(FKUB Jakarta.org) Membangun Jakarta sebagai kota global tidak cukup hanya dengan menyiapkan infrastruktur dan pertumbuhan ekonomi. Di balik ambisi tersebut, ada pekerjaan yang tak kalah penting: memastikan generasi mudanya tumbuh dengan kecerdasan, moral yang kuat, serta mampu hidup di tengah keberagaman.
Pesan itu mengemuka dalam Dialog Lintas Agama yang digelar Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Provinsi DKI Jakarta di Hotel Orchard Industri, Gunung Sahari, Jakarta Pusat, Selasa (11/8/2026).
Mengangkat tema “Merangkai Kerukunan, Memperkuat Ketahanan Moral: Sinergi Tokoh Agama, Guru, dan BNNP dalam Mewujudkan Generasi Jakarta yang Harmoni dan Bersih dari Narkoba”, kegiatan tersebut mempertemukan tokoh agama, guru, dan unsur Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) DKI Jakarta.
Forum ini tidak sekadar menjadi ajang silaturahmi lintas agama. Lebih dari itu, dialog diarahkan untuk membangun kesadaran bersama bahwa pembentukan karakter generasi muda merupakan tanggung jawab yang harus dipikul secara kolektif.
“Kita Bukan Sekadar Warga Jakarta”
Ketua FKUB Provinsi DKI Jakarta, KH. Yusuf Aman, menilai Jakarta memiliki posisi yang sangat strategis karena menjadi miniatur Indonesia sekaligus tengah diarahkan menjadi kota global.
“Jakarta ini miniaturnya Indonesia. Karena itu Jakarta sangat strategis. Apalagi menuju usia lima abad dan Jakarta menjadi kota global, maka masyarakatnya juga harus berpikir global,” ujar Yusuf dalam sambutannya.
Ia mengingatkan, menjadi bagian dari Jakarta berarti memiliki tanggung jawab yang lebih luas sebagai bagian dari bangsa Indonesia dan masyarakat dunia.
“Kita bukan sekadar warga Jakarta, kita adalah warga Indonesia, kita adalah warga dunia.”
Menurut Yusuf, karakter masyarakat kota global tidak hanya diukur dari kemajuan fisik dan teknologi, tetapi juga dari kemampuan masyarakatnya menjaga toleransi, menghargai perbedaan, dan hidup berdampingan secara damai.
Karena itu, kerukunan tidak boleh dianggap sebagai sesuatu yang otomatis hadir dalam masyarakat yang majemuk.
«“Kerukunan harus diikhtiarkan, kudu diupayakan, karena kita ditakdirkan majemuk.”»
Belajar dari Para Pendiri Bangsa
Memasuki momentum bulan kemerdekaan, Yusuf mengajak peserta dialog mengingat kembali salah satu kekuatan utama yang membuat Indonesia mampu merebut kemerdekaan: persatuan.
Para pendahulu bangsa, kata dia, mampu bekerja bersama meskipun berasal dari latar belakang suku, agama, dan budaya yang berbeda.
«“Kenapa pendahulu kita bisa merebut kemerdekaan? Karena kita bersatu. Berbeda suku, agama dan budaya, kita berjuang bersama-sama.”»
Semangat tersebut, lanjut dia, harus terus dirawat. Terlebih, tantangan yang dihadapi generasi saat ini semakin kompleks, mulai dari perubahan sosial, perkembangan teknologi hingga ancaman penyalahgunaan narkoba.
“Keutuhan bangsa ini harus dijaga. Semuanya punya andil dalam kemerdekaan bangsa ini,” kata Yusuf.
Guru di Garis Depan Pembentukan Karakter
Dalam dialog tersebut, peran guru juga mendapat sorotan. Yusuf menilai guru tidak sekadar bertugas mentransfer pengetahuan, tetapi juga membentuk karakter dan moral anak didik.
Ia bahkan mengingatkan bahwa hubungan guru dan murid tidak berhenti ketika seorang siswa telah lulus dari sekolah.
“Tidak boleh mengatakan mantan guru. Sampai kapan pun guru tetaplah guru.”
Menurut Yusuf, guru adalah sosok yang meninggalkan jejak panjang dalam kehidupan seseorang. Pengetahuan, nasihat, dan nilai yang diberikan seorang guru dapat terus melekat bahkan hingga seseorang dewasa.
“Guru yang telah memberikan secercah cahaya bagi bangsa, mereka adalah pelita kehidupan bangsa, pahlawan tanpa tanda jasa,” ujarnya.
Ia juga mengutip Imam Syafii mengenai pentingnya menghormati guru sebagai bagian dari proses memperoleh ilmu. Karena itu, Yusuf berharap kesejahteraan guru terus menjadi perhatian pemerintah dan para pemangku kebijakan. “Peran guru tidaklah mudah,” katanya.
Membangun Generasi untuk Indonesia Emas
Menurut Yusuf, cita-cita Indonesia Emas 2045 tidak boleh berhenti sebagai slogan. Persiapannya harus dilakukan sejak sekarang, termasuk dengan memastikan generasi muda memiliki kecerdasan sekaligus ketahanan moral.
“Harus dimulai dari sekarang, bagaimana kecerdasannya, bagaimana moralnya, bagaimana kehidupannya.”
Dalam konteks inilah, isu narkoba menjadi bagian penting dari pembicaraan. Guru dan tokoh agama dinilai memiliki posisi strategis untuk melakukan edukasi, pencegahan, sekaligus membangun lingkungan sosial yang mampu melindungi anak-anak dan remaja dari penyalahgunaan narkoba.
Ketua Panitia Dialog Lintas Agama, Agustinus Didiek Dwinarmiyadi, mengatakan kegiatan tersebut memang dirancang untuk mempertemukan para tokoh agama dan guru agar dapat saling mengenal serta membangun jejaring kolaborasi.
“Tujuan utama kegiatan Dialog Lintas Agama ini adalah silaturahmi antar tokoh, termasuk para guru lintas agama, untuk saling mengenal satu sama lain,” ujarnya.
Agustinus menjelaskan, dialog kali ini membahas dua isu utama, yakni kerukunan umat beragama dan upaya mewujudkan Jakarta bersih dari narkoba.
“Kita sebagai para tokoh agama, para guru bisa turut berkontribusi, ikut berkampanye terkait Jakarta bersih dari narkoba,” katanya.

Kerukunan dan Pencegahan Narkoba Harus Berjalan Bersama
Kehadiran BNNP DKI Jakarta dalam forum tersebut menjadi bagian dari upaya memperluas perspektif mengenai ancaman narkoba di kalangan generasi muda. Para guru yang hadir diharapkan dapat memperoleh pemahaman lebih baik mengenai kondisi dan tantangan yang dihadapi anak-anak usia sekolah.
Setelah sambutan Ketua FKUB, kegiatan dilanjutkan dengan dialog yang dipandu moderator Ahmad Yala.
Dialog menghadirkan Wakil Ketua FKUB Provinsi DKI Jakarta, Romo Antonius Suyadi, sebagai narasumber pertama dan Afib Rizal, Ketua Tim Pencegahan BNNP DKI Jakarta, sebagai narasumber kedua.
Puluhan guru dari berbagai sekolah lintas agama di DKI Jakarta mengikuti kegiatan tersebut.
Forum ini sekaligus menegaskan bahwa membangun Jakarta sebagai kota global tidak hanya membutuhkan masyarakat yang kompeten, tetapi juga masyarakat yang mampu merawat keberagaman dan memiliki ketahanan moral.
Sebab, kota global yang maju secara fisik tetapi rapuh secara sosial dan moral pada akhirnya akan kehilangan fondasi utamanya: manusia. Dan dari ruang kelas, rumah ibadah, serta ruang-ruang dialog lintas agama, fondasi itu mulai dibangun.(fkub/Dn)

