Safari Kamtibmas, Ahmad Syafii Mufid:”Pikiran Kita Harus Terang Benderang Dan Terbuka Dalam Mengikuti Pemilukada”

1(FKUB-Jakarta) Forum Kerukunan Umat Beragama ada di masyarakat untuk saling merekatkan umat dari berbagai agama. Membangun kebersamaan antar umat beragama dan tokoh lintas agama di Provinsi DKI Jakarta.

Tujuan diadakan safari kamtibmas silaturahmi ini untuk menyerukan dan menggugah segenap umat beragama di DKI agar mau mewujudkan pemilukada yang aman, untuk Jakarta kita tercinta, boleh damai dan rukun walau sedang berada dalam situasi panas saat pemilukada. Hal tersebut disamapaikan ketua FKUB Provinsi DKI Jakarta – KH. Ahmad Syafii Mufid pada acara Safari Kamtibmas di Klenteng Kong Miao, Sabtu, 8/4/2017.

Ahmad Syafii menambahkan, diharapkan pikiran kita sebagai umat beragama terang-benderang dan terbuka dalam mengikuti pemilukada kita ini.

“Pilihlah pimpinan yang menggunakan hati-otak-kaki-tangan dengan sebaik-baiknya dengan pikiran kita yang sejernih-jernihnya”lanjutnya.

Kerukunan di DKI Jakarta masih relatif rendah. Maka mari kita dengan penuh kesadaran yang matang sadari itu, jangan sampai ada pihak-pihak dari luar kalangan agama yang ingin kita berantem terus yang berakibat Jakarta tidak maju-maju. Dalam hal ini sangat perlu sekali kita tingkatkan kewaspadaan terhdap oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab itu, pungkasnnya.

2

Sementara itu, AKBP Jajang Hasan Basri KBO Binmas Polda Metro Jaya mengatakan, kita di DKI Jakarta kini sedang menghadapi Pilkada, dengan dua paslonnya yang berasal dari etnis dan agama yang berbeda, maka kita sebagai warga DKI Jakarta dalam memilih pasangan pilihan kita hendaknya tidak ikut-ikutan mengeluarkan pernyataan-pernyataan yang tidak elegan apalagi yang menyangkut SARA.

Fakta di lapangan sudah banyak terlihat spanduk-spanduk yang dipasang oleh kedua kubu yang saling menyerang. Diharapkan kita sebagai umat beragama tidak ikut-ikutan menghujat bahkan tidak usah juga terpengaruh dengan hujatan-hujatan itu apalagi dengan cara balas menghujat, imbuhnya.

AKBP Jajang pada kesempatan itu berharap kepada peserta yang hadir  agar bisa menyapaikan pesan ini kepada saudara-saudara atau rekan yang tidak hadir.

AKBP jajang pada kesempatan yang sama memuji dan berterima kasih kepada FKUB Provinsi DKI Jakarta, FKRK Polda Metro Jaya, dan tentu khususnya kepada Matakin DKI di bawah ibu Liliany yang menjadi tuan rumah acara safari kali ini.

Kegiatan Safari Kamtibmas Polda Metro Jaya Bersama Forum Kerukunan Umat Beragama Provinsi DKI Jakarta diselenggarakan dalam rangka persiapan Pilkada DKI Jakarta putaran kedua, dilaksanakan dirumah rumah ibadah di DKI Jakarta.

Pada kesempatan itu hadir, KBO Binmas Polda Metro Jaya – AKBP. Jajang Hasan Basri beserta jajarannya, Ketua FKUB Provinsi DKI Jakarta Prof. Dr. KH Syafi’i Mufid dan KH Astamar, Drs. Nengah Dharma dari PHDI dan Tokoh dan umat-umat Khonghucu se DKI. (fkub/imsal/budi)

AKBP Anjar Gunadi: “DKI Jakarta sebagai Barometer Demokrasi di Republik Indonesia”

Wadir Binmas Polda Metro Jaya - AKBP Anjar Gunadi

Wadir Binmas Polda Metro Jaya – AKBP Anjar Gunadi

(FKUB-Jakarta) Pelaksanaan Pilkada Gubernur dan Wakil Gubernur Provinsi DKI Jakarta 2017 merupakan boremeter demokrasi di Indonesia. Oleh karena itu pelaksanaanya pun harus sukses, yaitu terselenggara secara tertib, aman dan damai.

“Maka kami berpesan hendaknya warga Jakarta harus mempergunakan hak pilihnya sebaik mungkin dan meninggalkan perilaku-perilaku yang tidak terpuji”, demikian paparan yang disampaikan oleh AKBP Anjar Gunadi, Wadir Binmas Polda Metro Jaya pada acara safari Kamtibmas 2017 selepas sholat magrib berjama’ah di masjid Cut Meutia Jakarta Pusat. Senin (3/4/2017).

Pada kesempatan silaturahim tersebut, AKBP Anjar Gunadi bersama rombongan terlebih dahulu memperkenalkan dirinya, lalu beliau menyampaikan pesan dari Kapolda Metro kepada para jama’ah bahwa, “saat ini khusus DKI Jakarta sedang menghadapi Pilkada putaran kedua bulan April ini. Kami aparat Kepolisian tidak memihak kemanapun yang penting buat kami DKI Jakarta itu harus aman.” ungkapnya.

