KH. Ahmad Syafii Mufid: “Kata Siapa Jakarta Tidak Toleransi”

KH. Ahmad Syafii Mufid- Ketua FKUB Provinsi DKI Jakarta

(FKUB JAKARTA) Kehidupan umat beragama di Provinsi DKI Jakarta selama ini berlangsung  rukun, tanpa gangguan yang berarti. Warga kota Jakarta meskipun berbeda-beda agamanya, mampu hidup dengan rukun dan toleran.

Demikian disampaikan Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Ahmad Syafi’i Mufid pada saat  menerima kunjungan dari Forum Kerukunan Umat Beragama Kabupaten Minahasa Selatan, di kantor FKUB Provinsi DKI Jakarta, Graha Mental Spiritual, Lt.4 – Jl. Awaludin II, Kebun Melati-Tanah Abang- Jakarta Pusat (23/4/2018).

Syafi’i menjelaskan, bahwa fakta tersebut sekaligus membantah banyaknya informasi yang menyatakan bahwa toleransi umat beragama di DKI Jakarta jauh dari kata rukun. Bahkan ada yang menyatakan bahwa tingkat toleransi di DKI Jakarta  paling rendah daripada provinsi lainnya,”

Syafii menambahkan, bahwa di Jakarta memilik potensi konfliknya sangat tinggi, akan tetapi konflik di Jakarta itu bukan konflik agama tetapi persoalannya spasial, itu sesuai dengan hasil penelitian antropolg dari Prancis yang bernama Jeremy Teddy, beliau katakan bahwa selama tiga tahun di Jakarta, Jakarta itu selalu terjadi konflik terkait spacial.

 “ Terjadinya tawuran-tawuran, koflik itu terjadi karena rebutan ruang, dari mulai kampung sana dengan kampung sini sampi dengan yang sekampung, dan itu terus mengejala sampai ke sekolah”.

Jakarta itu semenjak bernama Batavia, masyarakat di Jakarta  itu sudah bermacam-macam  agama, macam suku tetapi bisa rukun menjadi satu.

Menurut Syafii, selain masalah spasial, konflik di Jakarta itu timbul karena ada persoalan-persoalan politik. Contoh kasus tanjung Priok, kasus kuda tuli, kasus mei 1998.

“ Hal ini yang dikwatirkan, kasus seperti ini berkembang di Jakarta yang nyangkut – nyangkut agama”.

Kalau terkait dengan Pilkada memang itu ada suara miring, akan tetapi tidak terjadi apa-apa yang berarti disini, karena kita tidak melihat perbedaan agama, tidak melihat perbedaan suku, apalagi dominasi mayoritas terhadap minoritas, buat kami tidak berlaku.

Sedangkan yang terkait pendirian rumah ibadat, sesuai tupoksi FKUB DKI Jakarta yaitu mengeluarkan rekomendasi untuk pendirian rumah ibadat di Provinsi DKI Jakarta, selama ini rumah ibadat yang paling banyak mendapatkan rekomendasi dari FKUB DKI Jakarta adalah rumah ibadat Kristen.

“Kalau melihat kondisi ini, apa yang kurang dari jakarta?, bagaimana bisa dikatakan masyarakat Jakarta jauh dari kata rukun dan toleransi”.

FKUB DKI Jakarta mengambangkan apa yang dinamakan kader-kader kerukunan melalui sekolah Agama-agama dan Bina Damai (SABDA). Seluruh agama kita libatkan, bahkan aliran kepercayaan, agama Baha’i, Ahmadiyah, dan aliran keras juga ikut, jadi bukan hanya agama yang mainstream saja yang kita libatkan, mereka kami ajak semua untuk berpikir bagaimana membangun Jakarta Aman- Jakarta Damai.

Saya teringat oleh Filosof besar yaitu Hans Kung beliau mengatakan tentang Global etik, didunia itu perlu adanya etika yang disepakti bersama.

“Dunia ini tidak akan damai kalau tidak ada dialog antar umat beragama, jadi dialog antar umat beragama itu menjadi kata kunci”.

Saat ini, FKUB DKI Jakarta sudah diajak menjadi bagian Global Peace Foundation untuk kampanye damai untuk seluruh dunia, tandas Syafii Mufid.

Rombongan FKUB Kab. Minahasa Selatan berjumlah Dua Puluh Delapan orang, terdiri dari: Bupati Kab. Minahasa Selatan, Kakanwil Agama Provinsi Sulawesi Utara, Kapolres Kab. Minahasa Selatan dan anggota FKUB Kab. Minahasa Selatan.

Rombongan diterima dikanator FKUB DKI Jakarta beralamat Graha Mental Spiritual Lt. 4, Jl. Awaludin II, Kebun Melati, Tanah Abang- Jakarta Pusat, diterima oleh Ketua FKUB DKI Jakarta beserta jajarannya, hadirpula Kakanwil Kementerian Agama Provinsi DKI Jakarta, Dr. H. Syaiful Muzab dan perwakilan dari Badan Kesatuan Bangsa dan Politik Provinsi DKI Jakarta- H. Ridwan Rusli.(fkub/budi)