Home > Berita dan Kegiatan > FKUB DKI Jakarta Kunjungi Katedral Denpasar, Belajar Praktik Kerukunan dan Inkulturasi
Berita dan KegiatanUtama

FKUB DKI Jakarta Kunjungi Katedral Denpasar, Belajar Praktik Kerukunan dan Inkulturasi

(FKUB Jakarta.org) Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) DKI Jakarta melakukan kunjungan ke Gereja Katolik Katedral Denpasar, Bali, Senin (21/9/2026). Kunjungan tersebut menjadi bagian dari upaya FKUB DKI Jakarta memperluas wawasan dan memperkuat strategi pengelolaan kerukunan umat beragama melalui pertukaran pengalaman dengan berbagai pemangku kepentingan di Bali.

Rombongan FKUB DKI Jakarta disambut Pastor Kepala Gereja Katolik Katedral Denpasar, Romo Yosef Casius Wora. Dalam sambutannya, Romo Yosef menyampaikan apresiasi atas kunjungan FKUB DKI Jakarta sekaligus memperkenalkan karakter Katedral Denpasar yang memadukan identitas Katolik dengan kekayaan budaya lokal Bali.

“Selamat datang di gereja kami,” ujar Romo Yosef.

Menurut dia, Gereja Katedral Denpasar menjadi salah satu ruang yang memperlihatkan bagaimana ekspresi keagamaan dapat berdampingan dengan budaya setempat. Hal tersebut terlihat dari arsitektur dan berbagai simbol yang digunakan dalam bangunan gereja.

Romo Yosef menjelaskan, banyak tamu dari berbagai daerah atau negara yang berkunjung ke Katedral Denpasar. Para pengunjung tersebut kerap membandingkan bangunan gereja dengan gereja-gereja di negara atau daerah asal mereka.

“Bangunan yang mereka masuki, mereka bandingkan dengan bangunan gereja di tempat masing-masing. Yang berbeda, bangunan (gereja) ini menggabungkan simbol Katolik dan budaya lokal,” katanya.

Ia menuturkan, perpaduan tersebut merupakan bagian dari proses inkulturasi, yakni upaya menghadirkan ekspresi kehidupan dan peribadatan Katolik dengan memperhatikan serta menghargai budaya masyarakat setempat.

“Gereja ini memang sengaja bernuansa budaya Bali sebagai upaya inkulturasi,” ujar Romo Yosef.

Dalam kesempatan tersebut, Romo Yosef juga menggambarkan kehidupan masyarakat Bali yang menurutnya berlangsung baik dalam relasi antarumat beragama. Menurut penuturannya, umat Katolik hidup berdampingan dengan umat Hindu sebagai bagian dari masyarakat Bali, demikian pula dengan umat Islam, Protestan, Buddha, dan umat beragama lainnya. Perbedaan keyakinan tidak menjadi penghalang bagi masyarakat untuk membangun hubungan sosial dan kehidupan bermasyarakat yang harmonis.

“Ke­hidupan di sini sangat baik antarumat beragam. Kita hidup bersama dalam keberagaman. Masing-masing menjalankan keyakinannya, tetapi dalam kehidupan bermasyarakat kita tetap saling menghormati dan menjaga hubungan baik” katanya.

Romo Yosef turut menjelaskan posisi Katedral Denpasar dalam struktur Gereja Katolik. Menurut dia, salah satu ciri utama gereja katedral adalah keberadaan kursi uskup atau cathedra, yang menjadi simbol bahwa gereja tersebut merupakan tempat kedudukan uskup.

“Di gereja katedral ini, keuskupan itu memimpin upacara. Ada kursi uskup sebagai tanda gereja katedral. Kami semua patuh kepada Bapak Uskup,” jelasnya.

Sementara itu, Ketua FKUB DKI Jakarta, KH Yusuf Aman, menyampaikan terima kasih atas sambutan hangat yang diberikan pihak Gereja Katedral Denpasar. Ia menjelaskan, kunjungan tersebut merupakan bagian dari ikhtiar FKUB DKI Jakarta untuk belajar langsung dari berbagai praktik kerukunan yang berkembang di daerah lain.

Menurut Yusuf, pengalaman Bali memiliki nilai penting untuk dipelajari karena kerukunan tidak hanya dibangun melalui dialog formal, tetapi juga melalui interaksi sosial, penghormatan terhadap budaya lokal, serta keterlibatan berbagai unsur masyarakat.

“Kami datang untuk belajar dan melihat secara langsung bagaimana kerukunan umat beragama dibangun dan dirawat di Bali. Pengalaman ini penting bagi kami untuk memperkaya perspektif dalam memperkuat kerukunan di DKI Jakarta,” ujarnya.

Ia menilai, keberagaman Jakarta memiliki karakter tersendiri sehingga setiap pengalaman dari daerah lain perlu dipelajari secara kontekstual. Karena itu, hasil kunjungan diharapkan tidak sekadar menjadi pengetahuan, tetapi dapat menjadi bahan refleksi dan pengembangan program FKUB DKI Jakarta.

“Yang kami harapkan adalah ada pembelajaran yang bisa kami bawa pulang, kemudian kami refleksikan dan sesuaikan dengan kondisi masyarakat DKI Jakarta,” kata Yusuf.

Ia juga berharap hubungan yang terbangun antara FKUB DKI Jakarta dengan Gereja Katedral Denpasar dan para pemangku kepentingan di Bali dapat terus dikembangkan. Menurutnya, jejaring antarlembaga dan tokoh lintas agama penting untuk membuka ruang pertukaran pengalaman serta kerja sama dalam memperkuat kerukunan.

“Terima kasih atas penyambutan yang hangat. Semoga Romo terus membangun role model kerukunan umat beragama di Bali,” ujar Yusuf.

Yusuf menambahkan, pengalaman yang diperoleh dari Bali diharapkan dapat memperkuat kapasitas FKUB DKI Jakarta dalam merumuskan langkah-langkah strategis pengelolaan kerukunan. “Terlebih, Jakarta ini merupakan ruang perjumpaan masyarakat dengan latar belakang agama, budaya, etnis, dan sosial yang sangat beragam,” pungkasnya.

Kunjungan ke Katedral Denpasar pun menjadi bagian dari rangkaian kegiatan Capacity Building FKUB DKI Jakarta di Bali. Selain mempererat silaturahmi, kegiatan tersebut diharapkan membuka ruang pertukaran pengalaman mengenai praktik dialog, relasi antarumat beragama, serta peran tokoh dan lembaga keagamaan dalam menjaga harmoni sosial.

Turut hadir dalam rombongan FKUB Provinsi DKI Jakarta perwakilan dari Badan Kesbangpol, Biro Dikmental, serta Kanwil Kemenag DKI Jakarta.(fkub/Dn)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *