Home > Agama dan Keyakinan > Pemerintahan Berbasis Kebajikan: Memahami Mandat Tian dan Hakikat Kesetiaan Sejati
Agama dan KeyakinanArtikelKonghucu

Pemerintahan Berbasis Kebajikan: Memahami Mandat Tian dan Hakikat Kesetiaan Sejati

Oleh : Ws. Liem Liliany Lontoh, S.Pd., S.E., M.Ag.

  1. Pendahuluan: Berangkat dari Pertanyaan Pembaca

Beberapa waktu lalu, saya menulis sebuah artikel di website FKUB berjudul Menjaga Harkat Manusia: Refleksi Hari Dunia Melawan Perdagangan Manusia dalam Ajaran Khonghucu. Setelah artikel tersebut dipublikasikan, saya menerima tanggapan dan pertanyaan yang sangat mendalam melalui pesan pribadi (japri) dari seorang pembaca. Beliau menanggapi kutipan ayat suci yang saya cantumkan dan melayangkan pertanyaan kritis mengenai batas antara Tian Ming (Mandat Tian) dan posisi suara rakyat.

Diskusi interaktif tersebut sangat menggugah pemikiran saya. Saya menyadari betapa pentingnya memberikan penjelasan teologis yang jernih dan proporsional agar pemaknaan ayat-ayat suci Khonghucu (Sishu Wujing) tidak memicu bias penafsiran atau disalahartikan secara sempit.

Dalam diskursus kepemimpinan, sering kali legitimasi kekuasaan hanya diukur dari mekanisme teknis atau sekadar angka dukungan semata. Namun dalam pemikiran etika-politik Rujiao (Khonghucu), hubungan antara dimensi teologis dan realitas sosial terbangun secara utuh dan teratur: Tian berkedudukan sebagai Sumber Legitimasi dan Mandat Kebajikan, sedangkan Kesejahteraan serta Ketenteraman Hidup Rakyat merupakan Indikator Empiris dari Pelaksanaan Mandat tersebut.

  1. Memisahkan Tian Ming (Mandat Tian) dan Min Xin (Hati/Suara Rakyat)

Untuk menghindari bias penafsiran, penting untuk membedakan dua konsep utama ini secara berimbang (Zhongyong):

  • Tian (Tuhan Yang Maha Esa): Merupakan sumber tertinggi hukum moral, keadilan, dan kebenaran universal. Mandat kekuasaan datang dari Tian (Tian Ming), bukan hasil kesepakatan mekanis manusia semata.
  • Min (Rakyat): Rakyat bukanlah pemilik mandat itu sendiri, melainkan penerima manfaat (beneficiary) sekaligus indikator dari pelaksanaan mandat tersebut.

Peran rakyat sebagai indikator manifestasi Kehendak Tian dijelaskan dengan sangat tegas dalam Shujing (Kitab Dokumen):

Shujing – Tai Shi: “Tian melihat sebagaimana rakyatku melihat; Tian mendengar sebagaimana rakyatku mendengar.”

Ayat ini bukan berarti Tian adalah rakyat itu sendiri, melainkan menegaskan bahwa kondisi sosial, jeritan hati, dan kebahagiaan rakyat merupakan sinyal nyata (manifestasi visual) apakah seorang penguasa masih selaras dengan Kehendak Tian.

Prinsip pemisahan subjek ini ditegaskan kembali oleh Mengzi ketika menjelaskan bagaimana seorang pemimpin mendapatkan legitimasi kekuasaannya:

Mengzi  Jilid VA :5 “Tian tidak berbicara; Ia menyatakan Kehendak-Nya melalui perbuatan dan peristiwa.”

“Dahulu, Shun dipersembahkan kepada Tian dan Tian menerimanya; ia dipersembahkan kepada rakyat dan rakyat menerimanya… Maka dikatakan: Tian tidak berbicara, Ia menyatakan Kehendak-Nya melalui rakyat.”

  1. Mengapa Kepemimpinan Bisa Kehilangan Mandat Tian?

Dalam ajaran Khonghucu, kekuasaan bersifat dinamis dan tidak mutlak. Tian Ming bersifat tidak kekal (Tian Ming Mei Chang) dan dapat dicabut (Ge Ming) apabila seorang penguasa berpaling dari Kebajikan (De).

Ketika pemangku kebijakan mengalami krisis moral, hati nuraninya tumpul, lebih mengutamakan keuntungan materi, korupsi merajalela, serta mengabaikan penderitaan rakyat kecil, maka secara spiritual tatanan moral tersebut telah rusak. Penderitaan rakyat adalah cermin dari matinya rasa cinta kasih (Ren) dan keadilan (Yi) pada diri pemimpin.

Prinsip pencabutan mandat ini diabadikan dalam Daxue (Ajaran Besar):

Da Xue Bab X:4

“Pandang Gunung Selatan, tinggi megah batu di puncaknya, ingatlah akan kebesaranmu Menteri Yin – Ien, rakyat selalu melihatmu.” Maka seorang yang memegang kekuasaan di dalam Negara tidak boleh tidak hati-hati, bila ia menyebelah, dunia akan mengutuknya.

(Shi Jing II.4.7.1)

  • Makna & Pelajaran:
    • Pengawasan Rakyat: Posisi seorang pemimpin atau pejabat tinggi (seperti Menteri Yin dalam contoh syair) berada di puncak kepemimpinan yang sangat mencolok, bagaikan batu megah di puncak Gunung Selatan. Seluruh mata rakyat tertuju dan mengawasi setiap tindak-tanduknya.
    • Keadilan & Kebijaksanaan: Pemimpin dituntut untuk senantiasa bertindak adil, jujur, dan berhati-hati. Apabila pemimpin bertindak berat sebelah (memihak/penuh kesewenang-wenangan), hal itu tidak hanya merusak keadilan tetapi juga akan memicu kemarahan dan kutukan publik (dunia akan mengutuknya).

Da Xue Bab X:5

“Sebelum Kerajaan Yin – Ien kehilangan kedaulatannya, laksana di dalam pimpinan Tian / Thian Yang Maha Tinggi” Baiklah orang meneladan Kerajaan Yin – Ien dan insyaf betapa sukar mendapatkan Firman yang mulia itu. Maka dikatakan “yang mendapat (hati) rakyat akan mendapat Negara, yang kehilangan (hati) rakyat akan kehilangan Negara.”

(Shi Jing IV.1.6)

  • Makna & Pelajaran:
    • Pentingnya Memenangi Hati Rakyat: Legitimasi kekuasaan dan kedaulatan sebuah negara/pemerintahan sepenuhnya bergantung pada dukungan dan kehendak rakyat (Mandat Tian).
    • Pelajaran Sejarah: Dinasti Shang/Yin pada mulanya berhasil memimpin dengan gemilang selama mereka selaras dengan kehendak Kebajikan/Tian. Namun ketika mereka mengabaikan dan menyengsarakan rakyat, mandat tersebut dicabut dan kedaulatan mereka runtuh.
    • Prinsip Utama Kekuasaan: Kesimpulan fundamental dari ayat ini adalah bahwa “siapa yang mendapatkan hati rakyat akan memperoleh negara/kekuasaan, sedangkan siapa yang kehilangan hati rakyat akan kehilangan negara/kekuasaan.”

Sejalan dengan hal tersebut, di Kitab Shujing menegaskan pula bahwa Kebajikan penguasa harus berorientasi pada pengayoman rakyat.

Shujing – Tai Shi: “Tian mengasihi rakyat, maka apa yang diinginkan rakyat, Tian pasti mengabulkannya.”

  1. Pelurusan Makna Zhong (Kesetiaan) dalam Bernegara

Sering kali ajaran tentang Zhong (Kesetiaan) disalahgunakan oleh penguasa otoriter untuk menuntut ketaatan buta dari masyarakat. Dalam Rujiao yang murni, Zhong bukan berarti tunduk pasrah tanpa kritis kepada pemerintah.

  • Zhong kepada Kebenaran: Zhong pada hakikatnya adalah kesetiaan kepada ketulusan hati (Zhong Shu) dan prinsip-prinsip Kebajikan.
  • Seorang Junzi (insan kamil) wajib mengingatkan dan menegur penguasa jika penguasa tersebut berjalan di jalur yang salah. Mengingatkan penguasa demi kebenaran adalah bentuk Zhong yang tertinggi.

Hal ini dibahas secara eksplisit dalam Xiaojing (Kitab Bakti) melalui dialog antara Nabi Kongzi dan murid-Nya, Zengzi:

Xiaojing (Bab 15: Jian Zhen / Saling Mengingatkan): Zengzi bertanya: “Apakah anak yang selalu menuruti perintah ayahnya dapat dikatakan berbakti?”

Nabi Kongzi menjawab: “Kata-kata apakah ini! Dahulu, jika seorang Putra Langit (Penguasa) memiliki 7 orang menteri yang berani menegurnya, meskipun ia menempuh jalan yang salah, ia tidak akan kehilangan negaranya… Maka, jika melihat penguasa melakukan ketidakadilan, seorang menteri tidak boleh tidak menegurnya!”

Nabi Kongzi juga memperingatkan bahaya fatal dari ketaatan tanpa kritis dalam Kitab Lunyu XIII: 15:

  • Adipati Ding dari negeri Lu bertanya: “Adakah sepatah kata yang dapat membangun (memakmurkan) negara?”

Nabi Kongzi menjawab: “Perkataan tidak dapat diringkas sedemikian itu. Semuanya pernah mengucapkan,  “Menjadi pemimpin itu sukar, namun menjadi menteri pun tidak mudah. “ Kalau orang benar-benar mengerti sukarnya menjadi pemimpin, bukankah itu berarti sepatah kata dapat membangun negara ?”

Adipati Ding bertanya lagi: “Adakah satu perkataan yang dapat menghancurkan negara?”

Nabi Kongzi menjawab: ” Perkataan tidak dapat diringkas sedemikian rupa. Semuanya pernah mengucapkan, “Sesungguhnya aku tidak senang menjadi pemimpin (penguasa), hanya aku senang karena dalam kedudukan ini, kata-kataku tidak ada yang berani membantah. Jika perkataannya baik dan tidak ada yang membantahnya, bukankah itu baik? Namun jika perkataannya TIDAK BAIK/SALAH dan tidak ada seorang pun yang berani membantahnya, bukankah satu perkataan itu cukup untuk menghancurkan negara?

Analisis Makna dan Kedalaman Filosofis

  1. Bahaya Otoritarianisme dan Ketaatan Buta

Penjelasan utama dari bagian ayat ini adalah kritik tajam terhadap kekuasaan yang otoriter dan sikap ketaatan tanpa kritis (absurd obedience).

  • Ketika seorang penguasa merasa dirinya paling benar dan menikmati situasi di mana tidak ada orang yang berani menegur atau membantahnya (Mò Yú Wéi / 莫予违), ia telah jatuh ke dalam kesombongan moral (Arrogance of Power).
  • Kebijakan atau keputusan politik yang salah, jika tidak disaring oleh kontrol kritis dari para pembantu (menteri/pejabat) dan suara masyarakat, akan dieksekusi begitu saja dan membawa kehancuran nyata bagi negara.
  1. Pelurusan Makna Kesetiaan (Zhong)

Ayat ini membantah pemahaman yang keliru bahwa Zhong (kesetiaan) berarti tunduk patuh tanpa cerna terhadap semua keinginan penguasa.

  • Dalam tradisi Rujiao (Khonghucu), kesetiaan tertinggi seorang menteri atau rakyat bukanlah kepada sosok fisik penguasa, melainkan kepada Kebenaran, Keadilan (Yi), dan Kebaikan (Shàn).
  • Membiarkan pemimpin berbuat salah tanpa berani meluruskan (Jian / 谏) bukanlah bentuk kesetiaan, melainkan bentuk pembiaran yang mencelakakan negara.
  1. Pentingnya Ekosistem Keterbukaan (Kritik Konstruktif)

Nabi Kongzi menekankan pentingnya ruang dialog yang sehat dalam tata kelola pemerintahan:

  1. Pemerintahan yang sehat membutuhkan keberanian dari para pembantu (menteri) penguasa untuk menyampaikan kebenaran (Speak Truth to Power).

 5. Penutup: Penegakan Good Governance Berbasis Ren dan De

Pemerintahan yang baik (Good Governance) dalam perspektif Khonghucu tidak hanya diukur dari kekuatan kontrol politik maupun pembangunan fisik belaka, melainkan dari Pemerintahan Berbasis Kebajikan (De Zheng).

Nabi Kongzi menggambarkan daya ubah dan efektivitas dari kepemimpinan berteladan moral ini melalui dua metafora fundamental di dalam naskah Lunyu:

Metafora Bintang Kutub Utara (Lunyu II: 1)

“Pemerintahan yang berdasarkan kebajikan itu laksana Bintang Kutub Utara (Polaris) yang tetap di tempatnya, sementara bintang-bintang lainnya mengelilinginya.”

Metafora Angin dan Rumput (Lunyu XII: 19)

“Kebajikan seorang pembesar/pemimpin laksana angin dan Kebajikan rakyat laksana rumput. Ke mana pun angin bertiup, ke situlah rumput mengarah.”

Penjelasan dan Makna Filosofis

Kedua ayat di atas menjadi fondasi utama kepemimpinan Khonghucu yang mengedepankan keteladanan moral (De) di atas pemaksaan kekuasaan (Li). Terdapat tiga pilar filosofis utama dari kedua metafora tersebut:

  1. Bintang Utara (Beichen) sebagai Simbol Pusat Moral

Di langit malam, Bintang Kutub Utara menjadi titik acuan stabil yang dikelilingi oleh konstelasi bintang lainnya. Seorang pemimpin sejati harus menjadi tumpuan, kompas moral, dan pilar stabilitas. Pemimpin tidak perlu memburu atau memaksa ditaati; cukup dengan menjaga integritas dan kebajikan dirinya, rakyat akan menaruh rasa hormat serta mengikutinya secara alami.

  1. Kuasa Keteladanan (De) vs. Hukum Pemaksaan

Keteladanan bekerja secara alami bagaikan angin dan rumput, ke mana pun angin kebajikan bertiup, ke arah itulah nurani rakyat merunduk. Sebagaimana ditegaskan dalam Lunyu II:3, “Dibimbing dengan Undang-Undang, dilengkapi dengan hukuman, menjadikan rakyat hanya berusaha menghindari itu dan kehilangan perasaan harga diri. Dibimbing dengan Kebajikan dan dilengkapi dengan Kesusilaan, menjadikan rakyat tumbuh perasaan harga diri dan berusaha hidup benar.”

  1. Prinsip Wu Wei (Memerintah Tanpa Pemaksaan)

Kepemimpinan terbaik tampak seperti “tidak melakukan intervensi berlebihan” (wu wei). Keteraturan sosial dan efektivitas pemerintahan tercipta secara otomatis begitu fondasi moral sang pemimpin telah kukuh dan benar. Keberhasilan tata kelola pemerintahan tidak diukur dari seberapa keras hukuman dijatuhkan, melainkan seberapa kuat kebajikan mampu memancar.

 Implementasi Nyata Kebajikan

Agar nilai kebajikan ini tidak berhenti pada wacana abstrak, penguasa wajib memprioritaskan pemenuhan kebutuhan mendasar rakyat sebelum menuntut kewajiban moral mereka. Mengzi (IA: 7) mempertegas aspek praktis ini:

“Bimbinglah rakyat agar mereka memiliki mata pencaharian yang tetap, peliharalah orang tua mereka, dan besarkan anak-anak mereka. Jika rakyat hidup sejahtera dan aman dari kelaparan, barulah bimbing mereka pada Kesusilaan dan Keadilan.”

 Kesimpulan

Meluruskan pemahaman ayat-ayat suci ini sangat penting agar ajaran Rujiao tetap menjadi penerang moral yang independen, jernih, dan tidak terdistorsi oleh kepentingan politik praktis. Dengan menempatkan Tian sebagai Sumber Legitimasi dan Rakyat sebagai Indikator Legitimasi, ajaran Khonghucu memberikan panduan komprehensif bagi terciptanya tata kelola pemerintahan yang adil, bermartabat, dan berlandaskan cinta kasih (Ren).

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *