(FKUB JAKARTA.org)
Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) DKI Jakarta bersilaturahmi dengan Keuskupan Agung Jakarta (KAJ) di Graha Pemuda, Kompleks Gereja Katedral, Jakarta Pusat, Kamis (11/12). Pertemuan ini menjadi bagian dari rangkaian agenda FKUB untuk menyerap aspirasi majelis-majelis agama sekaligus memperkuat jejaring kerukunan di Ibu Kota.
Ketua FKUB DKI Jakarta, KH Yusuf Aman, menegaskan bahwa keberagaman merupakan bagian tak terpisahkan dari masyarakat Jakarta. Karena itu, para penggerak kerukunan harus menjadi teladan dalam memupuk harmoni.
“Kita ditakdirkan majemuk. Harmoni justru lahir dari keberagaman. Sebagai relawan kerukunan, kita harus memberi contoh terlebih dahulu kepada warga Jakarta,” ujarnya.
Ia menambahkan pentingnya memandang semua manusia sebagai saudara. “Interaksi antarsesama harus diyakini sebagai persaudaraan. Di tengah kemajuan teknologi, kita perlu menanamkan akhlak sebagai fondasi kehidupan berbangsa,” kata Kiai Yusuf.
Sementara itu, Uskup KAJ Kardinal Ignatius Suharyo menyampaikan apresiasi kepada FKUB atas pelayanan yang dinilainya tidak mudah namun sangat mulia. Dalam sambutannya, ia mengisahkan sejarah kawasan Katedral yang menyimpan jejak penting perjalanan bangsa, termasuk penyelenggaraan Kongres Pemuda I yang melahirkan Sumpah Pemuda.
Kardinal Suharyo juga mengisahkan kembali perdebatan Presiden Soekarno dan Wakil Presiden Mohammad Hatta mengenai lokasi pembangunan Masjid Istiqlal. Soekarno memilih kawasan di seberang Katedral sebagai simbol persatuan bangsa.
“Beliau melihat jauh ke depan, ingin menghadirkan makna strategis: harmoni dalam keberagaman,” jelasnya.
Gagasan simbolik itu berkembang kembali pada era pemerintahan Presiden Joko Widodo melalui revitalisasi kawasan Istiqlal–Katedral. Salah satu hasilnya ialah Terowongan Silaturahmi, penghubung kedua rumah ibadah.
“Terowongan ini harus menjadi edukasi, mengajak masyarakat untuk terhubung dan bersilaturahmi,” ungkap Kardinal Suharyo.
Kardinal juga memaparkan perkembangan Gereja Katolik di Indonesia, mulai dari era Hindia Belanda, yang baru diizinkan masuk pada 1807, hingga berdirinya keuskupan-keuskupan di Nusantara. Ia menjelaskan bahwa Vatikan merupakan negara Eropa pertama yang mengakui kemerdekaan Indonesia, setahun setelah proklamasi.
Ia menyinggung pula keberadaan Keuskupan TNI–Polri, satu-satunya di dunia, yang dibentuk untuk memastikan pelayanan pastoral bagi anggota dua institusi tersebut.
“Kami ada 38 Keuskupan Teritorial dan 1 Keuskupan khusus di lingkungan TNI dan Polri.Satu-satunya, hanya di Indonesia,” terangnya.
Selain itu, Kardinal menegaskan bahwa setiap agama, termasuk Katolik, memiliki kewajiban iman sekaligus tanggung jawab sosial.
“Setiap agama memiliki ajaran Iman. Agama apapun mempunyai tanggung jawab sosial untuk mengamalkan iman. Dalam ajaran kami, pemeluk Katolik wajib mengungkapkan iman dan wajib mewujudkan iman itu dalam bentuk tanggung jawab sosial,,” pungkasnya.
Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan sesi penyampaian aspirasi dari peserta, yang fokus pada upaya memperkuat kerukunan umat beragama di Jakarta.
Hadir dalam forum tersebut pengurus FKUB Provinsi, Kota dan Kabupaten se-DKI Jakarta, Pengurus KAJ, serta perwakilan 5 Majelis Agama lainnya.(fkub/Dn)

