Home > Artikel > Rukunisasi Kerukunan
Artikel

Rukunisasi Kerukunan

Robi Nurhadi, PhD
Fungsionaris FKUB DKI Jakarta
Email: robinurhadi@yahoo.co.id

Pada fitrahnya, setiap manusia menghendaki kerukunan. Karena dengan rukun, setiap manusia bisa memperoleh apa yang diinginkannya tanpa harus berkonflik. Karena itu, kerukunan adalah kebutuhan. Tidak jauh beda dengan oksigen yang diperlukan manusia untuk hidup.

Kerukunan itu seperti air bagi hidupnya ikan. Ia menjadi wahana manusia bisa mengelana secara bebas tanpa rasa takut. Ia juga menjadi bahasa perdamaian yang mempertemukan setiap individu dengan berbagai latar belakang suku, ras dan agama. Kerukunan menjadi intrumen diplomastis membangun peradaban manusia dari generasi ke generasi. Kerukunan itu sama dengan sebuah kemerdekaan yang menjadi gerbang pembangunan sebuah negara.

Dalam kehidupan bernegara, kerukunan menjadi kunci terbangunnya stabilitas politik. Bahkan dalam konteks Trilogi Pembangunan yang pernah menjadi fatsun pembangunan di Indonesia, kerukunan telah menjadi fondasi politik penting. Ia setara dengan pentingnya pertumbuhan ekonomi dan terwujudnya welfare state (negara kesejahteraan).

Konsep “invisible hand”nya Adam Smith sesungguhnya bisa terwujud apabila terjadinya kerukunan di antara para pelaku pasar. Substansi inilah yg membuat terjadinya keseimbangan mekanisme pasar. Tapi memang faktanya selalu saja ada kartel yg menyababkan terjadinya kegagalan pasar. Maka, praktek kartel adalah musuh bagi kerukunan. Sia-sia bagi para pelaku pesar yang menghendaki kerukunan sebagai dasar terciptanya stabilitas yang menguntungkan usahanya, kalau ia sendiri melalukan praktek kartel.

Dalam ranah bermasyarakat dan bernegara, ada juga yg suka mempraktekan politik kartel. Maka untuk orang atau kelompok yang seperti ini sama dengan ia sedang membangun rumah pasir. Sia-sia saja, karena kerukunan perlu fondasi yang kuat untuk mewujudkannya. Inilah yang dimaksud dengan rukunisasi kerukunan.

Rukunisasi kerukunana bukan sekedar kita diberitahu bagaimana mewujudkan kerukunan. Bukan sekedar tahapannya seperti apa. Bukan sekedar memahami kerukunan dalam berbagai tafsir para pemuka agama. Bukan. Rukunisasi kerukunan adalah sebuah ajakan. Sebuah filosofi yang harus ada dalam mindset dan perilaku kita. Rukunisasi kerukunanan adalah seperti bersatunya antara makhluk yang bernyawa dengan oksigen. Ia ada dalam tubuh setiap makhluk, dan akan terus dihirup selama kita masih mau hidup di muka bumi ini.

Dalam kehidupan bermasyarakat dan beragama, kerukunan merupakan fondasi terbangunnya social order (tatanan sosial) yang baik. Keberagamaan kita menjadi terjaga karenanya. Keberagamaan kita menemukan maknanya yang damai (rahmatan lil alamiin).

Rukunisasi kerukunan semakin diperlukan saat ini, karena saat ini kita sedang dihadapkan pada tantangan adanya “politisi lele”. Istilah yang dipopulerkan oleh Buya Syafii Maarif itu bermakna tentang adanya orang-orang yg suka dengan kekeruhan sosial alias ketidakrukunan untuk mendapatkan kepentingan pribadi atau kelompoknya.

Mengingat pentingnya, kita harus sudah merevitalisasi praktek kerukunan kita di berbagai bidang. Bukan hanya di bidang agama, tetapi juga dalam ranah politik, ekonomi dan budaya. Maka, semangat untuk terus belajar rukun adalah kewajiban umat manusia, apapun agamanya. Kita harus terus mencari titik persamaan, bukan titik perbedaan. Dengan begitu, kerukunan yang kita praktekan akan menciptakan suasana yang nyaman, baik dalam wajah dan penampilan kita, dalam tutur kata dan tindakan kita, serta dalam aksi bermasyarakat dan bernegara kita. Maka kerukunan itu bukan bermakna kesalehan individu seseorang saja, melainkan kesalehan semua. Karena setiap satu orang yang tidak rukun alias tidak saleh, ia memberi efek ketidakrukunan ke semuanya.

Itulah mengapa kata “arkan” yang bermakna kerukunan dalam arti jamak alias kolektif alias tidak sendiri. Kata “arkan” merupakan kata yang berasal dari “ruknun” (rukun), yang berarti asas, dasar atau pondasi. Maka begitu pentingnya makna kata rukun, sehingga orang yang tidak melakukannya seperti sedang membuat rumah pasir. Sia-sia.
Agar hidup yang kita jalani tidak seperti sedang membangun rumah pasir yang satu ke rumah pasir yang lain, maka mulai saat ini kita harus menjaga kerukunan. Kita harus memastikan bahwa kerukunan adalah kebutuhan. So, Yuuk kita rukun!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *