Pernyataan Sikap FKUB DKI Jakarta atas Aksi Bom Bunuh diri di Surabaya

Ketua FKUB DKI Jakarta – KH. Ahmad Syafii Mufid didampingi para pimpinan majelis-majelis agama

(FKUB JAKARTA) Menyikapi aksi bom bunuh diri yang terjadi pada hari minggu 13/5/2018 di Tiga gereja di Surabaya yaitu gereja Santa Maria Takbercela, gereja Pantakosta dan  GKI Jl. Diponegoro.

Forum Kerukunan Kerukunan Umat Beragama Provinsi DKI Jakarta bersama pimpinan majelis-majelis agama dan organisasi sosial keagamaan melakukan pernyataan sikap mengutuk tindakan bom bunuh diri yang menimpa tiga gereja di Surabaya. Kegiatan pernyataan sikap dilakukan di Hotel Sentral Jl. Pramuka Raya – Jakarta Pusat (14/5/2018).

Isi Pernyataan Sikap FKUB Provinsi DKI Jakarta dan tokoh agama serta organisasi kemasyarakatan antara lain:

  1. Sangat menyesalkan dan mengutuk keras segala macam bentuk tindakan kekerasan dengan cara menebarkan teror, kebencian dan kekerasan apapun motifnya karena hal itu bertentangan dengan ajaran agama manapun.
  2. Kami menyampaikan duka cita yang mendalam kepada semua korban kekerasan dan tindak terorisme yang menimpa beberapa gereja di Surabaya. Semoga semua keluarga korban diberikan kekuatan, kesabaran dan ketabahan;
  3. Mendukung penuh upaya dan langkah-langkah aparat keamanan untuk mengusut secara cepat, tepat sampai tuntas segala gerakan yang memicu terjadinya peristiwa tersebut untuk menyelesaikan msalah kekerasan dan terorisme dengan seksama, menyeluruh dan berkesinambungan tidak parsial serta sporadis;
  4. Menghimbau seluruh tokohg agama, tokoh masyarakat, elit politik dan masyarakat untuk menghindarkan komentar komentar yang akan memperkeruh keadaan. “Jangan issue peristiwa terorisme ini untuk kepentingan politik yang sesaat”. Saling mencurigai kelompok agama satu sama lain yang menghancurkan kerukunan dan persatuan bangsa.
  5. FKUB PROVINSI DKI JAKARTA menghimbau seluruh masyarakat umat beragama tetap tenang dan tidak terprovokasi oleh berita-berita yang tidak dapat dipertanggungjawabkan yang disebarkan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggungjwab. Masyarkat hendaknya tidak berspekulasi dan mengaitkan pemboman dengan peristiwa politik dan kelompok agama tertentu agar situasi tetap kondusif dan harmonis.

Pernyataan sikap di tanda tangani oleh ketua dan sekretaris FKUB DKI Jakarta, pimpinan majelis-majelis agama dan perwakilan dari dua puluh satu organisasi sosial keagamaan, yaitu: PW NU DKI Jakarta, PW Muhamadiyah DKI Jakarta, PW Al Washliyah DKI Jakarta, DPW LDII DKI Jakarta, Fatayat NU, Mathla’ul Anwar, DPW Syarikat Islam DKI Jakarta, DPW Syarikat Islam DKI Jakarta, PW Aisyiyah, PW NA, PITI DKI Jakarta, Himpunan Bina mualaf Indonesia DKI Jakarta, Forum Komunikasi Majelis Taklim (FKMT), PERTI, Muslimat NU, Majelis Luhur Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa, DPW BKPRMI DKI Jakarta, JPPRMI, PW PGLII DKI Jakarta, PGPI DKI Jakarta, GMAHK DKI Jakarta, LP Ma’arif NU DKI Jakarta.

Kegiatan Pernyataan Sikap tersebut juga disaksikan oleh anggota DPRD DKI Jakarta Fraksi PDIP Gembong Warsono, S.IP., MM, Badan Kesbangpol DKI Jakarta dan Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi DKI Jakarta. (fkub/budi?

 

FKUB Kab. Minahasa Selatan Belajar Kerukunan Antar Umat Beragama Ke Jakarta

Ketua FKUB Kab. Minahasa Selatan -Pdt. Luky Tumbelaka,

(FKUB-JAKARTA) FKUB Kabupaten Minahasa Selatan, Provinsi Sulawesi Utara berkunjung ke Forum Kerukunan Umat Beragama Provinsi DKI Jakarta (23/4/2018).

Menurut Ketua FKUB Kab. Minahasa Minahasa Selatan-Pdt. Luky Tumbelaka, kunjungan kami ke FKUB Provinsi DKI Jakarta dalam rangka ingin belajar kepada FKUB Provinsi DKI Jakarta dalam mengelola kerukunan antar umat beragama di Provinsi DKI Jakarta.

“Jakarta adalah sebagai barometer nasional dalam segala hal, termasuk dalam menjaga kerukunan antar umat beragama”

Berbagai kondisi yang terjadi dari waktu ke waktu dan begitu cepat berubah sehingga itu yang membuat kami tertarik untuk berkunjung ke Jakarta, lanjutnya.

Selanjutnya Ketua FKUB Kab. Minahasa Selatan – Ketua FKUB Kab. Minahasa Selatan -Pdt. Luky Tumbelaka menambahkan, selain masalah isu kerukunan umat beragama kami ingin belajar banyak mengenai pelaksanaan Pemilihan Kepala Daerah yang sebentar lagi akan dilaksanakan secara serentak, dan FKUB DKI Jakarta memiliki pengalaman masalah itu.

“FKUB Jakarta sukses dalam menghadapi Pilgub tahun 2017 sehingga tidak terjadi konflik yang sehingga Pilgub Provinsi DKI Jakarta dapat berjalan lancar, aman dan damai” tandasnya.

Rombongan FKUB Kab. Minahasa Selatan berjumlah Dua Puluh Delapan orang, terdiri dari: Bupati Kab. Minahasa Selatan, Kakanwil Agama Provinsi Sulawesi Utara, Kapolres Kab. Minahasa Selatan dan anggota FKUB Kab. Minahasa Selatan.

Rombongan diterima dikanator FKUB DKI Jakarta beralamat Graha Mental Spiritual Lt. 4, Jl. Awaludin II, Kebun Melati, Tanah Abang- Jakarta Pusat, diterima oleh Ketua FKUB DKI Jakarta beserta jajarannya, hadirpula Kakanwil Kementerian Agama Provinsi DKI Jakarta, Dr. H. Syaiful Muzab dan perwakilan dari Badan Kesatuan Bangsa dan Politik Provinsi DKI Jakarta- H. Ridwan Rusli.(fkub/budi)

Penyerahan Rekomedasi Pembangunan Masjid Al Falah

(FKUB-Jakarta ) FKUB Provinsi DKI Jakarta menyerahkan surat rekomendasi pembanguan masjid Al Falah beralamat: Jl. Cipinang Jaya 1A Rt.10/07 Kel. Cipinang Besar Selatan-Jatinegara – Jakarta Timur.

Penyerahan surat rekomendasi pembangunan masjid Al Falah dilakukan dikantor FKUB Provinsi DKI Jakarta – Graha Mental Spiritual lt. 4, Jl, Awaludin II, Kebun Melati – Tanah Abang Jakarta Pusat (12/4).

Surat rekomendasi pembangunan masjid Al Falah diberikan setelah FKUB provinsi DKI Jakarta menerima surat permohonan rekomendasi dari panitia pembangunan masjid Al Falah, dan FKUB Provinsi DKI Jakarta telah memeriksa kelengkapan persyaratan memperoleh rekomendasi pembangunan rumah ibadah, serta FKUB provinsi DKI Jakarta telah melakukan proses verifikasi lokasi pembangunan masjid Al Falah pada hari rabu 28 maret 2018.

Masjid Al Falah berdiri sejak 1985 berdiri ditengah –tengah permukiman masyarakat  Rt.10/07 Kel. Cipinang Besar Selatan-Jatinegara – Jakarta Timur. Masjid Al Falah selain digunakan untuk beribadah dan digunakan juga untuk menimba ilmu keagamaan serta kegiatan sosial masyarakat. Melihat kondisi bangunan masjid Al Falah yang sudah tua, maka sepantasnya untuk dilakukan renovasi pembanguan agar dapat memberi kenyamanan masyarakat dalam menjalankan ibadah.

Surat rekomendasi masjid Al Falah diserahkan oleh ketua FKUB Provinsi DKI Jakarta – KH. Ahmad Syafii Mufid kepada ketua panitia pembangunan masjid Al Falah Sugito.(fkub/budi)

 

FKUB DKI Jakarta Melakukan Kunjungan Verifikasi Lapangan Masjid Al Hamra

(FKUB-Jakarta ) Pengurus FKUB Provinsi DKI Jakarta melakukan kunjungan verifikasi lapangan ke lokasi pembangunan masjid Al Hamra yang beralamat: Jl. Mundu No.19 Rt.002/18  Kel. Legoa – Koja- Jakarta Utara (10/4).

Kegiatan Kunjungan kelokasi pembangunan  merupakan rangkaian yang terakhir dalam proses mendapatkan IMB untk mendirikan atau merenovasi rumah ibadah. Selain melihat lokasi pembangunan masjid Al Hamra kehadiran pengurus FKUB Provinsi DKI Jakarta ke lokasi pembangunan adalah untuk mendengarkan testimoni tidak keberatan atas rencana dibangunnya rumah ibadah masjid Al Hamra dari masyarakat sekitar pembangunan, tokoh pemerintahan setempat, RT, RW, Lurah camat, Babinsa, Koramil dan dari Majelis Ulama Indonesia Kota Jakarta Utara.

Kunjungan ini untuk memastikan bahwa masyarakat sekitar tidak merasa keberatan atas rencana dibangunnya masjid Al Hamra, Jangan sampai ada peramsalahan dibelakang hari, rumah ibadah sudah dibangun tapi ada warga yang keberantan dengan dibangunnya masjid Al Hamra”

“Kunjungi ini merupakan rangkaian pelaksanaan peraturan bersama menteri no. 8 dan 9 tahun 2006”.

Pada tahun 2018 ini FKUB Provinsi DKI Jakarta telah mengeluarkan surat rekomendasi pembangunan rumah ibadah antara lain: Gereja Bethel Indonesia Ecclesia di Jakarta Barat, Gereja Advent Masehi Hari Ketujuh di Jakarta Timur, VIhara Avalokitesvara Vipassana Graha di Jakarta Utara, Masjid Al Fallah di jakarta Timur dan Masjid Al Hamra adalah rumah ibadah yang kelima yang akan diberikan rekomendasi.

Kunjungan  FKUB Provinsi DKI Jakarta meninjau lokasi pembangunan Masjid Al Hamra dipimpin langsung oleh Ketua FKUB Provinsi DKI Jakarta-KH. Ahmad Sayfii Mufid.

Sedangkan pengurus FKUB Provinsi DKI Jakarta yang turut hadir mendampingi Ketua FKUB Provinsi DKI Jakarta antara lain, Drs. Rudy Pratikno, SH., H. Syarief Tanudjaja-Wakil Ketua, H. Taufiq Rahman Azhar – Sekretaris, Pdt. Manuel E. Raintung – Wakil Sekretaris, H. Aris Banaji, H. Ahmad Astamar, H, Tri Gunawan Hadi, H. Qomarudin, Romo Antonius Suyadi, Pr – Anggota FKUB DKI Jakarta.(budi/fkub)

Perjalanan Capacity Building FKUB Provinsi DKI Jakarta

Drs. Dedy Sosialisto-Plt. Kepala Bidang KEsatuan bangsa Kota surabaya dan KH. Ahmad Syafii Mufid Ketua FKUB Provinsi DKI Jakarta

(FKUB-JAKARTA) Pengurus Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Provinsi DKI Jakarta melakukan kunjungan ke Provinsi Jawa Timur dalam rangka Capacity Building guna meningkatkan kapasitas anggota FKUB Provinsi DKI Jakarta, kunjungan dilaksanakan selama empat hari mulai dari tanggal, 19-22 Maret 2018.

Pilihan sasaran perjalanan ke daerah Jawa Timur sangat penting untuk capacity building dalam rangka bina damai. Bagi FKUB DKI Jakarta, kunjungan ke luar negeri maupun dalam negeri bahkan di dalam kota Jakarta adalah untuk tujuan besar, kerukunan atau bina damai. Mandat yang diemban oleh FKUB Provinsi DKI Jakarta mengharuskan semua untuk terus menerus meningkatkan pengetahuan, menambah pengalaman dan memahami dinamika kemanusiaan, sosial, keagamaan dan kebangsaan.

Ada beberapa tujuan yang hendak dicapai dalam perjalanan ini. Hari Pertama, FKUB Provinsi DKI Jakarta berkunjung ke kota Surabaya untuk bertemu dan berdialog dengan mitra, FKUB kota Surabaya dan FKUB Provinsi Jawa Timur. Semula, pada pertemuan dengan FKUB Kota Surabaya, rombongan dapat bertemu dengan Walikota Surabaya, tetapi karena ada tamu dari Liverpool, FKUB DKI hanya bertemu dengah PLT. Kepala Badankesbangpol serta pimpinan FKUB setempat. Isu yang dibicarakan adalah seputar bina damai yang terkait dengan pembangunan dan penataan kota tanpa penggusuran, kesejahteraan sosial terutama untuk penyandang masalah kesejahteraan sosial (PSK) yang melibatkan peran ormas, yakni Muhammadiyah di wilayah Dupak.

Selanjutnya FKUB Provinsi DKI Jakarta melakukan kunjungan ke kantor Badan Kesatuan Bangsa dan Politik Provinsi Jawa Timur, berdialog dengan FKUB Provinsi Jawa. Rombongan FKUB DKI Jakarta diterima oleh Sekretaris kesbang, dewan penasihat dan pimpinan serta anggota FKUB Jawa Timur.

Foto bersama pengurus FKUB DKI Jakarta dan Pengurus FKUB Provinsi Jawa Timur

Provinsi Jawa Timur memiliki residu konflik sosial keagamaan terkait kasus Sampang, yang melibatkan komunitas Syiah dan masyarakat setempat. Problem berkepanjangan. Sudah satu windu kejadian, korban pengungsi belum mau kembali, dan korban masyarakat belum mau menerima kembali mereka. Penerintah daerah harus mengeluarkan dana besar untuk menjamin kehidupan para pengungsi. Tentu sangat nembebani pikiran dan sumber daya pemerintah daerah. Namun, pemerintah menurut Kesbangpol Provinsi Jawa Timur tetap dalam semboyannya “Pemerintah itu tugasnya Ngayomi dan Ngayemi”. Artinya pemerintah harus melindungi rakyat dan membuat tenang masyarakatnya. Mengakhiri kunjungan di Surabaya, peserta city tour ke jembatan Suromadu, tol yang menghububgkan kota Surabaya dengan Bangkalan Madura. Semestinya, setelah itu akan ziarah ke makam Sunan Ampel dan mengamati kehidupan masy multikultural di wilayah tersebut, tetapi karena ada anggota yang sakit, rombongan langsung pulang ke penginapan dan mengurus teman yang perlu dirawat.

Lesson learn dari Surabaya adalah, kehidupan multikultural masyarakat telah berlangsung lama, sejak abad 14 hingga sekarang. Mereka saling mengenal, saling menghormati dan bekerjasama, atau toleransi. Cukup sudah pembelajaran tentang bina damai digali dari khasanah budaya kita sendiri.

Pelajaran berharga lainnya, yang juga dapat dijadikan bukti bahwa kerukunan umat beragama di wilayah Jawa Timur. Pada abad 19 di Ngoro dan Mojowarno telah tumbuh komunitas Kristen pertama bagi masyarakat Jawa. Komunitas ini membangun jemaat Gereja
Kegiatan hari Hari Kedua, dilanjutkan kunjungan ke Trowulan, disini rombongan mendapatkan pelajaran di mana situs kerajaan Majapahit pernah menjadi negara besar abad 14 – 15. Negara ini hilang ditelan oleh sejarah karena pertikaian atau konflik politik yang berkepanjangan. Majapahit meninggalan pesan dan pelajaran yang sangat luar biasa bagi bangsa ini dengan semboyannya “Bhineka Tunggal Ika”  meskipun berbeda-beda tetapi tetap satu. Semboyan Majapahit yang terkenal itu telah diterima oleh bangsa Infonesia sebagai salah satu kesepakatan nasional.
Rombongan FKUB DKI Jakarta menyempatkan mengunjungi Patung Buddha Tidur (Sleeping Buddha) ini terletak di Desa Bejijong, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto. Lokasinya berada di tengah perkampungan yang dekat dengan desa persawahan, sehingga menjadikan suasana disana menjadi tenang dan sejuk khas pedesaan. Tempat ini sering mendapat kunjungan wisatawan, baik untuk beribadah maupun rombongan non-Buddhis, terutama hari libur sekolah yang banyak dikunjungi oleh para pelajar. Pihak pengelola vihara cukup terbuka menerima kedatangan rombongan dan akan memberikan informasi tentang hal-hal yang terkait dengan keberadaan tempat ini.
Selanjutnya rombongan FKUB DKI Jakarta melanjutkan kunjungan ke Gereja Kristen Jawi Wetan yang beralamat di Jl.Merdeka No.2, Mojowangi, Mojowarno, Kabupaten Jombang, Jawa Timur 61475. Gereja Kristen Jawi Wetan pertama kali dideklarasikan pada tanggal 11 Desember 1936 di salah satu Jemaat Kristen Jawa terkemuka saat itu. Setelah itu, rombongan FKUB DKI Jakarta melanjutkan perjalannya dan menyempatkan berjiarah ke makam Gus Dur Presiden Republik Indonesia Ke-4. Kegiatan FKUB DKI Jakarta pada hari kedua berakhir di Pondok Pesantren Wali Barokah, sebuah pesantren untuk mendidik mubaligh Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII). Tokoh litas agama yang ikut rombongan ini menjadi tahu apa itu pesantrenm apa itu LDII dan bagaimana relasi sosial serta perananny dalam bina damai di wilayah Kediri. Di Kediri, LDII berhasil menjadi salah satu penggerak kerukunan dan kedamaian. Buktinyam FKUB DKI Jakarta diterima oleh pimpinan pesantren KH.Sunarto didampingi oleh tokoh-tokoh lintas agama dan bahkan tokoh penghayat kepercayaan.
Kegiatan hari Hari Ketiga, Rombongan FKUB DKI Jakarta melanjutkan perjalanan menuju ke Kota malang dan menyempatkan mampir ke makam Bung Karno Presiden Pertama Republik Indonesia.
Kegiatan hari Hari Keempat, rombongan FKUB DKI Jakarta berkunjung ke Keuskupan Malang, kegiatan kunjungan diisi dengan berdialog dengan Uskup Mgr. Prof. Dr. Henricus Pidyarto Gunawan O.Carm dan tokoh lintas Iman Kota Malang.(fkub/budi)

FKUB DKI Jakarta Menggelar Pentas Seni Budaya di Balai Kota

Gubernur Provinsi DKI Jakarta, Djarot Syaiful idayat memberikan sambutan.

(FKUB Jakarta) Provinsi DKI Jakarta merupakan barometer bagi bangsa Indonesia, karena Jakarta adalah Ibukota Negara sekaligus miniatur Indonesia. Provinsi DKI Jakarta memiliki tantangan besar memelihara keharmonisan dan kerukuanan antar umat beragama ditengah –tengah warganya yang multi etnis dan beragam latar belakang.

Forum Kerukunan Umat Beragama) DKI Jakarta bersama Alumni SABDA (Sekolah Agama dan Bina Damai) menyelenggarakan kegiatan pentas seni dan budaya anak lintas iman bertema ‘Indonesia Bangkit’ bertempat di Pendopo Balaikota DKI Jakarta, Jl. Medan Merdeka, Jakarta Pusat, Sabtu siang (23/09/17).

Kegiatan pentas seni ini mementaskan pagelaran berbagai aktifitas anak-anak seperti permainan, mewarnai, dongeng serta pentas kesenian dan musik tradisional Indonesia yang diikuti sebanyak 600 anak-anak lintas iman utusan sekolah PAUD, TK, SD, dan SMP yang berasal dari agama Islam, Katolik, Kristen, Buddha, Khonghucu, dan Hindu.

Dalam acara tersebut dimeriahkan oleh Tarian Pencak Silat, Pertunjukan musik Angklung, Barongsay dan tarian tradisonal lainnya yang merupakan partisipasi dari masing masing majelis agama.

Menurut  KH. Ahmad Syafii Mufid selaku ketua FKUB Provinsi DKI Jakarta,  kegiatan ini diselenggarakan bertujuan untuk menanamkan arti kerukunan sejak dini.

Untuk merekatkan kebhinekaan yang didambakan, meneguhkan kembali kebersamaan anak-anak maupun seluruh lapisan masyarakat dalam mewujudkan cita-cita Proklamasi Republik Indonesia.

“Acara kita helat dengan harapan dan tujuan agar Jakarta lebih baik lagi, damai hidup bersama dan menjaga kerukunan,”

Ahmad Astamar selaku ketua panitia penyelenggara menambahkan, bahwa keberagaman identitas bangsa Indonesia merupakan anugerah Tuhan Yang Maha Esa yang patut kita dirawat dan disyukuri.

Sementara itu, Gubernur DKI Jakarta Djarot Saiful Hidayat dalam sambutannya mengungkapkan kegembiraannya menyaksikan pentas seni yang ditampilkan sejumlah anak lintas agama yang berasal dari berbagai sekolah di Jakarta ini.

“Saya senang sekali, saya bangga kepada anak-anak kita, yang kemudian menggugah tentang komitmen bahwa anak-anak ini harus diperlakukan sama,” kata Djarot.(fkub/budi)

KH. Syafii Mufid: “Halal Bihalal itu Budaya Indonesia”

KH. Ahmad Syafii Mufid – Ketua FKUB Provinsi DKI Jakarta

(FKUB Jakarta) Halal bihalal, dan silaturrahmi merupakan ritual yang sangat baik untuk dijaga dan dilestarikan. Karena ritual beragama, itu mampu memperkokoh kerukunan kehidupan berbangsa dan kerukunan antar umat beragama.

Silaturrahim dan halal bihalal juga menjadi bukti bahwa Islam adalah agama yang cinta damai dan anti konflik. Ritual keagamaan itu menandakan antara Islam dan Indonesia sudah menyatu dan saling mendukung.

Dalam rangka memperingati Hari Raya Idul Fitri 1438 H, Alumni Sekolah Agama-Agama Bina Damai (SABDA) FKUB Provinsi DKI Jakarta menyelenggarakan acara Halal Bihalal di Kantor FKUB Provinsi DKI Jakarta (27/7/2017).

Kegiatan ini bertujuan untuk menjalin silaturahmi antara alumni-alumni SABDA angkatan pertama sampai dengan angkatan kelima dengan para pengurus FKUB DKI Jakarta.

Pada kesempatan itu, Ketua FKUB Provinsi DKI Jakarta -KH. Ahmad Syafii Mufid memberikan paparan tentang nilai Filosofi Halal Bihalal.

Menurut beliau, pada saat menuntut ilmu di Belanda, mengamati di negara manapun Turki, Arab, Inggris dan Negara lainya tidak pernah ada budaya Halal Bihalal. Yang ada Budaya Halal Bihalal itu hanya di Indonesia. Dan budaya toleransi dan halal bihalal sudah dipraktekkan oleh kakek moyang kita bangsa Indonesia sejak jaman dahulu kala.

“Halal Bihalal itu asli budaya bangsa Indonesia, dan merupakan budaya toleransi”

Syafii Mufid menambahkan, yang menjadi simbolik halal bihalal adalah Ketupat dan Lepet. Ketupat yang mengandung filosofi mengakui kesalahan, dan Lepet mengandung filosofi saling melekat manjadi rukun.

Halal Bihalal mempunyai makna integratif dalam masyarakat maupun bangsa dan negara. Jadi intinya Halal Bihalal merupakan wadah yang pas untuk Bina Damai.

Perdamaian Abadi mungkinkah diwujudkan di dunia ini? Perdamaian di mulai dari diri sendiri dan masyarakat sekitarnya. Kedepannya agama akan lebih penting lagi diperlukan untuk mewujudkan Perdamaian Dunia dibanding senjata. Tetapi pertanyaannya adalah Agama yang seperti apa? Agama yang menjunjung tinggi akhlak nur Karimah, pungkasnya.

Kegiatan Halal Bihalal ini dihadiri oleh Kesbangpol DKI Jakarta, Dit. Intelkam Polda Metro Jaya, Pengurus FKUB DKI Jakarta, FKUB Wilayah dan Alumni Sabda, jumlah peserta yang hadir kurang lebih seratus orang.(budi/fkub)

KH. Syafii Mufid: Rekonsiliasi dan Mediasi Pasca Pilkada

(FKUB Jakarta) Dinamika politik pasca penyelenggaraan Pilkada Gubernur dan Wakil Gubernur Provinsi DKI Jakarta 2017 memunculkan polirisasi di masyarakat. Polarisasi disebabkan oleh pemanfaatan isu primodial terkait suku, agama, ras dan antargolongan disertai ujaran kebencian.

Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Provinsi DKI Jakarta dalam hal ini tidak boleh memihak kepada salah satu calon. FKUB Provinsi DKI Jakarta selalu berupaya untuk menyatukan pihak-pihak berselisih.

Alhamdulillah Pilkada Gubernur dan Wakil Gubernur Provinsi DKI Jakarta tahun 2017 dapat berjalan dengan lancar dan aman tanpa ada kerusuhan yang berarti.

“Setelah terpilihnya Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta yang baru pasca Pilkada, mari semua pihak yang terpecah untuk  menjadi satu membangun Kota Jakarta” ujar KH. Syafii Mufid pada saat memberikan materi pada lokakarya “Mediasi dan Resolusi Konflik Keagamaan” di Villa Renata Cipanas, (26/7/2017)

Lokakarya Mediasi dan Resulusi Konflik Keagamaan diselenggarakan oleh PUSAD Paramadina bekerjasama dengan Magister Perdamaian dan Resolusi Konflik Universitas Gadjah Mada (MPRK) Jogjakarta dan FKUB Provinsi DKI Jakarta, berlangsung selama empat hari, 24-27 Juli 2017 di Villa Renata – Cipanas, Cianjur Jawa Barat.

FKUB DKI Jakarta telah melakukan Rekonsiliasi dan Mediasi Pasca Pilkada DKI Jakarta 2017 untuk menyatukan pihak-pihak yang bertikai untuk menjadi satu kembali.

Upaya-upaya yang dilakukan FKUB DKI Jakarta adalah, Program 100 hari rekonlisiasi antar pendukung, Perlu memberikan penjelasan kepada elit, bahwa pilkada adalah kontestasi, Stop reproduksi Isu SARA, Melakukan Silaturrahmi dan Saling Memaafkan dan Mengumpulkan para tokoh muslim dan non muslim untuk saling memaafkan setelah kejadian Pilkada.

“Alhamdulillah FKUB DKI Jakarta dapat berperan dalam pelaksanaan rekonsiliasi dan mediasi pasca pilkada DKI Jakarta 2017”, imbuhnya.

Syafii menambahkan, FKUB DKI Jakarta kini telah berkembang menjadi lembaga Bina Damai, tidak hanya melakukan tugas pokok saja, tapi bias berperan dalam mencipktakan kedamaian di Jakarta.

Prinsip FKUB DKI Jakarta dalam menjaga kerukunan Kota Jakarta adalah “Mengagungkan Tuhan, Memuliyakan Manusia”,(budi/fkub)

Lokakarya Mediasi dan Resolusi Konflik

(FKUB Jakarta) PUSAD Paramadina menyelenggarakan lokakarya “Mediasi dan Resolusi Konflik Keagamaan” dengan melibatkan pengurus Forum Kerukunan Umat Beragama yang ada di wilayah Jakarta, Tangerang Selatan dan Kab. Gunung Kidul bertempat di Villa Renata – Cipanas, selama empat hari dari tanggal 24 sampai dengan 27 Juli 2017.

Kegiatan ini bertujuan untuk berbagi pengalaman memediasi konflik, meningkatkan kemampuan dalam mediasi serta resolusi konflik, dan melembagakan mediasi dan resolusi konflik di FKUB

PUSAD Paramadina menemukan salah satu masalah krusial dihadapi FKUB dalam menjalankan fungsinya yaitu kemampuan memediasi konflik. Oleh sebab itu, PUSAD Paramadina mengadakan pelatihan mediasi konflik keagamaan bagi anggota FKUB.

Kegiatan lokakarya ini diselengara oleh PUSAD Paramadina bekerjasama dengan FKUB Provinsi DKI Jakarta, dan Magister Perdamaian dan Resolusi Konflik Universitas Gadjah Mada (MPRK) Jogjakarta, diikuti oleh utusan dari FKUB Provinsi DKI Jakarta empat orang, utusan FKUB Wilayah Jakarta Utara enam orang, FKUB Kota Tangerang Selatan enam orang dan FKUB Kab. Gunung Kidul- Yogyakarta sebanyak enam orang.

Lokakarya yang berlangsung selama Empat hari itu diisi dengan materi-materi : Pertama, Agama dan Bina Damai, Kedua, Peluang dan Tantangan Resolusi Konflik, Ketiga, Pelembagaan Mediasi Konflik Keagamaan, Keempat, Komunikasi efektif, Kelima, Praktik Mediasi dan Resolusi Konflik, Keenam, Mediasi dan Resolusi Konflik: Pengalaman FKUB Provinsi DKI Jakarta dan Ketujuh, Rencana Tindak Lanjut.

Sebagai narasumber antara lain: Ihsan Ali Fauzi – Direktur PUSAD Paramadina, KH. Ahmad Syafii Mufid – Ketua FKUB Provinsi DKI Jakarta, Rizal Pangabean dan Titik Firawati dari Universitas Gadjah Mada.(budi/fkub)

FKUB DKI Jakarta Teken Nota Kesepahaman Dengan Yayasan Global Peace Foundation

Ketua FKUB DKI Jakarta - KH. Ahmad Syafii Mufid (kiri) dan Dr. Chandra Setiawan- Ketua Yayasan Global Peace Foundation Indonesia

Ketua FKUB DKI Jakarta – KH. Ahmad Syafii Mufid (kiri) dan Dr. Chandra Setiawan- Ketua Yayasan Global Peace Foundation Indonesia

(FKUB Jakarta) Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Provinsi DKI Jakarta teken nota kesepahaman dengan Yayasan Perdamaian Global Indonesia (Global Peace Indonesia Foundation) terkait dengan upaya menciptakan perdamaian dan kerukunan umat beragama melalui kegiatan dibidang kepemudaan dan pembangunan ekonomi dengan semangat Bhinneka Tunggal Ika, dikantor FKUB DKI Jakarta, Ghara Mental Spiritual Lt.4 – Jl. Awaludin II, Kebun Melati – Tanah Abang – Jakarta Pusat (6/6/2017).

Kegiatan penandatangan Memorandum of Understanding (MoU) ini dimaksudkan adalah sebagai dasar kemitraan Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) DKI Jakarta dengan Yayasan Perdamaian Global Indonesia untuk meningkatkan koordinasi dalam pendayagunaan kelembagaan lainnya secara terencana, terkoordinasi, terorganisir, terpadu dan menyeluruh serta mensinergikan kegiatan-kegiatan dalam mendukung upaya menciptakan perdamaian dan kerukunan umat beragama di Provinsi DKI Jakarta khususnya dan bagi Indonesia pada umumnya.

Dalam sambutannya ketua FKUB Provinsi DKI Jakarta, KH. Ahmad Syafii Mufid mengucapkan terima kasih atas kepercayaan Global Peace Indonesia Foundation mau bekerjasama dengan FKUB DKI Jakarta.

“Dengan kehadiran lembaga GPF ini menghadirkan semangat baru, Prespektif baru dan karya baru buat FKUB Jakarta”.

Ketua FKUB DKI Jakarta berharap dengan kerjasama ini mampu menciptakan kerukunan dan perdamaian di Jakarta khususnya dan Dunia.

Sementara itu Dr. Chandra Setiawan selaku pimpinan Global Peace Indonesia Foundation menjelaskna bahwa, GPF bediri dari tahun 2010, dan sudah banyak memiliki hubungan dengan oganisasi diseluruh dunia.

Global Peace Indonesia Foundation pada 2010 mengadakan Global Peace Festival Asia Pastific, bekerjasama dengan NU, dan melibatkan para tokoh agama dilaksanakan di Glora Bung Karno yang dihadiri oleh 35.000 orang peserta.

IMG_1513

Menurut Chandra, “Perdamaian itu tidak akan terwujud kalau kita tidak menganggap bahwa kita ini bersaudara sesama manusia”.

Chandra menambahkan, kerjasama lintas agama adalah salah satu caru untuk mencapai persaudaraan dengan rasa damai.Dunia kalau mengabaikan posisi umat lintas agama maka perdamaian tidak mungkin akan tercapai, jadi kerjsama itu sangat penting, imbuhnya.

Chandra juga meyakini bahwa, keluarga menjadi pondasi untuk melangkah lebih jauh, jadikan keluarga menjadi sekolah yang mengajakan cinta kasih.

Perlu kita tanamkan kepada anak-anak agarmemiliki semangat melayani sejak dini sehingga bisa menyadari bahwa tidak ada orang yang bisa hidup sendiri didunia ini.

“Hidup kita harus berati buat orang lain, kebaikan itu tidak hanya untuk dirinya sendiri tapi kebaikannya itu bemanfaat buat orang lain”.

Chadra juga berharap, kerjasama dengan FKUB Jakarta bisa merekatkan kembali kerukunan pemuda-pemuda lintas agama yang sempat terkoyak akibat pengaruh Pilkada DKI Jakarta, dan terjadi kemerosotan yang luar biasa teruatama melalui pengunaan media sosial.

FKUB Jakarta merupakan salah satu FKUB yang terbaik di Indonesia sehingga bisa menjadi contoh, dan bisa menunjukan bahwa DKI Jakarta ini menjadi pusat perdamaian, pungkasnya.(fkub/budi)

1 2 3 6