Home > Agama dan Keyakinan > Merdeka dalam Persatuan: Membumikan Pancasila, Merajut Kebajikan Bangsa
Agama dan KeyakinanArtikelKonghucu

Merdeka dalam Persatuan: Membumikan Pancasila, Merajut Kebajikan Bangsa

Oleh: Ws. Liem Liliany Lontoh, S.Pd., S.E., M.Ag.

(Pengawas Gerakan Pembumian Pancasila, Sekjend Asosiasi FKUB Indonesia, & Ketua Matakin DKI Jakarta)

Salam Kebajikan dan Salam Pancasila.

Menjelang Hari Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-81, sanubari kita kembali digugah oleh refleksi mendalam tentang arti menjadi sebuah bangsa. Kemerdekaan yang kita nikmati hari ini bukanlah hadiah cuma-cuma, melainkan rajutan keringat, darah, dan doa dari para pahlawan dari berbagai latar belakang suku, agama, dan golongan yang menyatu dalam satu ikatan tak terpisahkan.

Sebagai bagian dari Gerakan Pembumian Pancasila (GPP), saya memandang kemerdekaan sebagai mandat sejarah yang harus terus dihidupkan, bukan sekadar dirayakan. Perjalanan ini mengingatkan saya pada masa-masa pengabdian sebelumnya ketika dipercaya mengemban amanah sebagai Ketua VI DPP GPP.

Kala itu, Indonesia dan dunia tengah diuji oleh gelombang pandemi COVID-19 pada tahun 2020. Di bawah nakhoda dan kepemimpinan Ketua Umum GPP, Dr. Antonius Manurung, M.Si., bersama Sekretaris Jenderal Dr. Bondan Kanumoyoso, M.Hum. yang sejak awal berdiri hingga kini senantiasa menjadi pilar penguat organisasi, situasi sulit tersebut sama sekali tidak menyurutkan langkah kami. GPP membuktikan bahwa pembumian Pancasila tidak pernah berhenti walau di tengah krisis. Ketika ruang-ruang fisik terbatas, kami terus bergerak memanfaatkan ruang digital melalui platform virtual seperti Zoom.

Rekam jejak dan semangat juang tanpa batas tersebut terdokumentasikan dalam tayangan Refleksi Akhir Tahun 2020 oleh Ketua VI DPP GPP Ws. Liem Liliany Lontoh, yang menjadi bukti nyata konsistensi organisasi dalam merawat ideologi bangsa di tengah keterbatasan.

Kini, komitmen tersebut terus berlanjut secara konsisten dan progresif:

Konsolidasi Internal & Dampak Publik

  • Konsolidasi Internal: Agenda rutin seperti Rapat Kerja Nasional (Rakernas) dan Diskusi Kebangsaan terus digelar untuk mengevaluasi, menyusun program, serta memperkuat komitmen pengurus dalam mengimplementasikan nilai ideologi negara.
  • Aksi Nyata & Edukasi Publik: Melalui Seminar dan Sarasehan Kebangsaan, GPP membedah berbagai isu aktual dengan pisau analisis nilai-nilai luhur Pancasila. Kami juga merambah platform media luhur (seperti TV Desa) melalui program Talkshow dan Sosialisasi Publik demi menjangkau warga desa hingga anak-anak.
  • Penguatan Literasi: Mulai dari momentum seremonial yang sarat orasi Trisakti pada Pelantikan Pengurus, aksi Pemberdayaan Masyarakat Akar Rumput, hingga penyebarluasan literasi ilmiah melalui Penerbitan Jurnal Pembumian Pancasila, semuanya dirancang agar Pancasila dihayati dan dihidupi di tengah masyarakat.

Landasan Teologis dan Pembinaan Diri (Xiu Shen)

Sebagai Ketua Matakin DKI Jakarta, amanah ini memperkuat keyakinan saya bahwa nilai luhur agama Khonghucu sangat selaras dengan nafas kebangsaan. Mengabdi pada tanah air adalah panggilan iman. Dalam Kitab Mengzi (Ib:15) tersurat:

“Tanah air harus dijaga dari generasi ke generasi, tidak boleh ditinggalkan hanya karena pertimbangan pribadi. Bersiaplah untuk mati (demi mempertahankannya), tetapi jangan pergi meninggalkan.” (Mengzi Jilid I B: 15.3)

Menjaga tanah air adalah wujud bakti luhur (Xiao) kita kepada para pendahulu dan bentuk tanggung jawab iman kita kepada Tian (Tuhan Yang Maha Esa). Sejalan dengan itu, Kitab Da Xue (Utama : 4-5) menegaskan pentingnya pembinaan diri (Xiu Shen):

“Orang jaman dahulu yang hendak menggemilangkan Kebajikan Yang Bercahaya itu pada tiap umat di dunia, ia lebih dahulu berusaha mengatur negaranya; untuk mengatur negaranya, ia lebih dahulu membereskan rumah tangganya; untuk membereskan rumah tangganya, ia lebih dahulu membina dirinya… Karena itu dari raja sampai rakyat jelata mempunyai satu kewajiban yang sama, yaitu mengutamakan pembinaan diri sebagai pokok.”

Ketika individu mampu membina diri dan menjaga keharmonisan lingkungannya, maka ketahanan nasional dan kedamaian negara akan berdiri kokoh. Kebajikan inilah yang merajut persaudaraan universal sebagaimana ditegaskan dalam Kitab Lunyu XII:5 “Di empat penjuru lautan, semua manusia adalah saudara”.

Persatuan tidak menghilangkan keberagaman, melainkan mempersatukan hati dalam kebajikan. Ketika setiap insan membina diri (Xiu Shen), perbedaan tidak lagi menjadi sekat, melainkan kekayaan yang memperkokoh persatuan bangsa.

Menerapkan Kebajikan melalui Kolaborasi Lintas Iman

Jakarta, sebagai miniatur Indonesia, adalah medan juang yang sangat dinamis bagi Gerakan Pembumian Pancasila (GPP). Pembumian Pancasila tidak akan optimal jika hanya berhenti pada wacana akademis; nilai-nilainya harus diwujudkan dalam aksi nyata pembinaan keagamaan dan kolaborasi lintas iman di tengah masyarakat.

Perjalanan khidmat saya, baik dalam pergerakan di GPP, pembinaan kebangsaan umat di lingkungan Matakin DKI Jakarta, hingga amanah dialog lintas agama di FKUB Jakarta Barat, FKUB Provinsi DKI Jakarta, hingga  Asosiasi FKUB Indonesia serta kepengurusan di Forum Kemitraan Religi Kamtibmas dan Lembaga Persahabatan Ormas Keagamaan (LPOK) mengajarkan bahwa kerukunan dan persatuan harus dirawat secara berkesinambungan. Kolaborasi lintas iman dan penguatan peran majelis keagamaan adalah pilar utama pembumian Pancasila: tempat kita saling mendengar, meruntuhkan sekat prasangka, dan bergerak bersama mengatasi persoalan sosial demi menjaga keutuhan bangsa.

 Seruan Kolaborasi dan Aksi

Mari kita sambut Hari Kemerdekaan ini dengan komitmen baru:

  • Bagi Pengurus dan Simpatisan GPP: Terus bergerak tanpa lelah, mengakar di masyarakat, serta memanfaatkan ruang publik dan literasi untuk membumikan ideologi bangsa. Jadikan persatuan sebagai fondasi utama dalam merawat kerukunan, sehingga Pancasila tidak berhenti sebagai jargon, melainkan menjadi penuntun hidup bersama.
  • Bagi Umat Khonghucu dan Masyarakat DKI Jakarta: Menjadi pelopor pembinaan diri yang berkarakter Pancasila, aktif dalam kolaborasi lintas iman, serta menjaga toleransi dan persatuan.

Negara yang maju adalah negara yang rakyatnya hidup rukun, membina diri dalam kebajikan, dan bersatu dalam perbedaan. Mari bersama-sama kita jaga rumah besar bernama Indonesia ini dari generasi ke generasi.

Selamat Menyambut Hari Kemerdekaan Republik Indonesia!

Merdeka! Pancasila Abadi!

Shanzai.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *