Oleh : Ws. Liem Liliany Lontoh, S.Pd., S.E., M.Ag.
Kisah hidup Auw Tjoei Lan bukan hanya catatan sejarah masa lalu di sudut Kota Batavia era 1930-an, melainkan sebuah suluh keberanian yang melampaui zamannya. Di tengah tatanan sosial yang penuh keterbatasan dan jerat kejahatan perdagangan manusia (human trafficking), seorang perempuan keturunan Tionghoa berdiri teguh membela kaum yang paling rentan: perempuan dan anak-anak. Kepedulian dan tindakan nyata Auw Tjoei Lan dalam menyelamatkan ribuan jiwa membuktikan bahwa belas kasih sejati tidak pernah berhenti pada niat semata.
Kini, warisan nilai luhur tersebut kembali dihidupkan ke ruang publik melalui pementasan teater bertajuk “Nyonya Ati Soetji” yang diprakarsai oleh Regina Art dan akan dipentaskan di Ciputra Artpreneur, Jakarta Selatan. Rencana pementasan ini mendapat sambutan hangat dan apresiasi mendalam dari berbagai kalangan, termasuk Majelis Tinggi Agama Khonghucu Indonesia (MATAKIN) Provinsi DKI Jakarta. Ketua MATAKIN DKI Jakarta, Ws. Liem Liliany Lontoh, memandang apa yang ditaburkan oleh Auw Tjoei Lan telah menjadi pondasi penting bagi kebebasan, kesetaraan, dan perlindungan perempuan yang dirasakan hingga hari ini.
Refleksi dari Ruang Kerukunan di Ibu Kota
Sebagai seseorang yang sehari-hari berkecimpung dan mendedikasikan diri dalam dinamika Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) DKI Jakarta, momentum ini menghadirkan sebuah permenungan yang mendalam. Di tengah masyarakat Jakarta yang begitu majemuk, merawat harmoni tidak cukup hanya dengan menjaga kedamaian permukaan, melainkan juga dengan menghidupkan kembali memori kolektif tentang tokoh-tokoh yang mendedikasikan hidupnya melampaui sekat-sekat suku, ras, maupun agama.
Perjuangan kemanusiaan yang digerakkan oleh Auw Tjoei Lan mengajarkan kita bahwa cinta kasih tidak mengenal batas identitas primordial. Pengalaman berinteraksi dengan berbagai elemen umat beragama di Jakarta semakin meneguhkan keyakinan saya bahwa nilai-nilai kebaikan universal selalu menemukan titik temunya dalam denyut perjuangan kemanusiaan. Dari sinilah sebuah refleksi penting menyeruak: sudah saatnya negara memberikan pengakuan yang lebih paripurna melalui gelar Pahlawan Nasional bagi para pejuang kemanusiaan dan kemerdekaan dari keturunan Tionghoa, termasuk Auw Tjoei Lan.
Merajut Sejarah yang Utuh
Selama ini, narasi sejarah nasional sering kali terjebak dalam kotak-kotak sektoral, seolah-olah perjuangan membangun bangsa hanya dimonopoli oleh kelompok tertentu. Padahal, sejarah mencatat bagaimana banyak tokoh Tionghoa turut berdarah-darah, baik dalam diplomasi, pergerakan kemerdekaan, hingga ranah sosial-kemanusiaan seperti yang dilakukan Auw Tjoei Lan.
Ketika seorang pejuang mendedikasikan seluruh hidupnya untuk membebaskan kaum tertindas tanpa memandang latar belakang golongan, kontribusi itu telah melampaui batas-batas identitas sempit. Pengakuan resmi negara melalui gelar Pahlawan Nasional bukan sekadar penghargaan simbolik bagi individu yang bersangkutan, melainkan bentuk validasi sejarah bahwa kebhinekaan Indonesia benar-benar dibangun di atas dasar keringat dan air mata bersama.
Tugas Suci Melanjutkan Warisan Kemanusiaan
Sebagaimana pesan luhur dalam Kitab Daxue, Menggemilangkan Kebajikan yang Bercahaya, Mengasihi Rakyat, dan Berhenti pada Puncak Kebaikan.
Apa yang dilakukan oleh Auw Tjoei Lan adalah perwujudan nyata dari puncak kebajikan tersebut. Semangat ini pula yang senantiasa digaungkan dalam ikhtiar merawat kerukunan di ibu kota.
Pementasan “Nyonya Ati Soetji” di Ciputra Artpreneur diharapkan tidak hanya menjadi hiburan seni yang memukau, melainkan juga ruang penyadaran kolektif. Melalui seni dan dialog kebangsaan, masyarakat diajak untuk melihat bahwa kepahlawanan tidak selalu memegang senjata di medan perang; kepahlawanan juga bisa lahir dari keteguhan hati melawan ketidakadilan sosial dan membela mereka yang tak bersuara.
Sudah saatnya lembaran sejarah nasional kita menuliskan nama-nama pejuang kemanusiaan lintas etnis ini dengan tinta emas yang lebih terang. Mendorong pengusulan Auw Tjoei Lan dan tokoh-tokoh pejuang Tionghoa lainnya sebagai Pahlawan Nasional adalah langkah nyata untuk merawat ingatan kolektif bangsa, meneguhkan keadilan sejarah, serta merajut Indonesia yang seutuhnya, di mana setiap tetes keringat untuk kemanusiaan dihargai setinggi-tingginya oleh negara.
Huang Yi Shang Di, Wei Tian You De. Shanzai.

