi DKI Jakarta, KH. Ahmad Syafii Mufid mengucapkan terima kasih atas kepercayaan Global Peace Indonesia Foundation mau bekerjasama dengan FKUB DKI Jakarta.

“Dengan kehadiran lembaga GPF ini menghadirkan semangat baru, Prespektif baru dan karya baru buat FKUB Jakarta”.

Ketua FKUB DKI Jakarta berharap dengan kerjasama ini mampu menciptakan kerukunan dan perdamaian di Jakarta khususnya dan Dunia.

Sementara itu Dr. Chandra Setiawan selaku pimpinan Global Peace Indonesia Foundation menjelaskna bahwa, GPF bediri dari tahun 2010, dan sudah banyak memiliki hubungan dengan oganisasi diseluruh dunia.

Global Peace Indonesia Foundation pada 2010 mengadakan Global Peace Festival Asia Pastific, bekerjasama dengan NU, dan melibatkan para tokoh agama dilaksanakan di Glora Bung Karno yang dihadiri oleh 35.000 orang peserta.

IMG_1513

Menurut Chandra, “Perdamaian itu tidak akan terwujud kalau kita tidak menganggap bahwa kita ini bersaudara sesama manusia”.

Chandra menambahkan, kerjasama lintas agama adalah salah satu caru untuk mencapai persaudaraan dengan rasa damai.Dunia kalau mengabaikan posisi umat lintas agama maka perdamaian tidak mungkin akan tercapai, jadi kerjsama itu sangat penting, imbuhnya.

Chandra juga meyakini bahwa, keluarga menjadi pondasi untuk melangkah lebih jauh, jadikan keluarga menjadi sekolah yang mengajakan cinta kasih.

Perlu kita tanamkan kepada anak-anak agarmemiliki semangat melayani sejak dini sehingga bisa menyadari bahwa tidak ada orang yang bisa hidup sendiri didunia ini.

“Hidup kita harus berati buat orang lain, kebaikan itu tidak hanya untuk dirinya sendiri tapi kebaikannya itu bemanfaat buat orang lain”.

Chadra juga berharap, kerjasama dengan FKUB Jakarta bisa merekatkan kembali kerukunan pemuda-pemuda lintas agama yang sempat terkoyak akibat pengaruh Pilkada DKI Jakarta, dan terjadi kemerosotan yang luar biasa teruatama melalui pengunaan media sosial.

FKUB Jakarta merupakan salah satu FKUB yang terbaik di Indonesia sehingga bisa menjadi contoh, dan bisa menunjukan bahwa DKI Jakarta ini menjadi pusat perdamaian, pungkasnya.(fkub/budi)

Ka.Kesbangpol, H. Darwis Adji:”Semata-mata tugas Kesbangpol itu Untuk Menjadikan Kota Jakarta Aman”

Darwis(FKUB-Jakarta) Badan Kesatuan Bangsa dan Politik Povinsi DKI Jakarta kembali menyelenggarakan kegiatan Peningkatan Kerukunan Umat Beragama  2017 di Gedung ESGP, Jl.Wika No.17 Rt.04/06 Srengseng Sawah – Jagakarsa- Jakarta Selatan, Kamis 4/5/2017.

Kegiatan Peningkatan Kerukunan Umat Beragama tahun 2017 kali ini merupakan angkatan ketiga, yang bertujuan untuk memberikan penyuluhan kepada tokoh agama, tokoh masyarakat dan tokoh etnis yang ada di wilayah kecamatan Jagakarsa, serta membangun sikap beragama dan sikap toleransi antar umat agama sehigga dapat terciptanya kerukunan antar umat beragama diwilayah Jagakarsa.

Pada kesempatan itu Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik Provinsi DKI Jakarta – H. Darwis M. Adji, M.Si berkesmpatan memberikan sambutan dan sekaligus membuka acara tersebut.

Dalam sambutannya Darwis Adji menjelaskan tentang tugas dan fungsi Kesbangpol Provinsi DkI Jakarta, Pertama: Menyatukan masyarakat yang ada di Provinsi DKI Jakarta yang beda agama, Etnik, budaya dan pilihan politik, Kedua: Sesuai Undang-undang no.17 thn 2014 kepala Kesbangpol merangkap sebagai sekretaris komunitas intelijen daerah, dan yang Ketiga: Kepala Kesbangpol merangkap sebagai kepala secretariat forum pimpinan daerah, dan Ka.Kesbangpol juga sebagai Pembina Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Provinsi DKI Jakarta.

“Semata-mata tugas Kesbangpol itu untuk menjadikan Kota Jakarta aman,  dengan menajaga ketertiban masyarakat, menjaga toleransi antar umat beragama dan suku yang ada di Jakarta”

Darwis menambahkan, tercatat di Kesbangpol Provinsi DKI Jakarta ada 37 suku dari seluruh Indonesia yang tinggal di Jakarta dan secara umum dapat hidup berdampingan dan rukun damai.

Selanjutnya Ka.Kesbangpol mengajak kepada seluruh peserta dan seluruh warga Jakarta untuk kembali bersatu, tidak ada lagi dukung mendukung pasca Pilkada Gubernur dan wakil Gubernur Jakarta 2017.

Tidak ada lagi di Gereja kutbah yang mendukung salah satu paslon, tidak adalagi ceramah di masjid yang mengatakan jangan memilih pemimpin kafir, jadi mari kita sekarang rukun dan bersatu, pungkasnya.

Kegiatan Peningkatan Kerukunan Umat Beragama tahun 2017 angkatan Ketiga ini terselenggara atas kerjasama Badan Kesatuan Bangsa dan Politik dan Alumni Sekolah Agama-Agama dan Bina Damai (SABDA) FKUB Provinsi DKI Jakarta, dan peserta yang hadir pada saat itu berjumlah 75 orang dari unsur tokoh agama, tokoh masyarakat dan pihak keamanan wilayah kecamatan Jagakarsa.

Adapun yang menjadi narasumber: H. Ahmad Astamar dari FKUB Provinsi DKI Jakarta, AKBP Jajang Hasan Basri dari Polda Metro Jaya dan Firdaus Syam, MA PhD(Dosen Pasca Sarjana Universitas Nasional) dan yang menjadi moderator H. Edy Supriyadi, S,Kom., MM alumni SABDA.(fkub/budi)

DPD Walubi Jakarta Menggelar Acara Karya Bakti

IMG-20170430-WA0033(FKUB-Jakarta) Dalam rangka menyambut Hari Raya Waisak 2561, DPD WALUBI Jakarta menyelenggarakan kegiatan Karya Bakti di Taman Makam Pahlawan Nasional, minggu 30/4/17.

Kegiatan Karya Bakti dimulai dari pukul 07.00, diawali dengan upacara singkat dan doa bersama dipimpin oleh Bikkhu sangha, dan selajutnya diteruskan dengan kegaitan bersih-bersih makam pahlawan dan tabur bunga.

Menurut Pdt. Liem Wira Wijaya selaku ketua DPD Walubi Jakarta dalam sambutannya mengatakan bahwa, kegiatan bersih-bersih makam pahlawan ini merupakan ungkapan terima kasih kepada tokoh nasional yang kita anggap sebagai guru dan suri tauladan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

“Kita boleh berbangga bahwa hanya Walubi yang sudah bertahun-tahun secara berkesinambungan berkesempatan beramal bakti membersihkan taman makam pahlawan diseluruh Indonesia, khusunya di Provinsi DKI Jakarta”

Pdt. Liem menambahkan, sebagai umat Buddha kita memiliki seorang Buddha Gautama sebagai figur tauladan dalam kehidupan rohani. Sebagai mana yang diajaranya, kita berkewajiban menyatakan terima kasih kepada:

Pertama: Terima kasih kepada Hyang Triratna (Buddha, Dhamma dan Sanggha) yang telah memberikan bimbingan rohani kepada kita dalam mengarungi kehidupan, Kedua: berterima kasih kepada Negara dimana kita lahir, besar, berkarya dan mati nantinya, Ketiga: berterima kasih kepada orang tua yang telah melahirkan, membesarkan, memberikan pendidikan dan bimbngan bagi kita untuk menjadi manusia yang mandiri, berguna bagi keluarga dan masyarakat sekitar, Keempat: berterima kasih kepada guru yang telah mewariskan ilmu pengetahuan, ketrampilan sebagai bekal kita untuk hidup mandiri dan bermanfaat bagi bangsa dan Negara.

IMG-20170430-WA0045

Kegiatan Karya Bakti membersihkan makam pahlawan nasional ini merupakan salah satu rangkaian peringatan hari Trisuci Waisak.Hari Waisak memiliki tiga momentum penting bagi umat Buddha, yaitu kelahiran Siddharta Gotama, pencapaian menjadi Buddha dan mangkatnya Buddha. Untuk acara Waisak sendiri akan dilaksanakan di Candi Borobudur pada tanggal 11 Mei 2017.

Acara Karya Bakti kali ini diikitu oleh sekitar 650 umat Buddha di sekitar Jakarta.(fkub/budi)

Kesbangpol Dan FKUB Jakarta Gelar Dialog Peningkatan Kerukunan Umat Beragama

3

Para Narasumber (Ki-Ka) : Taufan Bakrie, Firdaus Syam, MA PhD, AKBP Jajang Hasan Basri dan KH. Ahmad Syafii Mufid

(FKUB-Jakarta) Badan Kesatuan Bangsa dan Politik Provinsi DKI Jakarta bersama Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Provinsi DKI Jakarta dan Polda Metro Jaya menyelenggarakan Dialog Lintas Agama yang dilaksanakan di kantor FKUB Provinsi DKI Jakarta, Jl. Awaludin II-Kebon Melati – Tanah Abang- Jakarta Pusat, Senin, 17 April 2017.

Kegiatan yang diberi nama “Peningkatan Kerukunan Umat Beragama Angkatan Pertama tahun 2017” diawali dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya dilanjutkan dengan sambutan dari Drs, Ridwan selaku Kepala Bidang Kerukunan Umat Beragama Kesbangpol DKI Jakarta.

Menurut Ridwan, dasar kegiatan adalah keputusan no2 thn 2017 tgl 3 jan 2017 tentang kesbangpol yang bertujuan memberi penyuluhan kepada tokoh agama, tokoh masyarakat dan tokoh etnis untuk membangun sikap beragama terutama toleransi.

Ridwan menambahkan, Kegiatan seperti ini akan dilaksanakan sebanyak empat puluh kali sepanjang tahun 2017, dibagi di lima wilayah.

Sementara itu, Taufan Bakri mewakili Kepala kesbangpol menambahkan, pertemuan ini sebagai tatap muka tokoh agama dengan masyarakat beserta Alumni SABDA FKUB Jakarta.

Pertemuan ini sebagai silahturahmi dengan berbagai umat beragama, karena sejak dulu sikap rukun sudah ada, sehingga kita jangan terprovokasi karena suasana pilkada,imbuhnya.

Taufan menjelaskan bahwa, akan mengupayakan Pilkada kali ini menjadi Pemilu yang gembira tanpa rasa takut untuk datang ke TPS, karena TPS akan dijaga oleh aparat keamanan sehingga TPS dalam kondisi aman.

KH. Ahmad Syafi’i Mufid -Ketua FKUB Provinsi DKI Jakarta yang menjadi narsumber pertama memberi makalah dengan judul “ Memelihara prinsip-prinsip kerukunan pada masyarakat muktikultural”.

Menurut Syafii Mufid, sejak 2015 FKUB sudah berikrar meneguhkan kembali komitmen kebangsaan dilanjutkan dengan diskusi dan dialog mengajak semua warga khususnya warga DKI membangun Jakarta yang damai dan aman.

Kegiatan kali ini memberi arahan bagaimana membagun kerukunan. Bagaimana roses sosial dimulai dari proses kasih sayang, tanpa proses kasih sayang manusia akan tumbuh menjadi orang yang tdak punya perasaan, imbuhnya

Kerukunan itu dibangun dengan mengembangkan etika dan spritualitas. Tafsir agama sebaiknya diambil dengan menjunjung tinggi kebersamaan. Antar kelompok mesti membuka diri, tidak eksklusif/kumpul dengan kelompoknya sendiri dan selalu membangun dialog.

Syafii Menambahkan bahwa, index kerukunan Umat Beragama di Provinsi DKI Jakarta berada di level 15 dari 34 provinsi. dan Index kerkunan umat beragama tertinggi di Indonesia ditempati oleh Provinsi Papua dan index yang terendah ditempati oleh provinsi Aceh, lanjutnya.

Kerukunan Umat Beragama di Jakarta sekarang ini sedikit terganggu dengan pelaksanan Pilkada Gubernur DKI Jakarta, dampak pilkada provinsi DKI Jakarta kali ini sangat luar biasa, tercipta saling curiga antar umat beragama. Dan FKUB provinsi DKI Jakarta dan Alumni SABDA mesti siap menjadi pemadam kebakaran konflik yang ada, tandasnya.

2

Pada sessi kedua yang menjadi narasumber Firdaus Syam, MA PhD(Dosen Pasca Sarjana Universitas Nasional) dengan materi paparan “Tumbuhkan Sikap Toleransi Melalui Spiritualitas Akidah Yang Benar Dan Kokoh”.

Menurut Firdaus, Indonesia ini dikarunia kekayaan yang luar biasa. Kemajemukan budaya, agama, flora fauna dan lain-lain. Ada banyak flora dan fauna yang ada di sini tidak ada di negeri orang. Tidak ada satupun suku yang tidak percaya Tuhan.

“Fitrahnya manusia adalah percaya adanya Tuhan”.

Firdaus menambahkan, Islam berasal dari kata Asalam yang artinya kasih sayang. Orang Islam di Indonesia sebagai agama mayoritas punya tanggung jawab besar mewujudkan kasih sayang dengan yang lain.

Tugas utama FKUB menciptakan kerukunan dengan cara membangun silahturahmi, menumbuhkan cinta kasih, saling mendoakan. Silahturahmi hendaknya dimulai dari keluarga, komunitas, masyarakat, pangkasnya.

Semantara itu AKBP Jajang Hasan Basri, S. Ag, M.Si. selaku Kabag Direktorat Bimas Polda Metro Jaya menjelaskan kondisi Situasi Aktual Kamtibmas Provinsi DKI Jakarta.

“Situasi Jakarta umumnya aman karena dapat dikendalikan. Situasi Kamtibmas saat ini ada 3 issue yang sedang hangat yaitu issue bangkitnya paham komunisme, issue Khilafah Islamiyah, issue Syariat Islam”

“Issue tersebut muncul dan beredar di media social dan kita perlu duduk bersama untuk mengklarifikasi issue tersebut”.

AKBP Jajang menambahkan, yang tidak kalah penting sekarang ini Issue Politik yang banyak menyita perhatian masyarakat,yaitu issue pilkada DKI Jakarta. Pilkada DKI Jakarta ini serasa pilpres. Akan tetapi Issue tersebut tidak perlu ditakutkan sampai tidak mau datang ke TPS.

“Kami sudah melakukan safari kamtibmas bersama FKUB Jakarta, berkunjung ke Gereja, Masjid, Klenteng, Pura, Vihara untuk menjaga stabilitas keamanan menjelang Pilkada Gubernur dan Wakil Gubernur Jakarta Putatan Kedua”.

Peserta dialog lintas agama ini diikuti oleh delapan puluh orang, perwakilan dari majelis agama diwilayah Jakarta Pusat. Dan yang menjadi panitia pelaksana kegiatan tersebut adalah Alumni SABDA FKUB Jakarta.(fkub/budi)

Ka.Kanwil Kementerian Agama Jakarta, Dr. Abdurrahman:”Pluralitas Ini Harus Kita Jaga Dan Rawat”

Dr. H.Abdurrahman - Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi DKI Jakarta

Dr. H.Abdurrahman – Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi DKI Jakarta

(FKUB-Jakarta) Kegiatan Sekolah Agama-Agama Dan Bina damai (SABDA) ini sangatlah penting. Karena ini merupakan salah satu icon dalam rangka merawat kerukunan di Jakarta.

Masalah kerukunan ini merupakan masalah yang dinamis dan terus bergerak. Kita tidak dapat bisa memastikan atau menjamin bahwa di negara Republik Indonesia ini tidak akan timbul konflik. Bahkan potensi ke arah konflik itu sangat besar, hal tersebut dikatakan Dr. H. Abdurrahman – Ka.Kanwil Kementerian Agama Povinsi DKI Jakarta pada acara SABDA Khusus penyuluh agama dikalangan kementrian Agama Povinsi DKI Jakata, pada hari Selasa, 11/4/2014 di Hotel Bahtera – Cipayung -Megamendung Bogor.

Indonesia ditinjau secara geografis terdiri dari banyak pulau dan suku bangsa serta berbagai agama yang hidup subur di negeri yang kita cintai ini. Artinya bahwa perbedaan menjadi satu keniscayaan di Republik kita ini. Sebagai orang bangsa Indoensia yang dilahirkan, tidak bisa tidak, kita dihadapkan kepada situasi yang majemuk (plural), tambahnya.

“Pluralitas inilah yang harus kita jaga dan rawat, Apalagi, kita sebagai sebuah bangsa yang besar. Dan menjadi tugas kita bersama bagaimana merawat kebhinekaan menjadi sesuatu yang biasa-biasa saja”.

Abdurrahman menambahkan, Negara memberikan kebebasan kepada penduduknya untuk melaksanakan agamanya sesuai dengan keyakinannya masing-masing. Di dalam Undang-undang sistem Pendidkan Nasional No.20 dikatakan bahwa setiap peserta didik berhak mendapatkan pendidikan agama sesuai dengan agama dan kepercayaan yang diyakininya. Misalnya, orang Islam yang belajar di sekolah non Islam maka dia berhak mendapatkan pendidikan agama sesuai dengan yang diyakini oleh anak murid tersebut. Begitu juga sebaliknya,  Ini merupakan tugas kita bersama dan tugas negara.

“Saya kira tidak ada di negara lain yang setiap hari besar keagamaan  pemerintah ikut memfasilitasi dengan memberi kesempatan libur kepada setiap pemeluk agama, bahkan menjadi hari libur nasional”, imbuhnya.

DSC00065

Mantan Ka.Kanwil Lampung ini menjelaskan bahwa, pemeliharaan kerukunan umat beragama dengan pemerintah adalah sebagai konsepsi alamiah sebagaimana konsepsi  Alamsyah seorang Menteri Agama yang terdahulu dengan Tri Kerukunan Umat Beragama. Kerukunan antar  umat beragama, kerukunan intern umat beragama dan kerukunan antar umat beragama dengan pemerintah.

Potensi ketidakrukunan antara umat beragama ini akan berimplikasi kepada ketidakrukunan secara nasional. Oleh karena itu pemerintah menyadari bahwa pangkal kerukunan itu adalah rukun antar sesama pemeluk agama, tambhanya.

Oleh Sebab itu, bagaimana kita membangun keragaman, realitas harmonis adalah keharusan. Artinya, bagaimana kita menjadikan Jakarta ini sebagai masyarakat yang ta’at beragama,

“Jakarta adalah barometer, tenangnya Jakarta akan menjadi tenangnya Republik ini. Bergolaknya Jakarta maka Republik ini akan terjadi gejolak”.

Pada kesempatan itu Ka.Kanwil menyampiakan harapannya kepada penyuluh – penyuluh agama baik itu penyuluh PNS maupun Non PNS bahwa tugas penyuluh itu adalah memberikan penerangan yang baik ditengah-tengah masyarakat.

“Saya berharap kepada saudara-saudara sekalian, baik itu penyuluh PNS maupun Non PNS bahwa tugas penyuluh itu adalah memberikan penerangan yang baik”

Dan diharapakan setelah mengikuti sekolah SABDA ini saudara-saudara telah memilili bekal bagaimana menjadi seorang tokoh itu memiliki sikap toleran.

Ka.Kanwil juga menegaskan bahwa, dengan bersikap toleran tersebut bukan untuk melacurkan diri. Bersikap toleran itu berarti memberikan penghargaan kepada orang lain untuk melaksanakan ajaran agamanya sesuai dengan keyakinannya masing-masing. Dan juga didalam menyebarkan agama itu tidak boleh menyebarkan kepada penduduk yang sudah beragama. Jadi, melakukan pembinaan atau penyebaran agama kepada umat masing-masing. Kecuali yang dimungkinkan oleh peraturan atau undang-undang, tegasnya.

Penyelenggaraan SABDA Khusus Penyuluh Agama ini atas kerjasama antara FKUB Provinsi DKI Jakarta denga Kantor Kementerian Agama Provinsi DKI Jakarta, dilaksanakan selama Tiga hari dari tanggal 11-13 April 2017 di Hotel Bahtera, Jl. Cipayung – Megamendung.

Peserta SABDA khusus Penyuluh agama ini diikuti oleh penyuluh Islam tiga belas orang, penyuluh Kristen enam orang, penyuluh Katolik enam, penyuluh Hindu enam orang, penyuluh Buddha  lima orang dan penyuluh Khonghucu empat orang dan jumlah totalnya empat puluh orang.sedangkan narasumbernya dari FKUB DKI Jakarta dan Global Peace Foundation.(fkub/budi)

 

FKUB DKI Jakarta Menyelenggarakan SABDA Khusus Penyuluh Agama

DSC00049

KH. Ahmad Syafii Mufid Ketua FKUB DKI Jakarta

(FKUB-Jakarta) FKUB Provinsi DKI Jakarta terus saja mencetak kader-kader perdamaian di wilayah provinsi DKI Jakarta, agar kerkunan dan kedamaian di Jakarta tetap terjaga dengan cara melaksanakan kegiatan Sekolah Agama-Agama Dan Bina Damai (SABDA).

