Oleh: Ws. Liem Liliany Lontoh, S.Pd., SE., M.Ag.
Pagi yang sejuk menyapa Kota Manado, menghadirkan ketenangan yang meresap hingga ke lubuk hati. Sekitar pukul 09.00 WITA hari Minggu, 25 Oktober 2026 langkah kaki mengawali perjalanan rohani menapaki jejak kenangan dan napas keimanan yang harmonis di kota ini.
Tujuan pertama adalah Klenteng Kwan Im Tong yang terletak di kawasan bersejarah Calaca. Tempat ini menyimpan kenangan indah semasa muda, ketika mendedikasikan diri dengan penuh ketulusan sebagai Guru Sekolah Minggu bagi sekitar delapan puluh anak. Mengajar dan mendidik anak-anak dengan berbagai macam sifat tentu menghadirkan tantangan tersendiri; mulai dari merangkul anak yang tadinya pendiam agar perlahan-lahan menjadi ceria, menenangkan dan membersamai anak yang sering tantrum hingga akhirnya mampu menyesuaikan diri dengan teman-temannya menjadi anak yang menyenangkan, serta dengan penuh kesabaran mendengarkan celotehan polos mereka dari beragam tingkat usia. Di ruang kelas yang sederhana itu, di tengah riuh tawa dan dinamika mereka, ikhtiar suci merajut peradaban mulia dimulai dari titik paling dasar, menuntun dan menempa jiwa-jiwa muda agar bertumbuh menjadi pribadi yang senantiasa berbakti serta menghidupkan Lima Kebajikan (Ren, Yi, Li, Zhi, Xin; Cinta Kasih, Kebenaran, Susila, Bijaksana, serta Dapat Dipercaya) sebagai kompas moral.
Bagi seorang pendidik, melihat anak-anak belajar mengendalikan diri, menyayangi sesama, dan belajar jujur adalah sebuah kebahagiaan yang tak ternilai harganya. Sebab, menanamkan karakter dan kepekaan nurani sejak dini adalah investasi rohani paling berharga untuk melahirkan generasi yang tidak hanya cerdas, tetapi juga kokoh berakar pada kebajikan dalam mengarungi kehidupan.
Selepas bersembahyang di sana, perjalanan dilanjutkan dengan menyusuri kawasan Pecinan menuju Kongzi Miao. Lokasi rumah ibadah ini sangat strategis, berdampingan dengan sejumlah kelenteng sarat sejarah lainnya, seperti Klenteng Lo Cia Bio, Klenteng Kwan Kong, hingga Klenteng Ban Hin Kiong di sekitar kawasan Jalan Panjaitan.
Khidmatnya Rangkaian Kebaktian dan Intisari Jiang Dao
Tepat pukul 10.00 WITA, dentang lonceng bergema di Kongzi Miao menandakan dimulainya kebaktian. Ibadah diawali dengan pembacaan doa yang khidmat dan mendalam, dipimpin oleh Ws. Ir. Riano Baggy, didampingi oleh Ws. Julie Mandagi dan Dq. Dewi Tan.
Suasana ibadah semakin syahdu tatkala kidung pujian dilantunkan. Sebelum memasuki acara inti, Js. Agnes Wong membacakan renungan ayat suci yang menenangkan batin umat. Memasuki sesi utama, ceramah keagamaan (Jiang Dao) dikupas secara padat, bernilai, dan berbobot oleh Js. Ente Lasery, lengkap dengan ilustrasi peristiwa nyata dalam kehidupan sehari-hari:
- Hakikat Emosi dan Pengendalian Diri (Zhong Yong Bab Utama Ayat 4) Dalam ceramahnya, Js. Ente Lasery membedah ayat suci dari Kitab Tengah Sempurna (Zhong Yong) Bab Utama ayat 4, yang menyoroti hakikat emosi manusia:
“Gembira, marah, sedih, senang sebelum timbul dinamai tengah; setelah timbul dan masih di batas tengah, dinamai harmonis. Tengah itulah pokok dunia, dan keharmonisan itulah cara menempuh Jalan Suci di dunia.”
- Uraian & Makna Mendalam: Ayat ini mengajarkan bahwa sebelum emosi (seperti gembira, marah, sedih, atau senang) muncul, batin manusia berada dalam keadaan murni, tenang, dan seimbang (disebut Zhong atau Tengah). Ketika emosi itu akhirnya terpicu oleh situasi luar dan direspon secara proporsional tanpa kehilangan kendali, sehingga tetap berada dalam koridor kepatutan, kondisi inilah yang disebut harmonis (He). Melalui ajaran ini, ditekankan pentingnya pembinaan diri agar seseorang mampu menguasai serta dapat menata gejolak batinnya. Keseimbangan emosi sebelum dan sesudah meluap menjadi kunci utama untuk meredam ego, sehingga setiap keputusan dan langkah yang diambil senantiasa berpijak pada kebijaksanaan, bukan pada hawa nafsu sesaat.
- Ketekunan Belajar dan Ketelitian Berpikir (Zhong Yong Bab XIX Ayat 19) Menyambung materi Jiang Dao mengenai pentingnya pengendalian diri dan penataan batin, Ws. Liem Liliany Lontoh menegaskan bahwa untuk merawat serta menumbuhkan kebijaksanaan tersebut secara berkelanjutan, kita wajib mengikuti petunjuk luhur yang tertuang dalam Kitab Zhong Yong Bab XIX ayat 19:
“Banyak-banyaklah belajar, pandai-pandailah bertanya, hati-hatilah memikirkannya, jelas-jelaslah menguraikannya, dan sungguh-sungguhlah melaksanakannya.”
- Uraian & Makna Mendalam: Ayat suci ini memberikan panduan yang sangat utuh mengenai proses belajar dan pembinaan diri yang berkesinambungan. Setelah seseorang mampu menata emosinya melalui ajaran Zhong Yong Bab Utama, ia dituntut untuk senantiasa giat dan tekun menimba ilmu, serta menepis rasa malu atau ragu untuk bertanya kepada para senior demi memperluas cakrawala berpikir. Kedua, proses tersebut harus diimbangi dengan ketelitian, yakni berpikir dan merumuskan persoalan secara cermat (hati-hati memikirkannya), serta menguji kebenaran secara objektif sebelum menarik kesimpulan (jelas-jelas menguraikannya). Terakhir, seluruh ilmu dan kebijaksanaan tersebut harus diwujudkan dalam tindakan nyata yang konsisten (sungguh-sungguh melaksanakannya), memastikan bahwa apa yang diucapkan dan disebarkan murni berlandaskan kebenaran serta akal budi yang sehat.
Cerminan Demokrasi Matang: Kepemimpinan Berbasis Kualitas, Bukan Mayoritas
Keharmonisan sosial di Kota Manado tidak hanya berhenti pada tataran kultural, tetapi juga mewujud secara nyata dalam ruang demokrasi dan tata kelola pemerintahan. Hal ini tampak jelas dari figur Wali Kota Manado, Bapak Andrei Angouw, yang merupakan seorang penganut Agama Khonghucu.
Terpilihnya beliau di tengah masyarakat yang heterogen membuktikan bahwa Kota Manado adalah teladan nyata dalam mengedepankan meritokrasi dan objektivitas. Warga Kota Manado tidak memilih pemimpin berdasarkan mayoritas agama, melainkan melihat pada rekam jejak, integritas, kapasitas, serta ketulusan seseorang dalam melayani masyarakat tanpa memandang latar belakang suku, ras, maupun agama. Kenyataan ini sejalan dengan prinsip luhur ajaran Khonghucu bahwa seorang pemimpin diuji dari keluhuran budi (Junzi) dan kemampuannya menghadirkan kesejahteraan bagi sesama.
Apresiasi dan Semangat Kebangsaan untuk Umat Sulawesi Utara
Rangkaian pencerahan rohani hari itu kemudian dilanjutkan dengan sesi pengarahan serta sambutan dari Ketua MATAKIN Provinsi DKI Jakarta, Ws. Liem Liliany Lontoh, yang hadir membersamai umat di Kongzi Miao.
Dalam sambutannya, beliau menyampaikan apresiasi tinggi kepada umat Khonghucu di Sulawesi Utara, khususnya Kota Manado, yang selama ini dikenal berkarakter tangguh dan berjiwa ksatria. Ketangguhan ini berakar dari harmoni antara cinta kasih (Ren), kebijaksanaan (Zhi), dan keberanian moral (Yong). Buah dari karakter luhur tersebut tampak jelas pada lahirnya tokoh-tokoh daerah berprestasi. Salah satunya adalah Dq. Syane Loho, seorang Notaris di Manado yang sukses menorehkan tinta emas sebagai satu-satunya penerima Anugerah Citra Perempuan Tionghoa Indonesia (CPTI) 2026 yang berasal dari luar Pulau Jawa, menyusul jejak sang cici, Alm. Js. Henny Loho, yang dahulu pernah mengharumkan nama daerah sebagai Noni Sulut.
Geliat pembinaan rohani di Manado kian membanggakan tatkala lebih dari 10 rohaniwan baru dikukuhkan belum lama ini. Kehadiran wajah-wajah baru dari kalangan muda yang siap mendedikasikan diri sebagai Jiaosheng, berdampingan dengan para senior yang naik tingkat menjadi Wense, menjadi mercusuar masa depan organisasi yang cerah.
Semua pencapaian luar biasa ini tentu tidak terlepas dari figur kepemimpinan yang penuh semangat juang dan ketulusan dari Ketua MAKIN Manado, Js. Heintje Lintong, dalam mengangkat MAKIN Manado semakin berkibar. Di bawah kepemimpinan yang dinamis, berbagai terobosan sukses dihadirkan:
- Menyelenggarakan bazar setiap Tahun Baru Imlek (TBI) bekerja sama dengan kelenteng-kelenteng sekitar serta mengundang para pejabat tinggi seperti Gubernur dan Wali Kota.
- Menggelar TBI 2024 di Kantor Wali Kota Manado, serta puncaknya pada Perayaan Tahun Baru Imlek Nasional 2024 di Sultan Raja Hotel Manado yang dihadiri langsung oleh jajaran pejabat negara.
- Memelopori penyelenggaraan Diklat Agama Khonghucu (DAK) pertama kali di Manado pada tahun 2024 dengan sukses besar, yang turut melahirkan bibit-bibit rohaniwan baru (Js. dan Ws.).
- Mengadakan Peringatan Hari Lahir Nabi Kongzi dengan mengundang para pejabat untuk merayakan bersama seluruh umat Khonghucu se-Sulawesi Utara.
- Menyemarakkan perayaan Cap Go Meh dengan mengundang para pejabat untuk mengikuti prosesi langsung dari Litang.
- Menayangkan videotron ucapan selamat hari besar keagamaan secara rutin dari MAKIN Manado, serta berbagai inisiatif membanggakan lainnya.
Keteladanan Generasi Muda, Filosofi Hidup, dan Tempaan Kedewasaan Rohani
Kebanggaan tersendiri turut dirasakan oleh Ws. Liem Liliany Lontoh yang melihat dedikasi salah satu murid Sekolah Minggu binaannya, yakni Js. Ruysya Supit (putri dari Ws. Lance Supit Ponomban). Ketika dipercaya untuk mengisi pos-pos pelayanan manakala Ws. Liem sibuk berkiprah di Surabaya, Js. Ruysya membuktikan kapasitas luar biasa di tingkat regional hingga nasional. Mulai dari aktif dalam Doa Lintas Agama, menyampaikan Jiang Dao lintas daerah, mengabdi di jajaran pengurus FKUB Provinsi DKI Jakarta, aktif menulis karya pemikiran, hingga dipercaya menjadi narasumber. Ketekunan dan etos kerjanya yang pantang menyerah menjelma menjadi teladan nyata bagi tunas-tunas muda.
Semangat dedikasi ini tentu berakar kuat pada kearifan lokal masyarakat Manado melalui filosofi “Si Tou Timou Tumou Tou” (manusia baru dapat disebut sebagai manusia jika ia mampu memanusiakan orang lain) dan semangat “Torang samua basudara”, yang memiliki resonansi yang sangat kuat dan sejiwa dengan sejumlah ajaran pokok dalam Kitab Suci Agama Khonghucu.
Dalam ajaran Khonghucu, konsep memanusiakan manusia, persaudaraan universal, dan memperlakukan orang lain dengan penuh cinta kasih (Ren) merupakan fondasi utama. Hal ini terefleksi dalam ayat-ayat suci berikut:
- Kitab Lunyu (Analects) XII: 2
“Nabi bersabda: ‘Apa yang diri sendiri tiada inginkan, janganlah diberikan kepada orang lain.’ “
- Keterkaitan Makna: Ayat ini adalah bentuk paling murni dari prinsip empati timbal balik (Shu), yang merupakan inti dari memanusiakan orang lain. Menghormati batasan, perasaan, dan hak orang lain sebagaimana kita ingin dihormati adalah wujud nyata dari mengangkat harkat martabat sesama manusia.
- Kitab Lunyu (Analects) VI: 30
“Nabi bersabda: ‘Seorang yang berperi Cinta Kasih, ingin dapat tegak maka berusaha agar orang lain pun tegak; ia ingin maju maka berusaha agar orang lain pun maju.’ “
- Keterkaitan Makna: Ayat ini sangat identik dengan arti filosofi “Si Tou Timou Tumou Tou”. Seseorang tidak bisa “hidup” atau sukses sendirian. Keutuhan kemanusiaan seseorang diuji dari kepeduliannya untuk mengangkat, menolong, dan memanusiakan sesamanya agar sama-sama teguh dan maju.
- Kitab Daxue (Ajaran Besar) Bab X Ayat 2 (Prinsip Ulur dan Asas Saling Mengukur)
“Apa yang tidak baik dari atas tidak dilanjutkan ke bawah, apa yang tidak baik dari bawah tidak dilanjutkan ke atas; apa yang tidak baik dari muka tidak dilanjutkan ke belakang, apa yang tidak baik dari belakang tidak dilanjutkan ke muka; apa yang tidak baik dari kanan tidak dilanjutkan ke kiri; dan apa yang tidak baik dari kiri tidak dilanjutkan ke kanan. Inilah yang dinamai Jalan Suci yang bersifat siku.”
- Keterkaitan Makna: Mengajarkan kepekaan sosial yang tinggi untuk menempatkan diri pada posisi orang lain (empati struktural dan horizontal), yang menjadi fondasi terciptanya masyarakat yang harmonis dan bersaudara.
Prinsip kepekaan sosial dan empati timbal balik tersebut menemukan bentuknya yang paling paripurna dalam sabda suci Nabi Kongzi yang terdapat pada Lunyu Jilid XII: 5 dan Zhong Yong Bab XII: 3 yang menegaskan:
“Di empat penjuru lautan, semua adalah saudara.”
“Apa yang tidak diharapkan mengena diri sendiri, janganlah diberikan kepada orang lain.”
Makna universal dari ungkapan “di empat penjuru lautan, semua adalah saudara” ini menemukan cerminan dan terjemahan sosiologisnya yang sangat hidup di Bumi Nyiur Melambai melalui semboyan kekeluargaan masyarakat lokal: “Torang samua basudara” (Kita semua bersaudara). Baik ajaran Khonghucu maupun kearifan lokal Minahasa sama-sama meruntuhkan sekat-sekat perbedaan primordial, mengajarkan bahwa ikatan kemanusiaan melampaui batas suku, ras, maupun golongan. Melalui rangkaian ayat suci dan filosofi di atas, terlihat sangat jelas mengapa nilai-nilai universal Agama Khonghucu begitu mudah berakulturasi dengan kearifan lokal Nusantara. Keduanya berpijak pada satu kesadaran spiritual yang sama: bahwa keluhuran budi seseorang tidak diukur dari seberapa tinggi kedudukannya, melainkan tatkala ia mampu merangkul sesama dalam ikatan persaudaraan sejati dan hadir sebagai berkah bagi kehidupan.
Hakikat Tempaan Hidup (Mengzi / Mencius VI B: 15)
Sebagai penutup dari seluruh rangkaian pembinaan mulai dari pengendalian diri (Zhong Yong Bab Utama), ketekunan belajar (Zhong Yong Bab XIX), hingga semangat persaudaraan universal muaranya menuntut sebuah proses. Ws. Liem mengingatkan para umat untuk tidak menjalani hidup secara instan. Beliau menekankan bahwa segala kesuksesan dan kematangan rohani senantiasa menuntut proses yang panjang. Hal ini diperdalam melalui permenungan suci dari Kitab Mengzi (Mencius) VI B: 15 mengenai hakikat tempaan hidup:
“Begitulah kalau Tuhan Yang Maha Esa hendak menjadikan seseorang besar, lebih dahulu disengsarakan batinnya, dipayahkan urat dan tulangnya, dilaparkan badan kulitnya, dimiskinkan sehingga tidak punya apa-apa, dan digagalkan segala usahanya. Maka dengan demikian digerakkan hatinya, diteguhkan Watak Sejatinya, dan bertambah pengertiannya tentang hal-hal yang ia tidak mampu.”
“Kalau orang selalu menderita, ia akan tentu dapat memperbaiki kesalahannya, Kalau orang sudah banyak menderita dalam hatinya, dan menanggung kesukaran dalam pikirannya, baharulah ia akan bertindak benar-benar. (Begitupun dalam berbicara) kalau sudah disertai wajah yang sungguh dan suara yang tegas, baharulah orang mau mengerti.”
“Jadi tahulah kita bahwa yang hidup itu berasal dari kepedihan dan penderitaan, dan yang binasa itu karena hanya mau senang gembira saja.”
- Uraian & Makna Mendalam: Ayat suci ini memberikan perspektif spiritual yang sangat dalam mengenai ujian hidup, sekaligus mengikat seluruh pesan ceramah hari itu. Mengzi mengajarkan bahwa penderitaan, kegagalan, dan kesulitan bukanlah bentuk hukuman, melainkan kawah candradimuka (tempaan ilahi) yang sengaja diberikan untuk menempa karakter seseorang agar menjadi tangguh, tahan uji, dan memiliki kebijaksanaan yang matang. Manusia yang terbiasa hidup dalam kemudahan dan jalan instan cenderung rapuh, sementara mereka yang mampu melewati ujian kepedihan akan memiliki keteguhan watak sejati (Xing).
Pesan moral dari kitab suci ini sangatlah terang: sebagai manusia, kita pantang mencari jalan pintas yang serba instan. Pembinaan diri sebagaimana diajarkan melalui pengendalian emosi, ketekunan belajar, dan cinta kasih antar sesama menuntut ketekunan, kesabaran, serta mental yang kebal terhadap badai kehidupan. Sebab, tempaan hidup yang berat dan proses panjang yang dilalui dengan ketulusanlah yang pada akhirnya mematangkan kebijaksanaan, merajut karakter mulia, dan membuahkan keberhasilan sejati di masa depan.
Penutup
Melalui seluruh rangkaian refleksi ini, umat diajak pada sebuah esensi: senantiasa berpikir positif/jernih agar setiap niat, ucapan, dan tindakan senantiasa selaras. Keselarasan paripurna antara nurani, perkataan, dan perbuatan inilah yang mengukuhkan seseorang sebagai seorang insan budiman atau Junzi, demi mewujudkan tatanan kehidupan masyarakat yang harmonis, tangguh, dan berkemajuan di Bumi Nyiur Melambai.
Shanzai.

