Berita dan KegiatanUtama

(FKUB  Jakarta.org)  Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Provinsi DKI Jakarta menggelar Rapat Kerja (RAKER) dilaksanakan selama dua hari, Senin – Selasa, 20-21 Juli 2026 bertempat di Sunlake Waterfront Resort & Convention Jakarta menghadirkan pembahasan strategis mengenai arah program kerja FKUB dalam menyongsong momentum 5 Abad Jakarta.

Dalam kesempatan itu Dr. Nurhadi, MS, MA selaku Sekretaris FKUB DKI Jakarta menegaskan bahwa peringatan lima abad Jakarta tidak hanya dimaknai sebagai perayaan sejarah, tetapi juga sebagai pijakan untuk merancang program yang mampu memperkuat kerukunan umat beragama di tengah transformasi Jakarta menuju kota global yang inklusif, tangguh, dan kolaboratif.

Dr. Nurhadi MS, MA menjelaskan bahwa Jakarta sejak awal telah tumbuh sebagai kota yang majemuk. Berawal dari pelabuhan Sunda Kelapa, wilayah ini menjadi titik temu berbagai bangsa dan budaya. Kedatangan Portugis dan Belanda membawa arus migrasi masyarakat dari Maluku, Nusa Tenggara Timur, Bali, Jawa, serta berbagai daerah lainnya, yang kemudian berakulturasi dan membentuk karakter masyarakat Jakarta yang multikultural. Bahkan di kalangan masyarakat Betawi sendiri terdapat keragaman dialek dan budaya di berbagai wilayah seperti Kota Bambu, Kemanggisan, Tanah Abang, dan Cengkareng. Hal tersebut menunjukkan bahwa keberagaman merupakan identitas yang telah melekat dalam sejarah Jakarta, disertai sikap terbuka masyarakat Betawi terhadap para pendatang.

Berangkat dari modal historis tersebut, narasumber menawarkan tiga kata kunci sebagai arah penyusunan program kerja FKUB, yaitu inklusif, tangguh, dan kolaboratif. Nilai inklusif dimaknai sebagai sikap terbuka terhadap perbedaan dengan tetap menghargai identitas dan latar belakang masing-masing. Sementara itu, ketangguhan diartikan sebagai kemampuan bersikap proaktif dalam menghadapi dinamika kehidupan beragama, termasuk menyikapi perbedaan penafsiran ajaran agama secara dewasa tanpa terjebak pada sikap ekstrem maupun eksklusif. Adapun kolaborasi dipahami sebagai upaya menggabungkan keunggulan seluruh umat beragama untuk menghadirkan solusi bersama bagi pembangunan Jakarta, melibatkan unsur Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Buddha, Konghucu, dan Tridharma.

Dalam paparannya, Nurhadi mengajukan lima arah misi strategis yang dapat menjadi bahan pembahasan dan pengembangan program kerja FKUB Provinsi DKI Jakarta. Pertama, transformasi regulasi dan pelayanan, melalui digitalisasi layanan rekomendasi FKUB, termasuk rekomendasi pendirian rumah ibadah, agar prosesnya semakin transparan, akuntabel, dan mudah diakses masyarakat. FKUB juga didorong untuk aktif memberikan masukan terhadap regulasi yang dinilai perlu disempurnakan sesuai perkembangan masyarakat.

Kedua, membangun ekosistem dialog dan kolaborasi lintas generasi. Menurut narasumber, tantangan terbesar saat ini adalah semakin jauhnya generasi muda dari aktivitas keagamaan. Oleh karena itu, diperlukan pendekatan yang lebih relevan dan kreatif agar nilai-nilai agama dapat diterima dan dipahami oleh Generasi Z dan Generasi Alpha sebagai bagian dari kehidupan mereka.

Ketiga, membentuk pusat mitigasi dan respons cepat berbasis data atau cyber harmony. FKUB diharapkan memiliki basis data sosial, budaya, pendidikan, ekonomi, dan keagamaan masyarakat Jakarta sehingga potensi konflik maupun gesekan sosial dapat dipetakan sejak dini dan ditangani secara cepat melalui kebijakan yang berbasis data.

Keempat, memperkuat kemitraan strategis berbasis pentahelix dengan melibatkan pemerintah, akademisi, dunia usaha, media, dan masyarakat. Sinergi tersebut dinilai penting agar FKUB memiliki perspektif global dalam membaca dinamika kerukunan serta mampu menyaring berbagai isu internasional secara objektif melalui peningkatan jejaring dan pembelajaran lintas negara.

Kelima, mengarusutamakan moderasi beragama dalam isu sosial dan ekonomi. Moderasi beragama dipahami sebagai kemampuan menjaga keseimbangan dalam menyikapi berbagai perbedaan pandangan dan pemikiran keagamaan, sehingga mampu melahirkan kehidupan masyarakat yang damai, toleran, dan saling menghormati.

Melalui pemaparan tersebut, peserta rapat kerja memperoleh perspektif baru bahwa keberhasilan Jakarta sebagai kota global tidak hanya ditentukan oleh kemajuan pembangunan fisik dan ekonomi, tetapi juga oleh kemampuan seluruh elemen masyarakat dalam menjaga kerukunan, memperkuat kolaborasi lintas agama, serta membangun kehidupan sosial yang inklusif. Rekomendasi dan gagasan yang disampaikan diharapkan menjadi bahan penyempurnaan program kerja FKUB Provinsi DKI Jakarta dalam menyongsong peringatan 5 Abad Jakarta sebagai kota yang harmonis, berdaya saing, dan menjadi teladan kehidupan keberagaman di tingkat nasional maupun global.(fkub/Bd)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *