(FKUB JAKARTA.org) Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) DKI Jakarta, Dr. KH Yusuf Aman, MA menegaskan kerukunan antarumat beragama harus dimulai dari para tokoh agama melalui perjumpaan dan dialog yang intensif. Keteladanan para tokoh penting untuk membangun kepercayaan sekaligus mencegah konflik di tengah keberagaman, terutama di era digital.
“Kalau para tokoh agama bisa membangun kerukunan dan saling percaya, akan lebih mudah mengajak masyarakat menjaga kerukunan. Karena itu, perjumpaan dan dialog harus terus diperkuat,” ungkap Kiai Yusuf dalam Dialog Lintas Agama yang diselenggarakan FKUB Jakarta Utara di Hotel Ibis Styles, Sunter, Jakarta Utara, Rabu (21/10/2026).
Kegiatan bertema “Merawat Kerukunan di Era Digital, Cerdas Menyikapi Isu, dan Bersama Mencegah Konflik SARA” tersebut menjadi ruang untuk memperkuat komunikasi dan kerja sama lintas iman.

Yusuf mengatakan, Jakarta merupakan ruang perjumpaan masyarakat dengan latar belakang suku, agama, dan budaya yang beragam. Perbedaan perlu dikelola melalui sikap saling mengenal dan menghormati, sejalan dengan prinsip lita’arafu dalam Al-Qur’an Surah Al-Hujurat ayat 13.
Menurutnya, dialog lintas agama tidak cukup berhenti pada forum formal, tetapi perlu diwujudkan dalam hubungan yang berkelanjutan. Pertemuan yang intensif dapat membangun kepercayaan sekaligus membuka ruang penyelesaian persoalan secara bersama.
“Perbedaan bukan alasan untuk bermusuhan. Justru melalui perbedaan, kita belajar saling mengenal, menghormati, dan bekerja sama,” jelasnya.
Ia juga mengingatkan bahwa informasi yang dipotong dari konteksnya, kabar bohong, dan provokasi di media sosial berpotensi memicu kesalahpahaman hingga konflik berlatar suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA).
“Kecakapan menggunakan teknologi harus diimbangi kematangan moral dan spiritual. Jangan sampai media digital yang seharusnya mendekatkan kita justru menjadi sarana menyebarkan fitnah dan memperuncing perpecahan,” demikian rumusan pesan Yusuf terkait tantangan kerukunan di era digital.
Yusuf mengajak para tokoh agama memperkuat komunikasi lintas iman, menyaring informasi secara bijak, dan merespons potensi konflik melalui dialog. “Upaya-upaya ini perlu diwujudkan dalam kerja nyata agar perbedaan tidak menjadi sumber perpecahan, melainkan landasan untuk memperkuat kerukunan,” tutupnya.