Ditambahkannya, “pelaksanaan Pilkada di DKI Jakarta harus berjalan dengan lancer. Jangan sampai peristiwa 1998 terulang kembali yang membawa dampak buruk bagi warga DKI Jakarta.”

KH. Ahmad Syafi'i Mufid - Ketua FKUB Povinsi DKI Jakarta

KH. Ahmad Syafi’i Mufid – Ketua FKUB Povinsi DKI Jakarta

Di tempat yang sama, K.H. Ahmad Syafi’i Mufid, Ketua FKUB Provinsi DKI Jakarta, yang menyertai rombongan Polda Metro menyampaikan tausiyahnya bahwa “kita umat Islam harus menjadi umat yang memiliki akhlakul karimah, diantaranya yaitu hendaknya kita mengedepankan musyawarah mufakat. Jangan melakukan provokasi dan kekerasan. Bila terjadi kekerasan maka yang ada adalah balas dendam. Begitu seterusnya.”

“Kalau kita melihat jumlah penduduk DKI Jakarta, sebagian besar masih berpendidikan rendah. Demikian juga masalah ekonominya. Ke depan, hadirnya Pilkada semoga membawa dampak positif, yaitu mampu menjawab ketertinggalan dua persoalan ini”, tuturnya.(fkub/imsal)

Ahmad Astamar:”Fitrah Manusia itu Pada Dasarnya Adalah Menghendaki Perdamaian”

IMG-20170402-WA0014(FKUB-Jakarta) Dalam pelaksanaan Pilkada, ada orang yang kerjanya mengadu domba.  Dan sesungguhnya terhadap orang-orang yang mencoba mengadu domba ini yang harus kita waspadai.

Hal tersebut disampaikan H. Ahmad Astamar mewakili Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Provinsi DKI Jakarta pada kegiatan Safari Kamtibmas Polda Metro Jaya bersama FKUB DKI Jakarta dan Forum Kemitraan Religi Kamtibmas di Gereja Katedral pada hari minggu, 3/4/2017.

“Dalam konteks kita hari ini sebagai warga Jakarta, mereka harus kita curigai agar tidak terjadi musibah”

Ahmad Astamar menambahkan, “Di sinilah peran para pemuka agama untuk mengingatkan dan berdialog agar bisa back to basic. Bahwa fitrah manusia itu pada dasarnya adalah menghendaki perdamaian, tegasnya.

Ust. H. Robby Nurhadi Ketua Forum Kemitraan Religi Kamtibmas Polda Metro Jaya

Robby Nurhadi Ketua Forum Kemitraan Religi Kamtibmas Polda Metro Jaya

Sementara itu, H. Robby Nurhadi, selaku ketua FKRK dan Sekretaris MUI Prov. DKI Jakarta mengatakan, “Negeri Indonesia ini seperti gadis cantik, dan pemilik gadis cantik tersebut ada di Jakarta, dan sudah pasti yang namanya gadis cantik itu menjadi rebutan.

Banyak analisa yang telah sampai kepada kita yang intinya adalah kita tidak pernah henti-hentinya menjadi objek bancakan dari luar, apakah itu dari barat maupun dari timur dan lain sebagainya.”

Robby menegaskan, bahwa yang terpenting dari itu semua dan harus menjadi kesadaran bersama adalah posisi kita. Jangan sampai kita tidak sadar dan menganggap biasa saja tinggal di rumah sendiri, sedangkan keadaan nasib kita ternyata ditentukan oleh pemilik kepentingan. Ini tidak boleh terjadi, jelasnya

Tentunya kita harus sadar bahwa Jakarta adalah rumah kita, siapa lagi yang akan menjaganya? “Disinilah kita hidup dan disinilah anak-anak kita sekolah dan bekerja,tegasnya.

Taufan Bakri, mewakili pejabat dari Kesbangpol DKI Jakarta menambahkan, “sebenarnya keadaan di Jakarta itu enak, aman dan damai saja, tinggal bagaimana kita mempolanya. Sesungguhnya pilkada itu seperti yang dikatakan Plt Gubernur adalah pesta demokrasi.

Pada putaran pertama kemarin, kami membuat acara di TPS di depan kantor Balaikota dengan memakai baju adat Betawi diiringi musik keroncong. Oleh karena itu kami merumuskannya dengan angka 39. Apa maksudnya?

“Angka tiga itu adalah transparansi, kebebasan dan kebersamaan. Sedangkan angka Sembilan merupakan program Gubernur DKI Jakarta”, imbuhnya

Taufan menegaskan bahwa, Kesbangpol sebagai fasilitator mempunyai dua prinsip, yaitu pertama menjaga. Siapapun warna kulitnya harus dijaga jangan sampai ada kerusuhan kembali. Dan yang kedua bagaimana kue pembangunan ini mampu merembes sampai ke bawah.” ungkapnya.

Pada kegiatan Safari Kamtibmas kali ini dihadiri, Wadir Binmas Polda Metro Jaya – Anjar Gunadi, Kabag Binmas Operasional (KBO) AKBP Jajang Hasan Bisri, Kasubdit Pembinaan dan Penyuluhan, Kepala Seksi Binmas, Waka Polsek Sawah Besar dan Pembina Kamtibmas Pasar Baru. Selain itu ada pula pejabat dari Kesbangpol DKI Jakarta, Pembinmas Kanwil Kemenang DKI Jakarta, anggota Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Provinsi DKI Jakarta dan Ketua Forum Kemitraan Religi Kamtibmas (FKRK) Polda Metro Jaya. Sedangkan dari pihak tuan rumah dihadiri oleh para rohaniawan, pengurus dan aktivis Keuskupan Agung Jakarta(fkub/imsal/budi)

Safari Kamtibmas Polda Metro Jaya, AKBP Anjar Gunadi: “Jangan Takut Datang ke TPS Saat Pencoblosan”

1(FKUB-Jakarta) Provinsi DKI Jakarta merupakan barometer bagi bangsa Indonesia, karena Jakarta adalah Ibukota Negara sekaligus miniatur Indonesia.Pelaksanaan Pilkada DKI Jakarta 2017 juga menjadi barometer demokrasi di Indonesia.

Pelaksanaan Pilkada Gubernur dan Wakil Gubernur Provinsi DKI Jakarta 2017, menjadikan kondisi Jakarta sedikit agak memanas. Terkait dengan masalah Kamtibmas, “esktalasi keadaan di DKI Jakarta selalu dalam pengawasan kami, karena khusus wilayah DKI Jakarta merupakan etalase Republik ini.  Jadi, cerminan bagi negara Republik Indonesia barometernya adalah DKI Jakarta, hal itu disampaikan oleh AKBP Anjar Gunadi, Wadir Binmas Polda Metro Jaya saat mengadakan safari Kambtibmas hari kedua di gereja Katedral Jakarta Pusat Minggu, (2/4/2017).

“Bilamana Jakarta aman bisa dijustifikasi bahwa Indonesia aman”imbuhnya

Sekarang sedang memasuki masa kampanye yang akan berakhir pada H-3, yaitu tanggal 16 April 2017. Diharapkan semua pasangan calon mengedepankan perdamaian selama berkampanye.

2

AKBP Anjar Gunadi meminta kepada seluruh masyarakat Jakarta khususnya umat Katolik untuk tidak takut mendatangi TPS.

“Pada saat Pilkada nanti tidak usah takut untuk datang ke TPS. Jaminannya adalah kita semua yang hadir disini,  Karena di tanggal 19 April nanti, kami telah menyiapkan keamanan untuk satu TPS itu ada seorang petugas keamanan dari Polri dan TNI, lanjutnya.

Anjar Gunadi menambahkan, sebagai bukti keseriusan pengamanan Pilkada DKI Jakarta, kami sudah mendatangkan 40 kompi personil Brimob dari daerah yang tidak ada Pilkadanya masuk datang ke Jakarta. Mereka kami tempatkan ditempat-tempat di wilayah DKI Jakarta yang strategis manakala  diperlukan. Dalam masalah keamanan ini kami tidak under estimate, tetapi melakukan pengamanan penuh dan all out guna mengamankan wilayah Jakarta ini, pungkasnya.

Dalam acara safari Kambtibmas  kedua kali ini, Polda Metro Jaya menurunkan tim yang cukup lengkap, diantaranya hadir Kabag Binmas Operasional (KBO) AKBP Jajang Hasan Bisri, Kasubdit Pembinaan dan Penyuluhan, Kepala Seksi Binmas, Waka Polsek Sawah Besar dan Pembina Kamtibmas Pasar Baru. Selain itu ada pula pejabat dari Kesbangpol DKI Jakarta, Pembinmas Kanwil Kemenang DKI Jakarta, anggota Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Provinsi DKI Jakarta dan Ketua Forum Kemitraan Religi Kamtibmas (FKRK) Polda Metro Jaya. Sedangkan dari pihak tuan rumah dihadiri oleh para rohaniawan, pengurus dan aktivis Keuskupan Agung Jakarta.(fkub/imsal/budi)

Safari Kamtibmas Polda Metro Jaya, AKBP Jajang Hasan Bisri: “Pilkada Aman Dan Damai”

AKBP Jajang Hasan Bisri - KBO Binmas Polda Metro Jaya

AKBP Jajang Hasan Bisri – KBO Binmas Polda Metro Jaya

(FKUB-Jakarta) Menjelang Pilkada Gubernur dan Wakil Gubernur Provinsi DKI Jakarta putaran Kedua, yang akan berlangsung pada tanggal 19 April 2017. Polda Metro Jaya bersama Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Provinsi Jakarta menyelenggarakan kegiatan Safari Kamtibmas.

Pilkada aman dan damai itulah harapan masyarakat Jakarta khususnya, terkait pelaksanaan pesta demokrasi 5 tahunan memilih gubernur dan wakil gubernur yang tengah berlangsung di tahun 2017 kali ini.

“Kami mengharapkan pada Pilkada DKI Jakarta putaran kedua ini semua berjalan aman, lancar dan damai”, demikian ungkap AKBP Jajang Hasan Bisri, selaku KBO Binmas Polda Metro Jaya selepas melaksanakan sholat Jum’at bersama jama’ah di Masjid Jami’ Matraman Jakarta Pusat (31/3/2017).

Dalam mengawali safari Kamtibmas Polda Metro Jaya, AKBP Jajang Hasan Basri dalam sambutannya meminta masyarakat Jakarta untuk selalu waspada terhadap isu-isu negative terutama terkait dengan berita yang mudah tersebar di media social.

Pada kesempatan ini, AKBP Jajang menghimbau agar masyarakat jangan mudah terprovokasi dengan berita-berita yang beredar di media social yang bersifat provokatif, ataupun berbagai berita yang bernada mendiskriditkan suatu golongan.

 “Seperti peristiwa yang terjadi pagi tadi, yaitu ketika saya mendapat kiriman foto di Washapp ada orang lagi menempelkan stiker di mobil yang bertuliskan “Pribumi”. Orang yang menempelkan itu adalah orang tertentu yang berpakaian hitam. Setelah dicek ternyata berita tersebut merupakan kejadian pada tahun lalu.” ungkapnya.

Ditambahkannya, “apalagi ada hembusan berita yang menyatakan bahwa Pilkada DKI Jakarta sekarang ini berada pada level kerawanan yang paling tinggi. Kalau kita tidak memulai dan kita tidak terprovokasi maka semuanya akan berjalan lancar-lancar saja.”

AKBP Jajang berpesan, masyarakat Jakarta harus lebih cerdasi lagi dalabm mensikapi terhadap segala issue yang berkembang bernuansa SARA, agar pesta demokrasi di Provinsi DKI Jakarta dapat berjalan dengan aman, dan lancar.

KH. Ahmad Syafii Mufid -Keta FKUB Provinsi DKI Jakarta

KH. Ahmad Syafii Mufid -Keta FKUB Provinsi DKI Jakarta

Pada kesempatan yang sama, Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Provinsi DKI Jakarta, K.H. Ahmad Syafi’i Mufid memberikan ceramah kepada Jama’ah sholat Jum’at.

Mengawali ceramahnya beliau berpesan bahwa dalam abad millennium sekarang ini, dimana orang banyak menyebutnya sebagai tanda-tanda akhir zaman, hendaknya kita harus mewaspadai bahaya fitnah terutama yang ditimbulkan oleh Dajjal (pembohong atau kebohongan).

“Bila kita mau memahami makna kisah ashabul kahfi (tujuh pemuda gua), ketika dibangkitkan dari tidurnya bersamanya ada koin yang ternyata kemudian uang tersebut tidak laku. Sesungguhnya arrokim (coin) dalam Bahasa Indonesia adalah bandrol. Dari zaman ashabul kahfi sampai kepada zaman dimana segala sesuatu itu ada bandro/label harganya, yang artinya adalah pasar global, dan inilah yang disebut sebagai puncaknya dari berbagai macam kebohongan”, ungkapnya.

Ketika dalam keadaan yang sudah seperti itu hendaknya kaum muslimin harus berhati-hati karena akan banyak fitnah. Terutama fitnah yang paling berat di dunia ini adalah fitnah yang berkaitan dengan tahta, harta dan wanita—begitulah filosofi orang Jawa menyebutkan. Bila dalam Bahasa Rasululloh SAW adalah hubbuddunya wakarohiyatul maut  (cinta dunia dan takut mati). “Inilah fitnah yang sudah sangat luar biasa kehadirannya”, imbuhnya.

Kapankah fitnah Dajjal itu hadir? Kiayi yang berasal dari Demak ini menjelaskan, “Fitnah itu hadir dan bisa dilihat ketika terjadi pergantian kepemimpinan.”

Oleh karena itu Kiayi Ahmad Syafi’i Mufid berharap, “Marilah kita kuatkan Jakarta jangan sampai mau diadu domba, dan jangan pula mau diajak untuk berbuat kerusakan (fasad)”.

Kalau ada yang melanggar hukum, maka silahkan laporkan kepada bapak polisi. Kalau berkaitan dengan Pemilu Pilkada saya sudah tidak perlu lagi mengajarkan bebek berenang. Karena bapak-bapak sudah pasti memahaminya harus kemana pilihannya. Tapi kalau sampai terjadi berita seperti yang bapak Jajang sebutkan tadi, itu akan berakibat fatal.”

Diakhir ceramahnya, Ahmad Syafi’i Mufid mengajak kepada hadirin, “Mari kita bersama-sama memohon kepada Allah SWT bahwa negeri Jakarta menjadi negeri yang adil, makmur dan diridhoi oleh Allah SWT. Semua masyarakat Jakarta sehat lahir dan bathin. Tidak kekurangan sandang, pangan dan papan. Gemah ripah loh jinawi totok tentrem kerto raharjo.”

2

Hadir juga pada acara tersebut, Taufan Bakri dari Kesbangpol Provinsi DKI Jakarta, Ahmad Astamar dan H. Elisman Iljas anggota FKUB Provinsi DKI Jakarta(fkub/Imshal/budi)

Sejarah Asal Mula Hari Raya Nyepi

indexOleh: I Gede Suparta, SH

Ketua Pinandita Se DKI Jakarta – PHDI

Nyepi berasal dari kata sepi yang artinya sunyi, senyap, lenggang, tidak ada kegiatan. kemudian Hari Raya Nyepi adalah Tahun Baru Hindu berdasarkan penanggalan/kalender Saka, yang dimulai sejak tahun 78 Masehi. Tidak seperti perayaan tahun baru Masehi (tiap 1 januari), Tahun Baru Saka di Bali dimulai dengan menyepi dan melaksanakan catur brata penyepian. Tidak ada aktivitas seperti biasa. Semua kegiatan ditiadakan, termasuk pelayanan umum, seperti Bandara Internasional Ngurah Rai pun tutup, namun tidak untuk rumah sakit. Tujuan utama Hari Raya Nyepi adalah memohon ke hadapan Tuhan Yang Maha Esa / Ida Sanghyang Widhi Wasa, untuk menyucikan Bhuana Alit (alam manusia/microcosmos) dan Bhuana Agung/macrocosmos (alam semesta).

Sejarah Nyepi
Kita semua tahu bahwa agama Hindu berasal dari India dengan kitab sucinya Weda. Di awal abad masehi bahkan sebelumnya, Negeri India dan wilayah sekitarnya digambarkan selalu mengalami krisis dan konflik sosial berkepanjangan. Pertikaian antar suku-suku bangsa, al. (Suku Saka, Pahiava, Yueh Chi, Yavana dan Malaya) menang dan kalah silih berganti. Gelombang perebutan kekuasaan antar suku menyebabkan terombang-ambingnya kehidupan beragama itu. Pola pembinaan kehidupan beragama menjadi beragam, baik karena kepengikutan umat terhadap kelompok-kelompok suku bangsa, maupun karena adanya penafsiran yang saling berbeda terhadap ajaran yang diyakini.

Dan pertikaian yang panjang pada akhirnya suku Saka menjadi pemenang dibawah pimpinan Raja Kaniskha I yang dinobatkan menjadi Raja dan turunan Saka tanggal 1 (satu hari sesudah tilem) bulan 1 (caitramasa) tahun 01 Saka, pada bulan Maret tahun 78 masehi.
Dari sini dapat diketahui bahwa peringatan pergantian tarikh saka adalah hari keberhasilan kepemimpinan Raja Kaniskha I menyatukan bangsa yang tadinya bertikai dengan paham keagamaan yang saling berbeda.

Sejak tahun 78 Masehi itulah ditetapkan adanya tarikh atau perhitungan tahun Saka, yang satu tahunnya juga sama-sama memiliki 12 bulan dan bulan pertamanya disebut Caitramasa, bersamaan dengan bulan Maret tarikh Masehi dan Sasih Kesanga dalam tarikh Jawa dan Bali di Indonesia. Sejak itu pula kehidupan bernegara, bermasyarakat dan beragama di India ditata ulang.

Oleh karena itu peringatan Tahun Baru Saka bermakna sebagai hari kebangkitan, hari pembaharuan, hari kebersamaan (persatuan dan kesatuan), hari toleransi, hari kedamaian sekaligus hari kerukunan nasional. Keberhasilan ini disebar-luaskan keseluruh daratan India dan Asia lainnya bahkan sampai ke Indonesia.

Aji Saka
Kehadiran Sang Pendeta Saka bergelar Aji Saka tiba di Jawa di Desa Waru Rembang Jawa Tengah tahun 456 Masehi, dimana pengaruh Hindu di Nusantara saat itu telah berumur 4,5 abad. Dinyatakan Sang Aji Saka disamping telah berhasil mensosialisasikan peringatan pergantian tahun saka ini, juga dan peristiwa yang dialami dua orang punakawan, pengiring atau caraka beliau diriwayatkan lahirnya aksara Jawa onocoroko doto sowolo mogobongo padojoyonyo. Karena Aji Saka diiringi dua orang punakawan yang sama-sama setia, samasama sakti, sama-sama teguh dan sama-sama mati dalam mempertahankan kebenaran demi pengabdiannya kepada Sang Pandita Aji Saka.

048369700_1457417156-maxresdefault
Rangkaian peringatan Pergantian Tahun Saka
Peringatan tahun Saka di Bali dilakukan dengan cara Nyepi (Sipeng) selama 24 jam dan ada rangkaian acaranya antara lain :
1. Upacara melasti, mekiyis dan melis
Intinya adalah penyucian bhuana alit (diri kita masing-masing) dan bhuana Agung atau alam semesta ini. Dilakukan di sumber air suci kelebutan, campuan, patirtan dan segara. Tapi yang paling banyak dilakukan adalah di segara karena sekalian untuk nunas tirtha amerta (tirtha yang memberi kehidupan) ngamet sarining amerta ring telenging segara. Dalam Rg Weda II. 35.3 dinyatakan Apam napatam paritasthur apah (Air yang murni baik dan mata air maupun dan laut, mempunyai kekuatan yang menyucikan).

2. Menghaturkan bhakti/pemujaan
Di Balai Agung atau Pura Desa di setiap desa pakraman, setelah kembali dari mekiyis.

3. Tawur Agung/mecaru
Di setiap catus pata (perempatan) desa/pemukiman, lambang menjaga keseimbangan. Keseimbangan buana alit, buana agung, keseimbangan Dewa, manusia Bhuta, sekaligus merubah kekuatan bhuta menjadi div/dewa (nyomiang bhuta) yang diharapkan dapat memberi kedamaian, kesejahteraan dan kerahayuan jagat (bhuana agung bhuana alit).
Dilanjutkan pula dengan acara ngerupuk/mebuu-buu di setiap rumah tangga, guna membersihkan lingkungan dari pengaruh bhutakala. Belakangan acara ngerupuk disertai juga dengan ogoh-ogoh (symbol bhutakala) sebagai kreativitas seni dan gelar budaya serta simbolisasi bhutakala yang akan disomyakan. (Namun terkadang sifat bhutanya masih tersisa pada orangnya).

4. Nyepi (Sipeng)
Dilakukan dengan melaksanakan catur brata penyepian (amati karya, amati geni, amati lelungan dan amati lelanguan).

5. Ngembak Geni
Mulai dengan aktivitas baru yang didahului dengan mesima krama di lingkungan keluarga, warga terdekat (tetangga)

FKUB Jakarta Menyerahkan Rekomendasi Masjid Dan Gereja

S1670004

Taufiq Rahman Azhar – Sekretaris FKUB Provinsi DKI Jakarta menyerahkan surat Rekomendasi pembangunan Gereja Yesus Sejati

FKUB-JAKARTA) Menjadi salah satu tugas pokok Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Provinsi DKI Jakarta memberikan surat rekomdasi kepada rumah ibadah sesuai dengan PBM nomor: 8/9 tahun 2006 dan Pergub no. 83 thn 2012 tentang Prosedur pemberian Persetujuan Pembangunan Rumah Ibadah.

Pada Kamis, (23/3/2017) FKUB Provinsi Jakarta menyerahkan surat rekomendasi pembangunan masjid Bab Al Rusydi –  Universitas Islam Jakarta yang beralamat di. Jl. Balai Rakyat Utan Kayu – Jakarta Timur  dan gereja Yesus Sejati beralama di Jl. Danau Asri Timur Blok C3 No. 5 Sunter Jaya – Jakarta Utara.

Penyerahan surat rekomendasi pendirian rumah ibadah dilakukan di kantor FKUB Jakarta, Gedung Graha Mental Spiritual lt. 4 Jl. Awaludin II Kebun Melati – Tanah Abang. Penyerahan rekomendasi dilakukan oleh H. Taufiq Rahman Azhar selaku Sekretaris FKUB Provinsi DKI Jakata kepada pihak Masjid dan Gereja.

Pada sambutannya, H. Taufiq mengatakan, bahwa dari kelengkapan berkas yang diserahkan ke FKUB Provinsi, dan hasil dari verifikasi lapangan yang dilakukan FKUB Provinsi serta hasil Pleno FKUB Provinsi, maka sudah selayaknya surat rekomendasi ini diberikan.

Pemberian rekomendasi Masjid Bab AL Rusydi dan Gereja Yesus Sejati ini telah memenuhi syarat dan ketentuan yang berlaku sesuai dengan PBM no.8/9 thn 2006. Serta telah dilakukannya verifikasi lapangan guna mendengarkan testimoni tidak keberatan atau tidak menolak dengan rencana renovasi masjid dan gereja dari masyarakat sekitar rumah ibadah, tokoh masyarakat, RT,RW, Kelurahan, Kecamatan serta pihak keamanan.

Taufiq Rahman menyerahkan Surat Rekomendasi Pembangunan Masjid Bab Al Rusydi

Taufiq Rahman menyerahkan Surat Rekomendasi Pembangunan Masjid Bab Al Rusydi

Hal ini dilakukan, agar jangan sampai pembangunan rumah ibadah yang sudah berdiri mendapat penolakan dari masyarakat, pungkasnya.

Sematara itu, pihak masjid dan gereja mengucapkan banyak terima kasih atas rekomendasi yang diberikan oleh FKUB PRovinsi DKI Jakarta.(fkub/budi)

Hari Raya Nyepi

Nyepi 2014

Hari raya Nyepi dan hari-hari raya umat Hindu lainnya merupakan tonggak-tonggak peringatan penyavdaran dharma. Oleh karena itu kegiatan dalam menyambut datangnya hari-hari raya itu semestinya tidak pada segi hura-hura dan kemeriahannya, tetapi lebih banyak pada segi tattwanya.

Secara tattwa sesungguhnya Dewa dan Kala itu bersemayam pula pada diri kita. Sifat-sifat lembut, tenang, pengasih, dan sebagainya adalah sifat-sifat dewa. Sebaliknya sifat-sifat keras, bengis kejam dan sebagainyaadalah sifat-sifat Kala. Kala harus diteduhkan sehingga yang hadir dalam diri adalah sifat-sifat kedewataan. Setelah alam suci, Kala teduh, maka timbulah kesepian yang berakibat ketenangan, yang diperoleh dengan mendiamkan diri. Umat Hindu mempunyai hari khusus untuk mendiamkan diri, itulah hari raya Nyepi. Pada hari ini seluruh aktivitas kerja dihentikan.

Pelaksanaan Nyepi bersesuaian dengan ajaran Yoga. Yoga mengajarkan mendiamkan gerak-geraknya pikiran yang selalu berkeliaran kemana-mana “Citta vṛtti nirodhah”. Dengan mendiamkan gerak-geraknya pikiran, maka Sang Diri akan berada pada dirinya. Pada saat-saat lain, saat melakukan kegiatan sehari-hari, Sang Diri berada diluar dirinya. Ia menyamakan dirinya dengan obyek-obyek indriya. Ia selalu gelisah, diliputi debu dan kerasnya dunia. Dalam suasana kegelisahan, maka mudahlah kita mengusai diri kita. Maka dari itu patutlah sewaktu-waktu kita mendiamkan diri agar pikiran kita menjadi jernih dan tenang untuk mendapatkan tenaga baru dalam melanjutkan tugas-tugas kita.

Nyepi sebagai  hari penemuan Sang Diri, hal ini akan dapat diwujudkan bila kita benar-benar memiliki dan mengamalkan ajaran śraddhā dengan mantap dan bhakti yang tulus kepadaNya. Dalam suasana hening, ketika perut kosong, emosi, ambisi dan nafsu terkendali, pikiran diarahkan hanya untuk memuja dan merenungkan keagunganNya, seperti diamanatkan dalam Kakawin Arjuna Wiwaha (Tothaka) sebagai berikut :

“Śasi wimba haneng ghaṭa mesi bañu, Ndanasing śuci nirmala mesi wulan, Iwa mangkana rakwa kiteng kadadin, Ringangambêki yoga kiteng sakala”.

Terjemahannya :

Sebagai bayangan bulan yang ada di dalam sebuah belanga yang berisi air, Yang setiap belanga yang airnya bersih (tanpa kotoran) berisi bayangan bulan, Seperti itulah sesungguhnya Eangkau, kepada orang yang sedang melakukan yoga Engkau dalam keadaan yang tampak.

“Katêmunta mareka si tan katêmu,Kaihidêpta mareka si tan kahidêp, Kawênangta mareka si tan kawênang, Paramārtha Śiwatwa nirāwarana”.

Terjemahannya :

Diketahuilah oleh seorang yang tidak pernah ketemukan, dapat dipikirkan oleh  seorang yang tidak pernah dipikirkannya, dapat dikuasai oleh seorang yang tidak pernah dikuasainya, kebenaran ajaran Śiwa yang amat suci tampak tidak terselubung lagi.

Dalam berbagai agama maupun tradisi spiritual terdapat ajaran tentang puasa yang dilakukan pada waktu-waktu tertentu oleh pengikut suatu ajaran. Secara umum tampaknya kegiatan upawasa ini ditujukan kepada suatu pencapaian sebuah peningkatan rohani, karena melalui puasa orang belajar untuk memurnikan pikirannya.

Jika pikiran semakin murni, maka anasir-anasir rangsangan panca indra yang setiap hari dominan dalam mengendalikan persepsi bisa ditekan. Akhirnya puasa memberikan kejernihan pikiran untuk menyusun persepsinya, sehingga kualitas ucapan dan tindakan pun semakin baik. Kalau sudah demikian tentu yang dihasilkan adalah karma-karma baik.

Intisari tapa brata atau puasa adalah pengendalian atau pembatasan atas dua hal yaitu pikiran dan indra-indra. Indra jumlahnya ada lima yang disebut Panca Indra. Indra mempunyai alat indra yang juga berjumlah lima yang disebut Panca Karmendriya, dan mempunyai obyek indra yang disebut Panca Tanmatra.

Kelima indra itu harus dikendalikan. Kunci untuk bisa mengendalikan indra adalah pengendalian atas pikiran. Pikiran mempunyai jangkauan yang tak terbatas, kecepatannya melebihi kecepatan cahaya, tajamnya melebihi ketajaman pedang. Kalau bisa mengendalikan pikiran kelima indra juga mudah untuk ditundukkan. Cara mengendalikan pikiran pertama pikiran harus dibersihkan dengan cara membaca atau melantunkan mantra-mantra atau sloka-sloka Veda, dan meditasi.

Dalam Kakawin Nirārtha Prakěrta ditegaskan sebagai berikut :

“Ri haneng rikanang amběk tibra alit mahěning aho,lěngit atisayasnya jñānanasraya wěkasan, swayeng umibêki tan ring rāt mwang deha tuduhana, ri pangawakira sang hyang tattwādhyātmika katêmu”.

Terjemahannya:

Ketika pikiran telah tenang halus suci, akhirnya menemui kebebasan dan hening, lalu dengan serta merta meliputi seluruh jagat, serta tidak terlukiskan lagi, akhirnya ia bersatu dengan Sang Hyang Tattwādhyātmika (kebenaran sejati).

Oleh: Prof. Dr. Surada – Anggota SABHA WALAKA PHDI PUSAT

Ketua FKUB DKI Jakarta Menghadiri Perayaan Tahun Baru Naw-Ruz KE 174

1(FKUB-Jakarta) Tahun Baru Naw-Ruz adalah tahun baru bagi umat Baha’I, yang dirayakan setiap tanggal 21 Maret. Perayaan Tahun Baru NAw-Ruz tahun ini tahun baru yang ke 174 dihitung dari tahun 1844 Masehi.

Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama Provinsi DKI Jakarta berkesempatan untuk hadir dalam perayaan tahun baru Naw-Ruz yang diselenggarakan pada hari Selasa 21 Maret 2017 di salah satu rumah pengikut Baha’I di Jl. Tanjung No. 39 Menteng – Jakarta.

Ketua FKUB DKI Jakarta diterima oleh pengurus Majelis Rohani Baha’i Indonesia, Desti sebagai Humas Majelis Rohani Baha’i, Rina sebagai Hubungan Luar dan pemerintahan majelis rohani agama Bahai Indonesia dan Mr. Georga.

Pada kesempatan itu ketua FKUB DKI Jakarta diajak melihat-lihat koleksi buku-buku terbitan Majelis Rohani Baha’I dan koleksi foto-foto serta melakukan dialog santai sambil menikmatiang hidangan yang telah disediakan.

Ahmad Syafii mengucapkan terima kasih atas undangannya dan merasa senang bisa hadir dalam acara perayaan Tahun Baru Naw-Ruz kali ini, karena bisa bersilataruhim  dengan pengikut Bahai dan bisa menerima penjelasan tentang apa itu agama Baha’i.

“Saya baru jelas tentang agama Baha’i, ternyata tidak sesuai dengan penjelasan yang beredar dimasyarakat luas”

Pada kesempatan itu Ketua FKUB DKI Jakarta menyampaikan harapannya untuk bisa berdialog dengan Majelis Rohani Agama Baha’i.

“Kami berharap suatu saat kita bisa berdialog di Kantor FKUB DKI Jakarta, kita bisa mendapatkan penjelasan yang lebih dari Majelis Rohani Agama Baha’i tentang keberadaan Agama Baha’i”.

Menurut Rina, saat memberikan penjelasan dikantor FKUB Provinsi DKI Jakarta, bahwa Agama Baha’i lahir pada tahun 1844 di Iran, dan masuk ke Indonesia sekitar tahun 1878 pertengahan abad 19 dibawa oleh dua orang pedagang dari Persia dan Turki, yaitu Jamal Effendi dan Mustafa Rumi.

“Agama Baha’I sudah terseber di 200 negara dan di 28 Provinsi di Indonesia dengan jumlah pengikut diseluruh dunia ada 7000 pengikut”.
“Agama Bahai adalah agama yang independen dan bersifat universal, bukan sekte dari agama lain”.

2

Rina menambahkan, agama Baha’I sudah diakui sebagai agama baru di Indonesia oleh Menteri Agama Republik Indonesia – Lukman Hakim Syaifuddin sejak tahun 2014.
“Menteri Agama Mengatakan: Agama Baha’I adalah termasuk agama yg dilindungi konstitusi sesuai Pasal 28E dan Pasal 29 UUD 1945, pungkasnya.(fkub/budi)

KH. Ahmad Syafii Mufid: “Masih Banyak Orang Yang Tidak Tau FKUB”

DSC00111(FKUB-Jakarta )Kunjungan FKUB Provinsi DKI Jakarta ke Masjid Bab Al Rusydi – Universitas Islam Jakarta merupakan rangkaian pelaksanaan peraturan bersama menteri no. 8 dan 9 tahun 2006.

Kunjungan FKUB Provinsi DKI Jakarta ke Masjid Bab Al Rusydi yang beralamat di Jl. Balai Rakyat Utan Kayu – Jakarta Timur dipimpin langsung oleh Ketua FKUB Provinsi DKI Jakarta.

Dalam pengarahannya Ketua FKUB Provinsi DKI Jakarta-KH. Ahmad Syafii Mufid mengatakan, kegiatan ini merupakan rangkaian yang terakhir dalam proses mendapatkan IMB untk mendirikan atau merenovasi rumah ibadah.

Selain itu Ahmad Syafii juga menjelaskan tentang apa itu FKUB Provinsi DKI Jakarta.

“Masih banyak yang belum tau tentang FKUB, sehingga masih suka salah sebut, FKUB adalah Forum Kerukunan Umat Beragama akan tetapi orang masih salah sebut menjadi Forum Komunikasi Umat Beragama”.

Ahmad Syafii menambahkan, FKUB Provinsi DKI Jakarta itu memiliki ke khususan dibanding FKUB lainnya. Karena kekhususan tersebut pengurusan surat rekomendasi itu sampai dengan tingkat provinsi sedangkan wilayah lain pengurusan IMB cukup sampai tingkat Bupati.

“Pengurusan IMB di provinsi DKI Jakarta sampai tingkat gubernur, sehingga prosesnya lebih panjang dibanding wilayah lain”,

Akan tetapi FKUB Provinsi DKI Jakarta memiliki produktivitas yang lebih tinggi dalam hal meneribtkan rekomendasi pendirian rumah ibadah diantara FKUB di 34 provinsi dan 508 kab/kota di Indonesia, pungkasnya.

Pada kunjugan tersebut dihadiri oleh aparat Kecamatan, Kelurahan, RW dan RT serta tokoh masyarakat sekitar kampus.

DSC00129
Sedangkan pengurus FKUB Provinsi DKI Jakarta yang turut hadir mendampingi Ketua FKUB Provinsi DKI Jakarta antara lain, H. Syarief Tanudjaja-Wakil Ketua, H. Taufiq Rahman Azhar – Sekretaris, H. Echa Abdullah, H. Aris Banaji, H. Elisman Iljas, H. Ahmad Astamar, H, Tri Gunawan Hadi, H. Syamsul Ma’arif, H. Qomarudin, Pedande Panji Sogata, Pdt. Liem Wira Wijaya – Anggota FKUB DKI Jakarta.(fkub/budi)

1 2 3 4 5 18