KH. Ahmad Syafii Mufid: “Kata Siapa Jakarta Tidak Toleransi”

KH. Ahmad Syafii Mufid- Ketua FKUB Provinsi DKI Jakarta

(FKUB JAKARTA) Kehidupan umat beragama di Provinsi DKI Jakarta selama ini berlangsung  rukun, tanpa gangguan yang berarti. Warga kota Jakarta meskipun berbeda-beda agamanya, mampu hidup dengan rukun dan toleran.

Demikian disampaikan Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Ahmad Syafi’i Mufid pada saat  menerima kunjungan dari Forum Kerukunan Umat Beragama Kabupaten Minahasa Selatan, di kantor FKUB Provinsi DKI Jakarta, Graha Mental Spiritual, Lt.4 – Jl. Awaludin II, Kebun Melati-Tanah Abang- Jakarta Pusat (23/4/2018).

Syafi’i menjelaskan, bahwa fakta tersebut sekaligus membantah banyaknya informasi yang menyatakan bahwa toleransi umat beragama di DKI Jakarta jauh dari kata rukun. Bahkan ada yang menyatakan bahwa tingkat toleransi di DKI Jakarta  paling rendah daripada provinsi lainnya,”

Syafii menambahkan, bahwa di Jakarta memilik potensi konfliknya sangat tinggi, akan tetapi konflik di Jakarta itu bukan konflik agama tetapi persoalannya spasial, itu sesuai dengan hasil penelitian antropolg dari Prancis yang bernama Jeremy Teddy, beliau katakan bahwa selama tiga tahun di Jakarta, Jakarta itu selalu terjadi konflik terkait spacial.

 “ Terjadinya tawuran-tawuran, koflik itu terjadi karena rebutan ruang, dari mulai kampung sana dengan kampung sini sampi dengan yang sekampung, dan itu terus mengejala sampai ke sekolah”.

Jakarta itu semenjak bernama Batavia, masyarakat di Jakarta  itu sudah bermacam-macam  agama, macam suku tetapi bisa rukun menjadi satu.

Menurut Syafii, selain masalah spasial, konflik di Jakarta itu timbul karena ada persoalan-persoalan politik. Contoh kasus tanjung Priok, kasus kuda tuli, kasus mei 1998.

“ Hal ini yang dikwatirkan, kasus seperti ini berkembang di Jakarta yang nyangkut – nyangkut agama”.

Kalau terkait dengan Pilkada memang itu ada suara miring, akan tetapi tidak terjadi apa-apa yang berarti disini, karena kita tidak melihat perbedaan agama, tidak melihat perbedaan suku, apalagi dominasi mayoritas terhadap minoritas, buat kami tidak berlaku.

Sedangkan yang terkait pendirian rumah ibadat, sesuai tupoksi FKUB DKI Jakarta yaitu mengeluarkan rekomendasi untuk pendirian rumah ibadat di Provinsi DKI Jakarta, selama ini rumah ibadat yang paling banyak mendapatkan rekomendasi dari FKUB DKI Jakarta adalah rumah ibadat Kristen.

“Kalau melihat kondisi ini, apa yang kurang dari jakarta?, bagaimana bisa dikatakan masyarakat Jakarta jauh dari kata rukun dan toleransi”.

FKUB DKI Jakarta mengambangkan apa yang dinamakan kader-kader kerukunan melalui sekolah Agama-agama dan Bina Damai (SABDA). Seluruh agama kita libatkan, bahkan aliran kepercayaan, agama Baha’i, Ahmadiyah, dan aliran keras juga ikut, jadi bukan hanya agama yang mainstream saja yang kita libatkan, mereka kami ajak semua untuk berpikir bagaimana membangun Jakarta Aman- Jakarta Damai.

Saya teringat oleh Filosof besar yaitu Hans Kung beliau mengatakan tentang Global etik, didunia itu perlu adanya etika yang disepakti bersama.

“Dunia ini tidak akan damai kalau tidak ada dialog antar umat beragama, jadi dialog antar umat beragama itu menjadi kata kunci”.

Saat ini, FKUB DKI Jakarta sudah diajak menjadi bagian Global Peace Foundation untuk kampanye damai untuk seluruh dunia, tandas Syafii Mufid.

Rombongan FKUB Kab. Minahasa Selatan berjumlah Dua Puluh Delapan orang, terdiri dari: Bupati Kab. Minahasa Selatan, Kakanwil Agama Provinsi Sulawesi Utara, Kapolres Kab. Minahasa Selatan dan anggota FKUB Kab. Minahasa Selatan.

Rombongan diterima dikanator FKUB DKI Jakarta beralamat Graha Mental Spiritual Lt. 4, Jl. Awaludin II, Kebun Melati, Tanah Abang- Jakarta Pusat, diterima oleh Ketua FKUB DKI Jakarta beserta jajarannya, hadirpula Kakanwil Kementerian Agama Provinsi DKI Jakarta, Dr. H. Syaiful Muzab dan perwakilan dari Badan Kesatuan Bangsa dan Politik Provinsi DKI Jakarta- H. Ridwan Rusli.(fkub/budi)

FKUB Kab. Minahasa Selatan Belajar Kerukunan Antar Umat Beragama Ke Jakarta

Ketua FKUB Kab. Minahasa Selatan -Pdt. Luky Tumbelaka,

(FKUB-JAKARTA) FKUB Kabupaten Minahasa Selatan, Provinsi Sulawesi Utara berkunjung ke Forum Kerukunan Umat Beragama Provinsi DKI Jakarta (23/4/2018).

Menurut Ketua FKUB Kab. Minahasa Minahasa Selatan-Pdt. Luky Tumbelaka, kunjungan kami ke FKUB Provinsi DKI Jakarta dalam rangka ingin belajar kepada FKUB Provinsi DKI Jakarta dalam mengelola kerukunan antar umat beragama di Provinsi DKI Jakarta.

“Jakarta adalah sebagai barometer nasional dalam segala hal, termasuk dalam menjaga kerukunan antar umat beragama”

Berbagai kondisi yang terjadi dari waktu ke waktu dan begitu cepat berubah sehingga itu yang membuat kami tertarik untuk berkunjung ke Jakarta, lanjutnya.

Selanjutnya Ketua FKUB Kab. Minahasa Selatan – Ketua FKUB Kab. Minahasa Selatan -Pdt. Luky Tumbelaka menambahkan, selain masalah isu kerukunan umat beragama kami ingin belajar banyak mengenai pelaksanaan Pemilihan Kepala Daerah yang sebentar lagi akan dilaksanakan secara serentak, dan FKUB DKI Jakarta memiliki pengalaman masalah itu.

“FKUB Jakarta sukses dalam menghadapi Pilgub tahun 2017 sehingga tidak terjadi konflik yang sehingga Pilgub Provinsi DKI Jakarta dapat berjalan lancar, aman dan damai” tandasnya.

Rombongan FKUB Kab. Minahasa Selatan berjumlah Dua Puluh Delapan orang, terdiri dari: Bupati Kab. Minahasa Selatan, Kakanwil Agama Provinsi Sulawesi Utara, Kapolres Kab. Minahasa Selatan dan anggota FKUB Kab. Minahasa Selatan.

Rombongan diterima dikanator FKUB DKI Jakarta beralamat Graha Mental Spiritual Lt. 4, Jl. Awaludin II, Kebun Melati, Tanah Abang- Jakarta Pusat, diterima oleh Ketua FKUB DKI Jakarta beserta jajarannya, hadirpula Kakanwil Kementerian Agama Provinsi DKI Jakarta, Dr. H. Syaiful Muzab dan perwakilan dari Badan Kesatuan Bangsa dan Politik Provinsi DKI Jakarta- H. Ridwan Rusli.(fkub/budi)

FKUB DKI Jakarta Melakukan Kunjungan Verifikasi Lapangan Masjid Al Hamra

(FKUB-Jakarta ) Pengurus FKUB Provinsi DKI Jakarta melakukan kunjungan verifikasi lapangan ke lokasi pembangunan masjid Al Hamra yang beralamat: Jl. Mundu No.19 Rt.002/18  Kel. Legoa – Koja- Jakarta Utara (10/4).

Kegiatan Kunjungan kelokasi pembangunan  merupakan rangkaian yang terakhir dalam proses mendapatkan IMB untk mendirikan atau merenovasi rumah ibadah. Selain melihat lokasi pembangunan masjid Al Hamra kehadiran pengurus FKUB Provinsi DKI Jakarta ke lokasi pembangunan adalah untuk mendengarkan testimoni tidak keberatan atas rencana dibangunnya rumah ibadah masjid Al Hamra dari masyarakat sekitar pembangunan, tokoh pemerintahan setempat, RT, RW, Lurah camat, Babinsa, Koramil dan dari Majelis Ulama Indonesia Kota Jakarta Utara.

Kunjungan ini untuk memastikan bahwa masyarakat sekitar tidak merasa keberatan atas rencana dibangunnya masjid Al Hamra, Jangan sampai ada peramsalahan dibelakang hari, rumah ibadah sudah dibangun tapi ada warga yang keberantan dengan dibangunnya masjid Al Hamra”

“Kunjungi ini merupakan rangkaian pelaksanaan peraturan bersama menteri no. 8 dan 9 tahun 2006”.

Pada tahun 2018 ini FKUB Provinsi DKI Jakarta telah mengeluarkan surat rekomendasi pembangunan rumah ibadah antara lain: Gereja Bethel Indonesia Ecclesia di Jakarta Barat, Gereja Advent Masehi Hari Ketujuh di Jakarta Timur, VIhara Avalokitesvara Vipassana Graha di Jakarta Utara, Masjid Al Fallah di jakarta Timur dan Masjid Al Hamra adalah rumah ibadah yang kelima yang akan diberikan rekomendasi.

Kunjungan  FKUB Provinsi DKI Jakarta meninjau lokasi pembangunan Masjid Al Hamra dipimpin langsung oleh Ketua FKUB Provinsi DKI Jakarta-KH. Ahmad Sayfii Mufid.

Sedangkan pengurus FKUB Provinsi DKI Jakarta yang turut hadir mendampingi Ketua FKUB Provinsi DKI Jakarta antara lain, Drs. Rudy Pratikno, SH., H. Syarief Tanudjaja-Wakil Ketua, H. Taufiq Rahman Azhar – Sekretaris, Pdt. Manuel E. Raintung – Wakil Sekretaris, H. Aris Banaji, H. Ahmad Astamar, H, Tri Gunawan Hadi, H. Qomarudin, Romo Antonius Suyadi, Pr – Anggota FKUB DKI Jakarta.(budi/fkub)

Perjalanan Capacity Building FKUB Provinsi DKI Jakarta

Drs. Dedy Sosialisto-Plt. Kepala Bidang KEsatuan bangsa Kota surabaya dan KH. Ahmad Syafii Mufid Ketua FKUB Provinsi DKI Jakarta

(FKUB-JAKARTA) Pengurus Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Provinsi DKI Jakarta melakukan kunjungan ke Provinsi Jawa Timur dalam rangka Capacity Building guna meningkatkan kapasitas anggota FKUB Provinsi DKI Jakarta, kunjungan dilaksanakan selama empat hari mulai dari tanggal, 19-22 Maret 2018.

Pilihan sasaran perjalanan ke daerah Jawa Timur sangat penting untuk capacity building dalam rangka bina damai. Bagi FKUB DKI Jakarta, kunjungan ke luar negeri maupun dalam negeri bahkan di dalam kota Jakarta adalah untuk tujuan besar, kerukunan atau bina damai. Mandat yang diemban oleh FKUB Provinsi DKI Jakarta mengharuskan semua untuk terus menerus meningkatkan pengetahuan, menambah pengalaman dan memahami dinamika kemanusiaan, sosial, keagamaan dan kebangsaan.

Ada beberapa tujuan yang hendak dicapai dalam perjalanan ini. Hari Pertama, FKUB Provinsi DKI Jakarta berkunjung ke kota Surabaya untuk bertemu dan berdialog dengan mitra, FKUB kota Surabaya dan FKUB Provinsi Jawa Timur. Semula, pada pertemuan dengan FKUB Kota Surabaya, rombongan dapat bertemu dengan Walikota Surabaya, tetapi karena ada tamu dari Liverpool, FKUB DKI hanya bertemu dengah PLT. Kepala Badankesbangpol serta pimpinan FKUB setempat. Isu yang dibicarakan adalah seputar bina damai yang terkait dengan pembangunan dan penataan kota tanpa penggusuran, kesejahteraan sosial terutama untuk penyandang masalah kesejahteraan sosial (PSK) yang melibatkan peran ormas, yakni Muhammadiyah di wilayah Dupak.

Selanjutnya FKUB Provinsi DKI Jakarta melakukan kunjungan ke kantor Badan Kesatuan Bangsa dan Politik Provinsi Jawa Timur, berdialog dengan FKUB Provinsi Jawa. Rombongan FKUB DKI Jakarta diterima oleh Sekretaris kesbang, dewan penasihat dan pimpinan serta anggota FKUB Jawa Timur.

Foto bersama pengurus FKUB DKI Jakarta dan Pengurus FKUB Provinsi Jawa Timur

Provinsi Jawa Timur memiliki residu konflik sosial keagamaan terkait kasus Sampang, yang melibatkan komunitas Syiah dan masyarakat setempat. Problem berkepanjangan. Sudah satu windu kejadian, korban pengungsi belum mau kembali, dan korban masyarakat belum mau menerima kembali mereka. Penerintah daerah harus mengeluarkan dana besar untuk menjamin kehidupan para pengungsi. Tentu sangat nembebani pikiran dan sumber daya pemerintah daerah. Namun, pemerintah menurut Kesbangpol Provinsi Jawa Timur tetap dalam semboyannya “Pemerintah itu tugasnya Ngayomi dan Ngayemi”. Artinya pemerintah harus melindungi rakyat dan membuat tenang masyarakatnya. Mengakhiri kunjungan di Surabaya, peserta city tour ke jembatan Suromadu, tol yang menghububgkan kota Surabaya dengan Bangkalan Madura. Semestinya, setelah itu akan ziarah ke makam Sunan Ampel dan mengamati kehidupan masy multikultural di wilayah tersebut, tetapi karena ada anggota yang sakit, rombongan langsung pulang ke penginapan dan mengurus teman yang perlu dirawat.

Lesson learn dari Surabaya adalah, kehidupan multikultural masyarakat telah berlangsung lama, sejak abad 14 hingga sekarang. Mereka saling mengenal, saling menghormati dan bekerjasama, atau toleransi. Cukup sudah pembelajaran tentang bina damai digali dari khasanah budaya kita sendiri.

Pelajaran berharga lainnya, yang juga dapat dijadikan bukti bahwa kerukunan umat beragama di wilayah Jawa Timur. Pada abad 19 di Ngoro dan Mojowarno telah tumbuh komunitas Kristen pertama bagi masyarakat Jawa. Komunitas ini membangun jemaat Gereja
Kegiatan hari Hari Kedua, dilanjutkan kunjungan ke Trowulan, disini rombongan mendapatkan pelajaran di mana situs kerajaan Majapahit pernah menjadi negara besar abad 14 – 15. Negara ini hilang ditelan oleh sejarah karena pertikaian atau konflik politik yang berkepanjangan. Majapahit meninggalan pesan dan pelajaran yang sangat luar biasa bagi bangsa ini dengan semboyannya “Bhineka Tunggal Ika”  meskipun berbeda-beda tetapi tetap satu. Semboyan Majapahit yang terkenal itu telah diterima oleh bangsa Infonesia sebagai salah satu kesepakatan nasional.
Rombongan FKUB DKI Jakarta menyempatkan mengunjungi Patung Buddha Tidur (Sleeping Buddha) ini terletak di Desa Bejijong, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto. Lokasinya berada di tengah perkampungan yang dekat dengan desa persawahan, sehingga menjadikan suasana disana menjadi tenang dan sejuk khas pedesaan. Tempat ini sering mendapat kunjungan wisatawan, baik untuk beribadah maupun rombongan non-Buddhis, terutama hari libur sekolah yang banyak dikunjungi oleh para pelajar. Pihak pengelola vihara cukup terbuka menerima kedatangan rombongan dan akan memberikan informasi tentang hal-hal yang terkait dengan keberadaan tempat ini.
Selanjutnya rombongan FKUB DKI Jakarta melanjutkan kunjungan ke Gereja Kristen Jawi Wetan yang beralamat di Jl.Merdeka No.2, Mojowangi, Mojowarno, Kabupaten Jombang, Jawa Timur 61475. Gereja Kristen Jawi Wetan pertama kali dideklarasikan pada tanggal 11 Desember 1936 di salah satu Jemaat Kristen Jawa terkemuka saat itu. Setelah itu, rombongan FKUB DKI Jakarta melanjutkan perjalannya dan menyempatkan berjiarah ke makam Gus Dur Presiden Republik Indonesia Ke-4. Kegiatan FKUB DKI Jakarta pada hari kedua berakhir di Pondok Pesantren Wali Barokah, sebuah pesantren untuk mendidik mubaligh Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII). Tokoh litas agama yang ikut rombongan ini menjadi tahu apa itu pesantrenm apa itu LDII dan bagaimana relasi sosial serta perananny dalam bina damai di wilayah Kediri. Di Kediri, LDII berhasil menjadi salah satu penggerak kerukunan dan kedamaian. Buktinyam FKUB DKI Jakarta diterima oleh pimpinan pesantren KH.Sunarto didampingi oleh tokoh-tokoh lintas agama dan bahkan tokoh penghayat kepercayaan.
Kegiatan hari Hari Ketiga, Rombongan FKUB DKI Jakarta melanjutkan perjalanan menuju ke Kota malang dan menyempatkan mampir ke makam Bung Karno Presiden Pertama Republik Indonesia.
Kegiatan hari Hari Keempat, rombongan FKUB DKI Jakarta berkunjung ke Keuskupan Malang, kegiatan kunjungan diisi dengan berdialog dengan Uskup Mgr. Prof. Dr. Henricus Pidyarto Gunawan O.Carm dan tokoh lintas Iman Kota Malang.(fkub/budi)

KH. Syafii Mufid: “Halal Bihalal itu Budaya Indonesia”

KH. Ahmad Syafii Mufid – Ketua FKUB Provinsi DKI Jakarta

(FKUB Jakarta) Halal bihalal, dan silaturrahmi merupakan ritual yang sangat baik untuk dijaga dan dilestarikan. Karena ritual beragama, itu mampu memperkokoh kerukunan kehidupan berbangsa dan kerukunan antar umat beragama.

Silaturrahim dan halal bihalal juga menjadi bukti bahwa Islam adalah agama yang cinta damai dan anti konflik. Ritual keagamaan itu menandakan antara Islam dan Indonesia sudah menyatu dan saling mendukung.

Dalam rangka memperingati Hari Raya Idul Fitri 1438 H, Alumni Sekolah Agama-Agama Bina Damai (SABDA) FKUB Provinsi DKI Jakarta menyelenggarakan acara Halal Bihalal di Kantor FKUB Provinsi DKI Jakarta (27/7/2017).

Kegiatan ini bertujuan untuk menjalin silaturahmi antara alumni-alumni SABDA angkatan pertama sampai dengan angkatan kelima dengan para pengurus FKUB DKI Jakarta.

Pada kesempatan itu, Ketua FKUB Provinsi DKI Jakarta -KH. Ahmad Syafii Mufid memberikan paparan tentang nilai Filosofi Halal Bihalal.

Menurut beliau, pada saat menuntut ilmu di Belanda, mengamati di negara manapun Turki, Arab, Inggris dan Negara lainya tidak pernah ada budaya Halal Bihalal. Yang ada Budaya Halal Bihalal itu hanya di Indonesia. Dan budaya toleransi dan halal bihalal sudah dipraktekkan oleh kakek moyang kita bangsa Indonesia sejak jaman dahulu kala.

“Halal Bihalal itu asli budaya bangsa Indonesia, dan merupakan budaya toleransi”

Syafii Mufid menambahkan, yang menjadi simbolik halal bihalal adalah Ketupat dan Lepet. Ketupat yang mengandung filosofi mengakui kesalahan, dan Lepet mengandung filosofi saling melekat manjadi rukun.

Halal Bihalal mempunyai makna integratif dalam masyarakat maupun bangsa dan negara. Jadi intinya Halal Bihalal merupakan wadah yang pas untuk Bina Damai.

Perdamaian Abadi mungkinkah diwujudkan di dunia ini? Perdamaian di mulai dari diri sendiri dan masyarakat sekitarnya. Kedepannya agama akan lebih penting lagi diperlukan untuk mewujudkan Perdamaian Dunia dibanding senjata. Tetapi pertanyaannya adalah Agama yang seperti apa? Agama yang menjunjung tinggi akhlak nur Karimah, pungkasnya.

Kegiatan Halal Bihalal ini dihadiri oleh Kesbangpol DKI Jakarta, Dit. Intelkam Polda Metro Jaya, Pengurus FKUB DKI Jakarta, FKUB Wilayah dan Alumni Sabda, jumlah peserta yang hadir kurang lebih seratus orang.(budi/fkub)

Lokakarya Mediasi dan Resolusi Konflik

(FKUB Jakarta) PUSAD Paramadina menyelenggarakan lokakarya “Mediasi dan Resolusi Konflik Keagamaan” dengan melibatkan pengurus Forum Kerukunan Umat Beragama yang ada di wilayah Jakarta, Tangerang Selatan dan Kab. Gunung Kidul bertempat di Villa Renata – Cipanas, selama empat hari dari tanggal 24 sampai dengan 27 Juli 2017.

Kegiatan ini bertujuan untuk berbagi pengalaman memediasi konflik, meningkatkan kemampuan dalam mediasi serta resolusi konflik, dan melembagakan mediasi dan resolusi konflik di FKUB

PUSAD Paramadina menemukan salah satu masalah krusial dihadapi FKUB dalam menjalankan fungsinya yaitu kemampuan memediasi konflik. Oleh sebab itu, PUSAD Paramadina mengadakan pelatihan mediasi konflik keagamaan bagi anggota FKUB.

Kegiatan lokakarya ini diselengara oleh PUSAD Paramadina bekerjasama dengan FKUB Provinsi DKI Jakarta, dan Magister Perdamaian dan Resolusi Konflik Universitas Gadjah Mada (MPRK) Jogjakarta, diikuti oleh utusan dari FKUB Provinsi DKI Jakarta empat orang, utusan FKUB Wilayah Jakarta Utara enam orang, FKUB Kota Tangerang Selatan enam orang dan FKUB Kab. Gunung Kidul- Yogyakarta sebanyak enam orang.

Lokakarya yang berlangsung selama Empat hari itu diisi dengan materi-materi : Pertama, Agama dan Bina Damai, Kedua, Peluang dan Tantangan Resolusi Konflik, Ketiga, Pelembagaan Mediasi Konflik Keagamaan, Keempat, Komunikasi efektif, Kelima, Praktik Mediasi dan Resolusi Konflik, Keenam, Mediasi dan Resolusi Konflik: Pengalaman FKUB Provinsi DKI Jakarta dan Ketujuh, Rencana Tindak Lanjut.

Sebagai narasumber antara lain: Ihsan Ali Fauzi – Direktur PUSAD Paramadina, KH. Ahmad Syafii Mufid – Ketua FKUB Provinsi DKI Jakarta, Rizal Pangabean dan Titik Firawati dari Universitas Gadjah Mada.(budi/fkub)

Ka.Kesbangpol, H. Darwis Adji:”Semata-mata tugas Kesbangpol itu Untuk Menjadikan Kota Jakarta Aman”

Darwis(FKUB-Jakarta) Badan Kesatuan Bangsa dan Politik Povinsi DKI Jakarta kembali menyelenggarakan kegiatan Peningkatan Kerukunan Umat Beragama  2017 di Gedung ESGP, Jl.Wika No.17 Rt.04/06 Srengseng Sawah – Jagakarsa- Jakarta Selatan, Kamis 4/5/2017.

Kegiatan Peningkatan Kerukunan Umat Beragama tahun 2017 kali ini merupakan angkatan ketiga, yang bertujuan untuk memberikan penyuluhan kepada tokoh agama, tokoh masyarakat dan tokoh etnis yang ada di wilayah kecamatan Jagakarsa, serta membangun sikap beragama dan sikap toleransi antar umat agama sehigga dapat terciptanya kerukunan antar umat beragama diwilayah Jagakarsa.

Pada kesempatan itu Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik Provinsi DKI Jakarta – H. Darwis M. Adji, M.Si berkesmpatan memberikan sambutan dan sekaligus membuka acara tersebut.

Dalam sambutannya Darwis Adji menjelaskan tentang tugas dan fungsi Kesbangpol Provinsi DkI Jakarta, Pertama: Menyatukan masyarakat yang ada di Provinsi DKI Jakarta yang beda agama, Etnik, budaya dan pilihan politik, Kedua: Sesuai Undang-undang no.17 thn 2014 kepala Kesbangpol merangkap sebagai sekretaris komunitas intelijen daerah, dan yang Ketiga: Kepala Kesbangpol merangkap sebagai kepala secretariat forum pimpinan daerah, dan Ka.Kesbangpol juga sebagai Pembina Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Provinsi DKI Jakarta.

“Semata-mata tugas Kesbangpol itu untuk menjadikan Kota Jakarta aman,  dengan menajaga ketertiban masyarakat, menjaga toleransi antar umat beragama dan suku yang ada di Jakarta”

Darwis menambahkan, tercatat di Kesbangpol Provinsi DKI Jakarta ada 37 suku dari seluruh Indonesia yang tinggal di Jakarta dan secara umum dapat hidup berdampingan dan rukun damai.

Selanjutnya Ka.Kesbangpol mengajak kepada seluruh peserta dan seluruh warga Jakarta untuk kembali bersatu, tidak ada lagi dukung mendukung pasca Pilkada Gubernur dan wakil Gubernur Jakarta 2017.

Tidak ada lagi di Gereja kutbah yang mendukung salah satu paslon, tidak adalagi ceramah di masjid yang mengatakan jangan memilih pemimpin kafir, jadi mari kita sekarang rukun dan bersatu, pungkasnya.

Kegiatan Peningkatan Kerukunan Umat Beragama tahun 2017 angkatan Ketiga ini terselenggara atas kerjasama Badan Kesatuan Bangsa dan Politik dan Alumni Sekolah Agama-Agama dan Bina Damai (SABDA) FKUB Provinsi DKI Jakarta, dan peserta yang hadir pada saat itu berjumlah 75 orang dari unsur tokoh agama, tokoh masyarakat dan pihak keamanan wilayah kecamatan Jagakarsa.

Adapun yang menjadi narasumber: H. Ahmad Astamar dari FKUB Provinsi DKI Jakarta, AKBP Jajang Hasan Basri dari Polda Metro Jaya dan Firdaus Syam, MA PhD(Dosen Pasca Sarjana Universitas Nasional) dan yang menjadi moderator H. Edy Supriyadi, S,Kom., MM alumni SABDA.(fkub/budi)

Kesbangpol Dan FKUB Jakarta Gelar Dialog Peningkatan Kerukunan Umat Beragama

3

Para Narasumber (Ki-Ka) : Taufan Bakrie, Firdaus Syam, MA PhD, AKBP Jajang Hasan Basri dan KH. Ahmad Syafii Mufid

(FKUB-Jakarta) Badan Kesatuan Bangsa dan Politik Provinsi DKI Jakarta bersama Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Provinsi DKI Jakarta dan Polda Metro Jaya menyelenggarakan Dialog Lintas Agama yang dilaksanakan di kantor FKUB Provinsi DKI Jakarta, Jl. Awaludin II-Kebon Melati – Tanah Abang- Jakarta Pusat, Senin, 17 April 2017.

Kegiatan yang diberi nama “Peningkatan Kerukunan Umat Beragama Angkatan Pertama tahun 2017” diawali dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya dilanjutkan dengan sambutan dari Drs, Ridwan selaku Kepala Bidang Kerukunan Umat Beragama Kesbangpol DKI Jakarta.

Menurut Ridwan, dasar kegiatan adalah keputusan no2 thn 2017 tgl 3 jan 2017 tentang kesbangpol yang bertujuan memberi penyuluhan kepada tokoh agama, tokoh masyarakat dan tokoh etnis untuk membangun sikap beragama terutama toleransi.

Ridwan menambahkan, Kegiatan seperti ini akan dilaksanakan sebanyak empat puluh kali sepanjang tahun 2017, dibagi di lima wilayah.

Sementara itu, Taufan Bakri mewakili Kepala kesbangpol menambahkan, pertemuan ini sebagai tatap muka tokoh agama dengan masyarakat beserta Alumni SABDA FKUB Jakarta.

Pertemuan ini sebagai silahturahmi dengan berbagai umat beragama, karena sejak dulu sikap rukun sudah ada, sehingga kita jangan terprovokasi karena suasana pilkada,imbuhnya.

Taufan menjelaskan bahwa, akan mengupayakan Pilkada kali ini menjadi Pemilu yang gembira tanpa rasa takut untuk datang ke TPS, karena TPS akan dijaga oleh aparat keamanan sehingga TPS dalam kondisi aman.

KH. Ahmad Syafi’i Mufid -Ketua FKUB Provinsi DKI Jakarta yang menjadi narsumber pertama memberi makalah dengan judul “ Memelihara prinsip-prinsip kerukunan pada masyarakat muktikultural”.

Menurut Syafii Mufid, sejak 2015 FKUB sudah berikrar meneguhkan kembali komitmen kebangsaan dilanjutkan dengan diskusi dan dialog mengajak semua warga khususnya warga DKI membangun Jakarta yang damai dan aman.

Kegiatan kali ini memberi arahan bagaimana membagun kerukunan. Bagaimana roses sosial dimulai dari proses kasih sayang, tanpa proses kasih sayang manusia akan tumbuh menjadi orang yang tdak punya perasaan, imbuhnya

Kerukunan itu dibangun dengan mengembangkan etika dan spritualitas. Tafsir agama sebaiknya diambil dengan menjunjung tinggi kebersamaan. Antar kelompok mesti membuka diri, tidak eksklusif/kumpul dengan kelompoknya sendiri dan selalu membangun dialog.

Syafii Menambahkan bahwa, index kerukunan Umat Beragama di Provinsi DKI Jakarta berada di level 15 dari 34 provinsi. dan Index kerkunan umat beragama tertinggi di Indonesia ditempati oleh Provinsi Papua dan index yang terendah ditempati oleh provinsi Aceh, lanjutnya.

Kerukunan Umat Beragama di Jakarta sekarang ini sedikit terganggu dengan pelaksanan Pilkada Gubernur DKI Jakarta, dampak pilkada provinsi DKI Jakarta kali ini sangat luar biasa, tercipta saling curiga antar umat beragama. Dan FKUB provinsi DKI Jakarta dan Alumni SABDA mesti siap menjadi pemadam kebakaran konflik yang ada, tandasnya.

2

Pada sessi kedua yang menjadi narasumber Firdaus Syam, MA PhD(Dosen Pasca Sarjana Universitas Nasional) dengan materi paparan “Tumbuhkan Sikap Toleransi Melalui Spiritualitas Akidah Yang Benar Dan Kokoh”.

Menurut Firdaus, Indonesia ini dikarunia kekayaan yang luar biasa. Kemajemukan budaya, agama, flora fauna dan lain-lain. Ada banyak flora dan fauna yang ada di sini tidak ada di negeri orang. Tidak ada satupun suku yang tidak percaya Tuhan.

“Fitrahnya manusia adalah percaya adanya Tuhan”.

Firdaus menambahkan, Islam berasal dari kata Asalam yang artinya kasih sayang. Orang Islam di Indonesia sebagai agama mayoritas punya tanggung jawab besar mewujudkan kasih sayang dengan yang lain.

Tugas utama FKUB menciptakan kerukunan dengan cara membangun silahturahmi, menumbuhkan cinta kasih, saling mendoakan. Silahturahmi hendaknya dimulai dari keluarga, komunitas, masyarakat, pangkasnya.

Semantara itu AKBP Jajang Hasan Basri, S. Ag, M.Si. selaku Kabag Direktorat Bimas Polda Metro Jaya menjelaskan kondisi Situasi Aktual Kamtibmas Provinsi DKI Jakarta.

“Situasi Jakarta umumnya aman karena dapat dikendalikan. Situasi Kamtibmas saat ini ada 3 issue yang sedang hangat yaitu issue bangkitnya paham komunisme, issue Khilafah Islamiyah, issue Syariat Islam”

“Issue tersebut muncul dan beredar di media social dan kita perlu duduk bersama untuk mengklarifikasi issue tersebut”.

AKBP Jajang menambahkan, yang tidak kalah penting sekarang ini Issue Politik yang banyak menyita perhatian masyarakat,yaitu issue pilkada DKI Jakarta. Pilkada DKI Jakarta ini serasa pilpres. Akan tetapi Issue tersebut tidak perlu ditakutkan sampai tidak mau datang ke TPS.

“Kami sudah melakukan safari kamtibmas bersama FKUB Jakarta, berkunjung ke Gereja, Masjid, Klenteng, Pura, Vihara untuk menjaga stabilitas keamanan menjelang Pilkada Gubernur dan Wakil Gubernur Jakarta Putatan Kedua”.

Peserta dialog lintas agama ini diikuti oleh delapan puluh orang, perwakilan dari majelis agama diwilayah Jakarta Pusat. Dan yang menjadi panitia pelaksana kegiatan tersebut adalah Alumni SABDA FKUB Jakarta.(fkub/budi)

FKUB DKI Jakarta Menyelenggarakan SABDA Khusus Penyuluh Agama

DSC00049

KH. Ahmad Syafii Mufid Ketua FKUB DKI Jakarta

(FKUB-Jakarta) FKUB Provinsi DKI Jakarta terus saja mencetak kader-kader perdamaian di wilayah provinsi DKI Jakarta, agar kerkunan dan kedamaian di Jakarta tetap terjaga dengan cara melaksanakan kegiatan Sekolah Agama-Agama Dan Bina Damai (SABDA).

Pelaksanaan SABDA kali ini, FKUB Jakarta bekerjasama dengan Kanwil Kementerian Agama Provinsi DKI Jakarta, dilaksanakan di Hotel Bahtera Jl. Raya Cipayung – Megamendung Bogor, berlangsung selama 3 hari dari tanggal 11-13 April 2017, dan yang  menjadi pesertanya adalah para penyuluh-penyuluh agama yang PNS maupun Non PNS Se DKI Jakarta.

Pada kesempatan itu, ketua FKUB Jakarta-KH. Ahmad Syafii Mufid memberikan sambutan sekaligus membuka kegiatan SABDA khusus penyuluh agama.

Dalam sambutannya, Syafii Mufid mengatakan bahwa, SABDA kali ini khusus untuk para penyuluh-penyuluh agama, makanya disebut SABDA Khusus. Kalau yang kemarin kita laksanakan itu untuk tokoh-tokoh agama, yang nantinya diharapkan menjadi pengganti FKUB atau untuk menjadi karib FKUB.

Kegiatan SABDA ini bertujuan untuk memberikan wawasan dan juga keterampilan kepada para penyuluh agama untuk menjadi pemandu kerukunan. Memandu kepada siapa saja agar terwujud kerukunan, lanjutnya.

Syafii Mufid menambahkan, bahwa sekarang ini sudah ada perubahan paradigma tentang penanganan konflik, bahwa  penaganannya bukan lagi dilakukan setelah terjadi konflik tapi bagaimana agar supaya tidak ada konflik atau sebelum ada konflik.

Kalau dalam bahasa usul fiqihnya darbul mafasid muqoddamu ‘ala jalbil masholih. Maksudnya, mencegah kerusakan itu lebih didahulukan dibandingkan membangun kebaikan. Oleh karena itu diupayakan jangan sampai ada konflik. Dihindari betul agar supaya tidak ada konflik, imbuhnya.

Konflik itu bisa terjadi karena banyak sebab. Ada konflik yang disebabkan karena persoalan rumah tangga, ada konflik yang disebabkan karena individu, ada konflik karena persoalan ekonomi, ada konflik yang disebabkan karena social dan bahkan ada konflik yang disebabkan karena persoalan agama. Hal itu semua jangan sampai terjadi.

Agar supaya tidak terjadi konflik maka yang harus dikembangkan adalah Bina Damai. Dan itulah yang namanya SABDA, yaitu Sekolah Agama-agama dan Bina Damai. Inilah paradigma baru penanganan konflik dengan memperkuat BINA DAMAI. Lalu bagaimana BINA DAMAI itu berjalan? Itulah SABDA bekerja. Jadi, harus dijadikan perdamaian ini menjadi nafas dunia, tegasnya.

Drs. H. Taufiq, M,M Kasubbag Hukun dan KUB Kementeian Agama Provinsi DKI Jakarta

Sementara itu Drs H. Taufiq, M,M selaku Kasubbag Hukum dan KUB Kementerian Agama Provinsi DKI Jakata mengucapkan terima kasih kepada FKUB yang telah bersedia membantu dalam merencanakan SABDA Khusus Penyuluh ini. Sebenarnya, kami sudah merencanakan ini sudah bertahun-tahun,imbuhnya.

Taufiq menambahkan, bahwa pelaksanaan acara ini berdasarkan hukum pada perundang-undangan yang berlaku pada Pasal 28 E UU No.1 PNPS Tahun 1965. Juga berdasarkan Peraturan Menteri No.16 Tentang organisasi di Kementerian Agama dimana tujuannya untuk menjaga dan memelihara kerukunaan agama di DKI Jakarta.

“Kami mengharapkan bahwa penyuluh agama nantinya menjadi ujung tombak Kementerian Agama dalam rangka memfilter apapun yang terjadi di Jakarta”.

Taufiq berharap, dengan adanya SABDA harmonisasi kehidupan antar umat beragama di wilayah Jakarta akan bisa terjalin. Apalagi sekarang ini menjelang Pemilu, dengan terselenggaranya SABDA merupakan bagian dari upaya untuk menciptakan kedamaian di wilayah DKI Jakarta. Dalam konteks acara ini bagaimana kita membina warga untuk lebih baik lagi, ujarnya.

Pada kegiatan SABDA khusus Penyuluh agama ini diikuti oleh penyuluh Islam tiga belas orang, penyuluh Kristen enam orang, penyuluh Katolik enam, penyuluh Hindu enam orang, penyuluh Buddha  lima orang dan penyuluh Khonghucu empat orang dan jumlah totalnya empat puluh orang.(fkub/budi)

 

Safari Kamtibmas, Ahmad Syafii Mufid:”Pikiran Kita Harus Terang Benderang Dan Terbuka Dalam Mengikuti Pemilukada”

1(FKUB-Jakarta) Forum Kerukunan Umat Beragama ada di masyarakat untuk saling merekatkan umat dari berbagai agama. Membangun kebersamaan antar umat beragama dan tokoh lintas agama di Provinsi DKI Jakarta.

Tujuan diadakan safari kamtibmas silaturahmi ini untuk menyerukan dan menggugah segenap umat beragama di DKI agar mau mewujudkan pemilukada yang aman, untuk Jakarta kita tercinta, boleh damai dan rukun walau sedang berada dalam situasi panas saat pemilukada. Hal tersebut disamapaikan ketua FKUB Provinsi DKI Jakarta – KH. Ahmad Syafii Mufid pada acara Safari Kamtibmas di Klenteng Kong Miao, Sabtu, 8/4/2017.

Ahmad Syafii menambahkan, diharapkan pikiran kita sebagai umat beragama terang-benderang dan terbuka dalam mengikuti pemilukada kita ini.

“Pilihlah pimpinan yang menggunakan hati-otak-kaki-tangan dengan sebaik-baiknya dengan pikiran kita yang sejernih-jernihnya”lanjutnya.

Kerukunan di DKI Jakarta masih relatif rendah. Maka mari kita dengan penuh kesadaran yang matang sadari itu, jangan sampai ada pihak-pihak dari luar kalangan agama yang ingin kita berantem terus yang berakibat Jakarta tidak maju-maju. Dalam hal ini sangat perlu sekali kita tingkatkan kewaspadaan terhdap oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab itu, pungkasnnya.

2

Sementara itu, AKBP Jajang Hasan Basri KBO Binmas Polda Metro Jaya mengatakan, kita di DKI Jakarta kini sedang menghadapi Pilkada, dengan dua paslonnya yang berasal dari etnis dan agama yang berbeda, maka kita sebagai warga DKI Jakarta dalam memilih pasangan pilihan kita hendaknya tidak ikut-ikutan mengeluarkan pernyataan-pernyataan yang tidak elegan apalagi yang menyangkut SARA.

Fakta di lapangan sudah banyak terlihat spanduk-spanduk yang dipasang oleh kedua kubu yang saling menyerang. Diharapkan kita sebagai umat beragama tidak ikut-ikutan menghujat bahkan tidak usah juga terpengaruh dengan hujatan-hujatan itu apalagi dengan cara balas menghujat, imbuhnya.

AKBP Jajang pada kesempatan itu berharap kepada peserta yang hadir  agar bisa menyapaikan pesan ini kepada saudara-saudara atau rekan yang tidak hadir.

AKBP jajang pada kesempatan yang sama memuji dan berterima kasih kepada FKUB Provinsi DKI Jakarta, FKRK Polda Metro Jaya, dan tentu khususnya kepada Matakin DKI di bawah ibu Liliany yang menjadi tuan rumah acara safari kali ini.

Kegiatan Safari Kamtibmas Polda Metro Jaya Bersama Forum Kerukunan Umat Beragama Provinsi DKI Jakarta diselenggarakan dalam rangka persiapan Pilkada DKI Jakarta putaran kedua, dilaksanakan dirumah rumah ibadah di DKI Jakarta.

Pada kesempatan itu hadir, KBO Binmas Polda Metro Jaya – AKBP. Jajang Hasan Basri beserta jajarannya, Ketua FKUB Provinsi DKI Jakarta Prof. Dr. KH Syafi’i Mufid dan KH Astamar, Drs. Nengah Dharma dari PHDI dan Tokoh dan umat-umat Khonghucu se DKI. (fkub/imsal/budi)

1 2 3 8