
Oleh: Ws. Liem Liliany Lontoh, S.Pd., S.E., M.Ag. (Ketua Hubungan Antar Lembaga dan Lintas Agama MATAKIN Pusat, Dosen Sekolah Tinggi Khonghucu Indonesia (STIKIN), Ketua MATAKIN DKI Jakarta, Penyuluh Nasional & Instruktur Nasional Penguatan Moderasi Beragama Kemenag RI)
Indonesia bukan sekadar wilayah geografis tempat kita tinggal, melainkan sebuah mozaik indah yang dipertautkan oleh kemajemukan. Di atas persada ini, keberagaman suku, ras, budaya, serta agama hadir untuk saling melengkapi, bukannya memecah belah. Kendati demikian, merawat kerukunan bangsa yang besar membutuhkan keteguhan hati. Di tengah tantangan era disrupsi informasi dan potensi keretakan sosial, Moderasi Beragama kini hadir sebagai jangkar spiritual dan kebutuhan mendasar bagi keutuhan berbangsa.
Sebagai seorang rohaniwan Khonghucu yang bergerak dalam ruang dialog lintas iman, saya memandang moderasi beragama bukan sebagai upaya mendangkalkan akidah atau mencampuradukkan ajaran iman. Moderasi beragama adalah sebuah cara pandang, sikap, dan praktik beragama dalam kehidupan bersama dengan cara mengejawantahkan esensi keagamaan yang melindungi martabat kemanusiaan dan membangun kemaslahatan umum.
- Filosofi Zhong Yong: Jalan Tengah yang Harmonis
Dalam kitab suci Khonghucu, terdapat mutiara kearifan yang disebut dengan Zhong Yong (Tengah Harmonis). Konsep ini melandasi pandangan saya mengenai hakikat sejati dari moderasi. Berada di “Tengah” (Zhong) bukan berarti bersikap netral tanpa prinsip atau kompromistis secara membabi buta. Zhong adalah kondisi seimbang, sebuah titik kokoh di mana kita tidak condong ke ekstrem kanan (fanatisme buta yang radikal dan merasa benar sendiri) dan tidak pula runtuh ke ekstrem kiri (sikap apatis, sekuler, atau abai terhadap nilai transendental).
Ketika keseimbangan itu terjaga, maka lahirlah Keharmonisan (Yong). Ibarat siklus Yin dan Yang yang saling mengisi, keharmonisan di Indonesia akan tercapai apabila setiap pemeluk agama mampu memegang teguh keyakinan imannya dengan kuat, namun tetap lentur dan bijaksana dalam menghormati ruang hidup sesama yang berbeda keyakinan.
- Hakikat Kemanusiaan: Persaudaraan Semesta dan Manusia yang Dapat Dipercaya
Mengapa moderasi beragama itu sifatnya fitrah? Karena pada dasarnya, setiap manusia dilahirkan dengan membawa Watak Sejati (Xing) yang suci dari Tuhan (Tian). Di dalam Xing tersebut, tertanam benih kebajikan universal yang luhur: Cinta Kasih (Ren), Kebenaran/Keadilan (Yi), Kesusilaan (Li), dan Kebijaksanaan (Zhi).
Empat benih ini bermuara pada satu nilai krusial, yaitu Dapat Dipercaya (Xin). Sebab, dengan menghidupi dan menjalankan Cinta Kasih, Kebenaran, Kesusilaan, serta Kebijaksanaan secara konsekuen dalam kehidupan bermasyarakat, maka dengan sendirinya manusia akan menjelma menjadi pribadi yang benar-benar Dapat Dipercaya.
Oleh karena itu, ketika kita merawat kerukunan antar-umat beragama, kita sebenarnya sedang memenuhi kodrat suci tersebut. Tradisi kami memandang seluruh umat manusia melampaui sekat-sekat perbedaan lahiriah sebagai satu keluarga besar di bawah naungan Tian. Sebagaimana ditegaskan dalam kitab suci:
“Di empat penjuru lautan, semua manusia adalah bersaudara.” (Kitab Lunyu XII:5)
Pondasi dari persaudaraan semesta ini dirawat melalui prinsip Tepasalira (tenggang rasa) yang diajarkan oleh Nabi Kongzi: “Apa yang diri sendiri tiada inginkan, janganlah diberikan kepada orang lain” (Kitab Lunyu XV:24). Jika kita tidak ingin disakiti, janganlah kita menyakiti orang lain. Jika kita tidak ingin tempat ibadah kita diganggu, janganlah mengusik tempat ibadah orang lain. Jika kita ingin keyakinan kita dihormati secara tulus, maka sekat ego harus diturunkan untuk menghormati keyakinan sesama.
- Menghargai Perbedaan Tanpa Harus Berdebat Kusir
Dalam ruang publik yang majemuk, perbedaan pilihan teologis atau keyakinan spiritual adalah hal yang niscaya. Moderasi beragama membimbing kita untuk menyikapi perbedaan tersebut dengan kedewasaan, bukan dengan permusuhan atau debat yang saling menjatuhkan. Nabi Kongzi memberikan batasan yang sangat jelas dan bijaksana mengenai hal ini:
“Bila berlainan Jalan Suci, tidak usah saling berdebat.” (Kitab Lunyu XV:40)
Ayat suci ini mengajarkan kita sebuah kearifan tingkat tinggi: menghormati batas. Kita tidak perlu memaksakan keyakinan kita kepada orang lain, dan kita pun tidak perlu menyerang jalan spiritual yang ditempuh sesama. Fokus kita bukanlah mencari-cari perbedaan untuk dipertentangkan, melainkan mencari titik temu kebajikan (Persamaan dalam Kemanusiaan) demi kemaslahatan bangsa.
- Iman dan Nasionalisme: Teladan Ketokohan Lintas Iman
Dalam berbagai kesempatan dialog, saya sering kali meluruskan dikotomi keliru yang menganggap bahwa menjadi orang yang saleh secara agama berarti harus menjauhkan diri dari komitmen kebangsaan. Hal ini jelas keliru. Beragama dan bernegara adalah dua hal yang saling menguatkan.
Saya pribadi sangat mengagumi prinsip luhur yang kerap disuarakan oleh Kardinal Ignatius Suharyo, yakni “100% Katolik, 100% Indonesia”. Bagi saya, prinsip ini adalah cermin kejujuran iman yang luar biasa dan relevan untuk semua pemeluk agama di Indonesia.
Sebagai umat Khonghucu, komitmen keimanan kami menuntut kami untuk menjadi warga negara yang bertanggung jawab, menghidupi nilai-nilai Pancasila, dan menjaga keutuhan NKRI. Ketika kita mengasihi Tuhan, kita wajib mengasihi tanah air tempat di mana Tuhan menghidupkan kita.
Lebih jauh lagi, sebagai umat Khonghucu, mencintai tanah air adalah bagian dari panggilan suci. Mengenai tanggung jawab kebangsaan ini, terdapat sabda luhur yang menggarisbawahi keteguhan sikap kita terhadap tanah kelahiran:
“Tanah air harus dijaga dari generasi ke generasi, tidak boleh ditinggalkan hanya karena pertimbangan pribadi. Bersiaplah untuk mati (demi mempertahankannya), tetapi jangan pergi meninggalkan.” (Mengzi Jilid I B: 15.3)
Landasan teologis ini menegaskan bahwa kesetiaan pada tanah air bukanlah opsi yang bisa ditukar dengan kenyamanan individual. Keimanan kami menuntut kami untuk menjadi warga negara yang bertanggung jawab, menghidupi nilai-nilai Pancasila, dan menjaga keutuhan NKRI. Ketika kita mengasihi Tuhan, kita wajib mengasihi dan mempertahankan tanah air tempat di mana kita dilahirkan dan dibesarkan.
- Perempuan sebagai Pilar Utama Perdamaian di Akar Rumput
Tulisan dan gerakan moderasi tidak akan pernah lengkap tanpa menyentuh aspek pergerakan perempuan. Terinspirasi dari semangat juang Ibu Kartini, saya selalu percaya bahwa setiap perempuan dianugerahi talenta, kekuatan, dan kepekaan yang unik.
Perempuan adalah madrasah pertama, pendidik utama di dalam keluarga yang menyemaikan benih-benih keterbukaan, welas asih, dan penerimaan terhadap perbedaan sejak usia dini. Oleh karena itu, Perempuan, termasuk perempuan Khonghucu dan perempuan lintas iman lainnya, harus tampil tangguh, berani bersuara, dan aktif mengambil peran strategis dalam ruang-ruang dialog publik maupun komunitas lokal. Perempuan adalah agen perdamaian terbaik yang mampu merajut rekonsiliasi dan membentengi akar rumput dari paparan virus intoleransi.
Kesimpulan: Budaya Mengalah Demi Keharmonisan Bersama (Datong)
Menjalankan moderasi beragama menuntut kedewasaan spiritual dan kerendahan hati yang mendalam. Kadang kala, demi mewujudkan dunia yang damai dan harmonis (Datong), kita dituntut untuk memiliki kebesaran jiwa: kerelaan untuk saling memahami, kemauan untuk menurunkan ego kelompok, dan kesadaran untuk mendahulukan maslahat bersama di atas kepentingan pribadi.
Melalui kiprah bersama di Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB), Lembaga Persahabatan Ormas Keagamaan (LPOK), Forum Kemitraan Religi Kamtibmas (FKRK), dan berbagai lembaga keagamaan lainnya, mari kita bumikan nilai-nilai Jalan Tengah ini. Mari kita jadikan moderasi beragama bukan sekadar slogan di atas kertas, melainkan napas dan detak jantung kehidupan sehari-hari demi menjaga Indonesia yang damai, bersatu, dan lestari untuk generasi yang akan datang.(fkub/Bd)
Shanzai.