Pelaksanaan SABDA kali ini, FKUB Jakarta bekerjasama dengan Kanwil Kementerian Agama Provinsi DKI Jakarta, dilaksanakan di Hotel Bahtera Jl. Raya Cipayung – Megamendung Bogor, berlangsung selama 3 hari dari tanggal 11-13 April 2017, dan yang  menjadi pesertanya adalah para penyuluh-penyuluh agama yang PNS maupun Non PNS Se DKI Jakarta.

Pada kesempatan itu, ketua FKUB Jakarta-KH. Ahmad Syafii Mufid memberikan sambutan sekaligus membuka kegiatan SABDA khusus penyuluh agama.

Dalam sambutannya, Syafii Mufid mengatakan bahwa, SABDA kali ini khusus untuk para penyuluh-penyuluh agama, makanya disebut SABDA Khusus. Kalau yang kemarin kita laksanakan itu untuk tokoh-tokoh agama, yang nantinya diharapkan menjadi pengganti FKUB atau untuk menjadi karib FKUB.

Kegiatan SABDA ini bertujuan untuk memberikan wawasan dan juga keterampilan kepada para penyuluh agama untuk menjadi pemandu kerukunan. Memandu kepada siapa saja agar terwujud kerukunan, lanjutnya.

Syafii Mufid menambahkan, bahwa sekarang ini sudah ada perubahan paradigma tentang penanganan konflik, bahwa  penaganannya bukan lagi dilakukan setelah terjadi konflik tapi bagaimana agar supaya tidak ada konflik atau sebelum ada konflik.

Kalau dalam bahasa usul fiqihnya darbul mafasid muqoddamu ‘ala jalbil masholih. Maksudnya, mencegah kerusakan itu lebih didahulukan dibandingkan membangun kebaikan. Oleh karena itu diupayakan jangan sampai ada konflik. Dihindari betul agar supaya tidak ada konflik, imbuhnya.

Konflik itu bisa terjadi karena banyak sebab. Ada konflik yang disebabkan karena persoalan rumah tangga, ada konflik yang disebabkan karena individu, ada konflik karena persoalan ekonomi, ada konflik yang disebabkan karena social dan bahkan ada konflik yang disebabkan karena persoalan agama. Hal itu semua jangan sampai terjadi.

Agar supaya tidak terjadi konflik maka yang harus dikembangkan adalah Bina Damai. Dan itulah yang namanya SABDA, yaitu Sekolah Agama-agama dan Bina Damai. Inilah paradigma baru penanganan konflik dengan memperkuat BINA DAMAI. Lalu bagaimana BINA DAMAI itu berjalan? Itulah SABDA bekerja. Jadi, harus dijadikan perdamaian ini menjadi nafas dunia, tegasnya.

Drs. H. Taufiq, M,M Kasubbag Hukun dan KUB Kementeian Agama Provinsi DKI Jakarta

Sementara itu Drs H. Taufiq, M,M selaku Kasubbag Hukum dan KUB Kementerian Agama Provinsi DKI Jakata mengucapkan terima kasih kepada FKUB yang telah bersedia membantu dalam merencanakan SABDA Khusus Penyuluh ini. Sebenarnya, kami sudah merencanakan ini sudah bertahun-tahun,imbuhnya.

Taufiq menambahkan, bahwa pelaksanaan acara ini berdasarkan hukum pada perundang-undangan yang berlaku pada Pasal 28 E UU No.1 PNPS Tahun 1965. Juga berdasarkan Peraturan Menteri No.16 Tentang organisasi di Kementerian Agama dimana tujuannya untuk menjaga dan memelihara kerukunaan agama di DKI Jakarta.

“Kami mengharapkan bahwa penyuluh agama nantinya menjadi ujung tombak Kementerian Agama dalam rangka memfilter apapun yang terjadi di Jakarta”.

Taufiq berharap, dengan adanya SABDA harmonisasi kehidupan antar umat beragama di wilayah Jakarta akan bisa terjalin. Apalagi sekarang ini menjelang Pemilu, dengan terselenggaranya SABDA merupakan bagian dari upaya untuk menciptakan kedamaian di wilayah DKI Jakarta. Dalam konteks acara ini bagaimana kita membina warga untuk lebih baik lagi, ujarnya.

Pada kegiatan SABDA khusus Penyuluh agama ini diikuti oleh penyuluh Islam tiga belas orang, penyuluh Kristen enam orang, penyuluh Katolik enam, penyuluh Hindu enam orang, penyuluh Buddha  lima orang dan penyuluh Khonghucu empat orang dan jumlah totalnya empat puluh orang.(fkub/budi)

 

1 2 3 4 18